Wednesday, March 19, 2014

A Dirty Life

Bukan suatu hal yang baru kalau aku harus dikucilkan karena sikapku. Wajarlah, aku cuma seorang anak kecil yang bodoh. Gilanya, aku mampu melakukan apa pun termasuk membunuh.

Bukan sebuah cerita horor tentangku. Melainkan sebuah hiburan yang mampu merenggut nyawa orang yang menyinggung perasaanku.

Sudah berapa kali harus kukatakan, aku ini bukan cewek bodoh yang lemah, bukan salahku bila ku terus mengancam dan memberimu pukulan maut. Tak perlu ditanyakan mengapa aku begini.

Ayahku seorang mavia, dia selalu saja bertingkah seenaknya. Seakan dia Tuhan, entah ajaran baru apa yang dia terapkan. Gilanya, dia harus tercipta sebagai ayahku. Bodohnya ibuku sempat tidur dengannya.

Trauma sempat hadir dalam diriku saat kulihat ibuku terbujur kaku dihadapanku. Apa salahnya sehingga harus mati dengan cara seperti itu. Ayahku tersenyum lebar melihat hal itu. Saat itu ku masih berusia 4 tahun.

Ketika sang dewa maut mencabut nyawa ibuku, aku menangis. Seketika ayahku menggendongku, ku berlindung di bahunya. Bila saat itu ku sudah bisa membunuh, akan kubunuh ayahku.

Bukannya aku gila, tapi ini semua karena keterbiasaanku melihat kematian, yang disebabkan oleh ayahku sendiri. Agh.. aku bingung, kapan waktu yang tepat untukku membunuhnya.

"Shelli.." Teriakan bodoh sang mavia saat memanggilku, ku belum mau membunuhnya, karena tanpanya ku tidak akan punya uang. Ku hanyalah siswi sekolah swasta yang sudah 3 kali keluar masuk panti rehab. Wajar, mabuk-mabukan itu hobiku, ngedrugs sudah kutekuni selama 4 tahun, tapi sekarang ku bisa lepas dari barang haram itu. "Shelli.. Papa sudah bilang, jangan pernah berlaku kasar lagi," "anjing, kenapa papa melarangku?? Aku juga lebih hebat darimu! Uangmu terlalu banyak untuk membayar pengacara, sehingga aku tidak takut berurusan dengan hukum!" Kataku detik itu saat dia mencoba menjadi seorang ayah yang bijak. Ku hanya mendorong temanku saat di sekolah, dia terus menggangguku. Agh.. Aku tidak suka diganggu. Sempat kutabrak temanku saat pulang dari cafe, untungnya dewa kematian sedang tidur, sehingga dia tidak mencabut nyawa temanku itu. Sudah ku bilang. Aku ini pembunuh!

Bola Mata



Selalu tampak bahagia. Hidupku serasa lengkap bersamanya. Bersama dia yang begitu kucintai. Usiaku memang terbilang muda, aku baru menginjakkan kaki pada jejak tahun ke 24ku di dunia ini. Masih muda namun aku merasa hidupku begitu lengkap.

Mereka yang seumuran denganku, banyak yang belum terikat dalam satu tali amanah tuk menjaga hati selamanya. Namun tidak denganku, aku telah menikah. Menikah dengan keadaan terhormat dengan lelaki yang usianya empat tahun lebih tua dariku. Aku sudah menyandang status sebagai seorang istri. Aku sudah punya tanggung jawab berbeda dari sahabat-sahabatku yang belum menikah.

Rasanya sangat bahagia. Takjub, karena kini kumiliknya seutuhnya. Tak ada batasan, tak perlu takut dengan aturan tuk mendekati bahkan berdekatan dengan lebih bahkan sangat lebih. Tak lagi memikirkan resiko bahkan salahkah apa yang kita lakukan. Bagiku ini indah, lebih dari sekedar keindahan remaja yang telah ku lewati.

Kami telah lama pacaran, yah cukup lama bagiku. Tiga tahun. Waktu tiga tahun itu kuhabiskan dengan bersenda gurau, berbagi tentang sikap, kesukaan, bahkan hobi dan juga angan kami ke depan. Semua yang kami utarakan terwujud. Kami berada dalam satu atap, satu pintu, dan satu ranjang.

Seluruh tamu yang hadir saat resepsi kami tersenyum lebar dan tertawa bahagia, semua turut mendukung. Dia lelaki hangat dan santun yang pernah kutemui. Masa pacaran terindah kudapatkan darinya, dan kini pernikan harus menjadi hal yang jauh lebih indah.

Usia pernikahan yang masih dini ini tentu saja perlu dibangun untuk menjadi rumah tangga yang sempurna. Di bangun dengan kasih sayang dan kesetiaan. Aku mendambakan kehadiran seorang anak, namun mungkin belum saatnya. Lagi pula kami bahagia berdua. Menikmati segalanya berdua, serasa pacaran tahap kedua.

"Sayang baunya harum sekali," kata suamiku, Farlan.
"Ini spesial buat kamu, masakanku gak ada duanya," kataku seraya menggoda.
"Luna-ku sayang, dalam hal apapun kamu spesial. Gak ada duanya," mendekap dan mengecup keningku.

Isi rumah ini serasa damai. Aku yakin untuk menikah dengannya, selain karena kita sudah lama kenal, dia mandiri dan juga mapan. Rumah ini dicicilnya jauh sebelum kami menikah. Syukurlah, hanya butuh setahun lagi rumah ini lunas. Dia penuh dengan persiapan. Dia pernah berkata, membahagiakanku bukan hal mudah, butuh proses panjang, dan dia ingin membahagiakanku dengan total, tanpa ada pikiran untuk menyusahkanku. Dia ingin aku sisa duduk manis dalam dekapannya.

Aku tidak berkata dia kaya raya, aku pun tidak menganggap pernikahan kami ini mewah dan kami pasangan kaya. Setidaknya kami bisa saling berbagi. Yah, dia pun mendukung pekerjaanku. Dia senang melihatku berkarir.

Hari-hariku bersamanya terasa begitu hangat. Entahlah, mungkin sindrom pengantin baru. Aku ingin kami begini terus hingga tua. Merasakan bahagia bersama.

***

"Cieh, sobatku," sapa Dina dengan menggoda.
"Kenapa?"
"Gimana nih sama Farlan? Wah, langgeng yah," urainya bahagia.
"Yah, kamu doakan sajalah. Kamu gimana? Kapan mau nyusul?"
"Nantilah, belum dapat yang pas luar dalam," jawabnya dengan nakal.
"Kamu!"

Dina itu sahabatku sejak SMA. Kami sudah lama bersama, dia pun kenal akrab dengan Farlan. Dia sahabatku yang sangat mendukungku dengan Farlan. Dia pun pernah sedikit menggoda, kalau Farlan memang idaman dan buat hatinya pun tergugah tuk diberi pada Farlan.

Yah, bagiku tidak salah. Postur tubuh yang tinggi, alis mata tebal, tatapan tajam, kulitnya yang tidak putih namun tak juga gelap, pesonanya, kuakui dia menarik. Yah, suamiku. Sempurna.

Tiada yang lain. Mata ini hanya tertuju pada Farlan. Hanya dia seorang, aku terus memikul di pundakku, bahwa aku adalah istrinya. Aku punya kewajiban untuknya. Kewajiban untuk selalu menjaga diriku.
Aku dan Dina kini berada dalam satu atap pula, kantor yang sama. Setiap hari bersama berbagi cerita. Sejak SMA kami sama-sama punya ketertarikan dengan fashion hingga memutuskan untuk bekerja di salah satu majalah fashion ternama di kota ini.

Kami selalu berinovasi bersama untuk menciptakan fashion terbaru. Desain yang kami ciptakan pastinya sesuai karakter masing-masing. Tidak jarang aku dan Dina berkeliling untuk mencari referensi gaya terbaru, mengkritisinya, dan mencari solusi untuk menciptakan yang lebih baik dan nyaman.
Menciptakan suatu gaya tentunya butuh riset. Apa yang kami ciptakan bukan semata-mata untuk kami, tetapi untuk orang lain.

Gaya kami memang oke. Saat SMA hingga kuliah, kami terkadang jadi pusat perhatian ketika berdandan saat ke kampus maupun saat SMA. Lengkap dengan aksesoris keluaran terbaru dan tas kami yang gonta-ganti. Bukan berarti kami selebriti kampus yang hanya numpang nge-hedon di area kampus. Sama sekali tidak seperti itu, tapi kami memang di akui cukup fashionable.

***

Malam ini ku terdiam di atas ranjang. Sesekali aku tersenyum sesekali menunduk. Farlan menghampiriku, memelukku, dan kami berciuman.

Ciuman itu begitu hangat, lidahnya terasa menyelami setiap bagian yang ada dalam mulutku, aku merasakan getaran yang luar biasa. Tangannya membelaiku. Ku seka dirinya.

"Kamu kenapa sayang?" tanyanya padaku.
"Aku mau pandangin wajah kamu. Kamu tiap hari makin indah, makin buatku melayang," kataku.
"Sayang, gimana kerjaannya? Baju yang lagi tren untuk sekarang konsepnya gimana sih?"
"Sekarang tuh yah sayang. Majalahku lagi fokus untuk sasaran anak SMA. Pokoknya remaja, jadi konsepnya lebih feminin dengan warna yang soft," kataku.
"Sukses deh mom. Ngomong-ngomong, lama nih kita gak ke bioskop. Nonton yuk!"
"Dengan senang hati cinta."

***

Tiada hari tanpa kata sayang, tiada hari tanpa cumbuan. Semua berjalan begitu indah. Semua kami lewati dengan tawa bahagia. Cinta ini terasa makin besar.

"Tuhan, terima kasih Kau telah kirimkan Farlan untukku."

Laptop dihadapanku terus menyala. Namun ku hanya diam. Khayalan tentang bentuk dan warna sudah tergambar. Namun tak sedikit pun tertoreh di laptop maupun secarik kertas dihadapanku.
Aku merasa membutuhkan Dina. Dia selalu bisa membantuku di saat terjepit tanpa inspirasi dan ide cemerlang. Dia sahabatku yang kreatif. Selalu mampu membantuku. Punya banyak ide dan cara tuk bertahan, bahkan sangat cerdas.

Dia cantik. Senyumnya ramah. Aku menilainya sebagai perempuan manis nan cantik yang terkesan imut.

Aku menang dibentuk tubuh. Aku tinggi, rambutku hitam tergerai panjang dan lembut. Kulitku kuning langsat, mataku sedikit sipit, bibirku tipis, selebihnya biasa saja. Namun banyak yang bilang kalau aku cantik, dan Dina manis.

Dina memang tidak tinggi sepertiku. Tapi dia menarik. Sahabatku.

Kuraih ponsel di dalam tas. Cukup menekan tombol panggilan keluar. Hanya ada tiga nama disana yang selalu menjadi peringkat teratas. Farlan, Mama, dan juga Dina. Dengan segera kuhubungi Dina. Yah, seperti dugaanku. Dia sangat cepat mengangkat telpon. Dia menyuruhku untuk menunggu. Tidak lama lagi dia akan tiba di kantor. Dina sedang berada di optik. Tentunya untuk membeli soft-lense.

Soft-lense memang selalu menghiasi kedua bola matanya. Kerap kali Dina berganti-ganti warna soft-lense. Coklat, abu-abu, hijau, dan juga ungu. Entahlah, sekarang Dina akan membeli warna apa. Apapun itu pastinya sangat cocok dengannya. Warna apapun pas untuknya. Tak lama Dina pun datang. Dengan high-heels pink lembut dia melangkah.

"Kenapa Lun?"
"Bingung nih soal konsepnya, beberapa baju sudah kupasang-pasangkan. Yah, dimatching-matchingin lah untuk pemotretan model nanti. Tapi selebihnya bingung," keluhku.
"Tinggalin aja, nanti biar aku yang kerjain. Kamu pasti capek mikir. Mending istirahat deh,"

Itulah Dina. Rasanya tenang punya sahabat sepertinya. Aku pun beranjak dari kursi. Dina menggantikan posisiku. Dia duduk. Mengibaskan rambut, dan membuka matanya dengan lebar menatap laptop. Spontan.

"Biru yah Din?"
"Hah? Kenapa Lun?"
"Mata kamu?"
"Oh, iya nih. Sekarang pakai warna biru. Keren kan?"
"Iya, birunya bagus. Terang. Pas buat kamu,"
"Biar gelap, mata aku tetap jelas kelihatan. Jadi, kalau kamu nyari aku gelap-gelap. Pasti bakal ketemu kalau aku melek," katanya berusaha ngelawak.
"Kamu, ada-ada aja!"
"Haha, glow in the dark!"

***

Dina kutinggalkan sendiri. Kukatakan padanya aku berjanji pada Farlan tuk cepat pulang. Yah, aku sangat rindu ingin segera pulang. Aku mau jadi yang pertama tiba di rumah. Menyambut kedatangan Farlan dengan senyumanku. Berharap bisa mengobati rasa lelah Farlan.

Jemariku menyentuh gagang pintu. Saat pintu terbuka, sontak aku hampir terjatuh. Farlan mengagetkanku lalu meraih tangan dan tubuhku yang nyaris menyentuh tanah.

"Sayang, hati-hati," katanya.
"Kamu sudah di rumah duluan?"
"Hehe, iya sayang. Tadi pulang cepat. Tahu gak buat apa?"
"Apa coba?"
"Masak buat kamu," jawabnya.

Bibirku merekah tersenyum lebar. Bahagianya, bagiku ini adalah kado. Perasaan ini tak mampu kugambarkan. Aku langsung memeluknya. Ku pikir dia akan marah karena tiba lebih dulu di rumah sebelum aku.

Namun, sama sekali gak ada alasan untuk dia memarahiku. Sebab, aku sudah pulang lebih awal sesuai perjanjian istri setia baginya. Dia pun mendukung kerjaanku, kalau aku lelah dia akan menyuruhku beristirahat dan tidak bekerja. Bila aku harus pulang larut, dia bersedia menjemputku bahkan menemaniku bekerja. Begitupun sebaliknya. Dunia masih milik kita berdua.

"I love you Farlan," kataku.

Senyumnya begitu lembut. Dia menuntunku ke meja makan. Sama sekali tak terbayangkan. Hidangan telah tertata rapi, namun dapur terlihat cukup berantakan. Aku yakin itu karena ulahnya. Mencoba menuangkan ide masakan hingga membuat dapur terlihat tak terurus. Tapi aku suka upayanya. Aku sayang padanya. Padanya yang menaruh bunga di atas ranjang dan senantiasa mengecupku.

Dia memintaku untuk duduk, dia mengambil tas dari tanganku. Farlan meletakkan ta situ di atas sofa. Dia menunduk dan membuka sepatuku, sepertinya dia berencana pulang lebih awal untuk melayaniku, memperlakukanku layaknya Ratu. Dia membantuku membuka jas yang ku kenakan. Dia menyuruhku mencuci tangan dan menarik kursi lalu mempersilahkanku duduk. Manis sekali pernikahan ini.

***

Efek bahagia setelah mencicipi masakan Farlan kemarin. Aku datang ke kantor sambil senyum-senyum sendiri, tidak peduli dengan pandangan sekitar yang akan menganggapku orang gila. Mereka tidak merasakan apa yang kurasa.

Saat langkahku tiba dihadapan laptopku di kantor, Dina sudah duduk manis di sana. Lalu dia berbalik saat melihat aku datang, dia tersenyum lalu memamerkan apa yang sudah dia kerjakan. Aku tidak percaya, semua kerjaanku di selesaikan olehnya. Sahabat yang sangat membantu dan mengerti diriku.
Sepertinya hari ini aku akan lembur, karena besok adalah jadwalku presentasi.

Satu lagi, karena Dina sudah membantuku, hari ini dia harus pulang lebih awal, aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Dia butuh istirahat. Tidak hanya itu, mempersiapkan presentasi besok itu tidak mudah, haruslah sempurna.

Aku mulai menyuruh Dina pindah dari tempatku, aku pun mengucapkan banyak terima kasih padanya.

“Dina, hari ini kamu pulang lebih awal saja. Kamu butuh istirahat ekstra. Biar semuanya saya yang kerjakan sama teman-teman lain,” kataku.
“Lun, gak masalah kalau aku tetap di kantor temani kamu,” katanya dengan begitu baik.

Aku terus membujuknya agar dia pulang lebih awal. Aku tidak enak kalau harus menahannya lagi di kantor dengan begitu lama. Kini giliranku untuk menyelesaikan tanggung jawabku.

Detik demi detik kulewati di kantor bersama teman-temanku yang lain. Satu per satu pekerjaan kuselesaikan. Jas abu-abu yang tadi kukenakan, kini telah kuletakkan rapi di balik kursiku. Lengan tanganku semakin kugulung ke atas mendekati siku. Hal ini kulakukan karena aku merasa semakin gerah mempersiapkan presentasi.

Waktu menunjukkan pukul 23.00, hamper mendekati tengah malam. Aku harus semakin lincah dalam menyelesaikan pekerjaan ini, tidak boleh membuat suami menunggu terlalu lama di rumah walaupun dia begitu mengerti dengan pekerjaanku ini dan telah mengizinkanku pulang larut malam.

Kali ini dia tidak menjemputku. Sudah kukatakan padanya untuk menungguku saja di rumah. Aku tidak ingin membuatnya ikut-ikutan sibuk di tengah kesibukanku, karena dia pun perlu istirahat. Tadi dia membujukku agar aku mau dijemput, namun aku balik membujuk agar dia istirahat. Ku katakan padanya bahwa aku akan pulang sekitar jam 02.00 malam. Tapi keadaan berkata lain, sekarang baru 23.30, pekerjaanku sudah selesai. Dia pasti sedang melihatku tiba lebih awal dari yang kukatakan.

***

Tanpa perlu menghitung hingga ratusan detik, aku sudah tiba di rumah. Entah mengapa keadaan rumah kali ini begitu mistis. Mungkin karena sudah larut. Hanya lampu teras depan yang menyala. Begitu gagang pintu ku pegang, anehnya Farlan tidak mengunci pintu, entah dia lupa atau sengaja agar aku tidak perlu membangunkannya untuk sekedar membukakanku pintu.

Ada satu sepatu yang begitu kukenali di depan sofa ruang tamu, anehnya sepatu ini tidak rapi terletak di rak. Mengapa harus berada di ruang tamu, parahnya itu bukan sepatuku namun begitu kukenali. Hak tipis menghiasi bagian belakang sepatu tersebut.

Kulangkahkan kakiku tepat menuju kamar tidur. Satu hal pasti yang kulihat dari luar, Farlan tidak sendiri dalam kamar. Aku tidak mau menyalakan lampu. Aku tidak mau mengetahui siapa yang menemaninya, bagiku itu sangat sakit. Seperti melukai diri sendiri, menyobek hati sendiri. Lebih baik aku masuk perlahan dan tidak membangunkan mereka.

Rasa tidak percaya menggeluti diriku, rasa marah, ingin menangis, namun di sisi lain, tentang apa semua ini? Apa ini? Mengapa harus seprti ini? Di tengah kuselalu membanggakan dan menyanjungmu dalam setiap paragraf hidup dan hari-hariku.

Kusentuh lengan Farlan, ku tarik tuk benar-benar memastikan bahwa itu dirinya. Yah, tepat sekali, aku tidak salah, dari awal kukatakan ini Farlan dan dia tidak sendiri. Anehnya, begitu Farlan kutarik, perempuan itu lebih dulu terbangun dan terkejut langsung melihat ke arahku. Satu yang pasti. Bola matanya, “BIRU!!”

Sunday, November 24, 2013

Lipstik

Merekah merona bagai senja
Melepas dahaga bagai cumbuan
Lelah langkah menepi dan menepis
Sekilas tersilat rona kilau namun redup
Berkicau kata kotor di daun telinga
Rekahannya tak kuasa menggambarkan kegelisahan

Ingin marah namun tak kunjung lepas
Menahan hujat bagai menahan hujan
Namun tak ada pawang yang bisa hentikan hujat
Payungmu tak sanggup lindungi rekahan ini dari hujat

Dipaksa menorehkan merah pada kulit tipis
Berlari ketakutan saat mereka mengejar
Namun tak takut saat Tuhan tahu kulit tipisnya di kunyah

Bolehlah dunia menghujat
Asalkan tidak biarkan rekahan ini mati ditempat
Sudahlah, nikmati saja dulu kulit tipis ini
Renyah gurih bagai kau takkan berhenti

Tidak
Merekah tak berarti menjual semuanya
Dia, terlalu yakin paling benar
Terlalu bersemangat karena dosanya sedikit
Kalaupun rekahan ini bisa bertanda tangan
Sudah pasti dari kemarin tanda tangannya terpajang di kulit tipismu

Adil
Tolong untuk berlaku adil
Atau lipstik ini di hapus?

Halte Bodoh

Kamu tahu tentang halte?
Tempat yang ramai penuh dengan manusia yang berbeda tujuan
Itulah aku
Aku
Hatiku
Pikiranku
Waktuku
Bagaikan halte

Isinya ramai
Tentang wajahmu
Detikmu
Dan kekasihmu

Entah mengapa kekasihmu pun harus tersangkut dalam halte
Tempat penantian ini seperti dipenuhi sarang laba-laba
Ramai olehmu

Ya..
Aku halte
Kamu duduk manis dengan kekasihmu di halte (aku)
Tanpa kau tahu halte ini begitu menyukaimu
Oh..tidak
Halte ini tidak sedang berburu cinta ataupun mau merebut cinta

Kamu manusia yang duduk di halte dan tak kenal waktu
Sekalipun bus tidak akan lewat, kau tetap santai duduk di halte ini

Entah kau duduk sembari ditemani kekasihmu
Atau sejenak telponan dengan kekasihmu
Sebagai halte tempat penantian
Menantimu memahami aku suka kamu

Okelah buang saja aku bila ada dia
Tapi sejenak ku mohon kau untuk tahu diri
Berhentilah singgah di halteku, walau hanya sekedar tersenyum

Saturday, November 9, 2013

Chipmunk #3

*Kartu Shock

Semalam, duo macan. Yakni sobat aku yang juga bergelut di belahan dunia sama di bumi biru lautan ini membuka pembahasan seputar Vitamin A. Kau tahu, vitamin A itu berguna untuk mata, ketika ada pria menyenangkan dari segi wajah, tentunya jadi vitamin mata. Hmm..

Satu per satu cowok di bahas, mulai dari
dia cakep tapi...
dia tinggi tapi...
dia keren tapi...
dia..
dia..
dia..

Okelah, tidak ada orang sempurna mas bro !

Akhirnya kita mulai dari gosip. Satu cowok dengan tampang oke tapi tidak masuk dalam list vitamin A. Karena wajahnya kadang sedikit menjengkelkan. Tapi....kayaknya dia baik. Sekali lagi, "tapi" menghiasi Chipmunk part 3. Dia cowok dengan inisial "ZO" *dalam fakta tidak demikian* *samaran bin alias* kedapatan bonceng cewek yang peluk erat dia dari belakang beberapa hari sebelum berangkat ke bumi biru lautan. Sudah di duga pastinya, cewek itu lebih dari sekedar teman oleh ZO. Kecuali cewek itu sangat takut sekali jatuh dari motor sampai dia harus memeluk sekalipun itu tukang ojek yang sudah beristri.

Entahlah, tapi selama di bumi biru ini, ZO dekat dengan perempuan lain dan katanya sudah jadian. Secepat itu kah? Padahal tiap malam dia telponan gak jelas. *ciri-ciri orang yang di telpon pacarnya:*

1. Bunyi hape, di cek namanya dulu
2. Pas diangkat, menjauh dari kerumunan manusia
3. Suaranya agak kecil pas bilang halo
4. Pura-pura tuli kalo masih banyak orang di sekitarnya
5. Langsung bilang "sorry sayang, tadi kurang kedengeran :)" *pas na rasa aman mi -,-*

Itu gosip pembuka yang mengantarkan pada kata "CHIPMUNK"

Oke duo macan otak infotainment yang ngomongnyook mistis ini memang wajar kalau bisa menebak dan membaca, lelaki mana yang kini sementara hadir di pikiranku. Oke cuma pikiran, walau kadang bikin deg-degan.

Sepakat bercerita tentang Chipmunk, dan ini merupakan Heart Secret. Oke ku utarakan kalau ada rasa suka. Rasa suka yang masih ada dalam kurung karena tidak di kembangkan. Wajar, hanya rasa suka. Dan normal karena jenis kelaminku perempuan dan yang di suka berjenis kelamin laki-laki.

Tepat setelah curhat. Malam ini kita kumpul. Ada Chipmunk yang lagi main kartu sambil nyanyi-nyanyi. Langsung saja mulai melibatkan diri untuk ikut main kartu. Jangan salah, SAYA CUKUP MAHIR.

Tujuannya mau main bareng. Tapi...

Dia malah minta untuk digantikan tepat saat ku mulai bergabung. Kampreeet. Tapi kamu duduknya jangan jauh-jauh yah Chipmunk, stay closer with my eyes.

Wuiih, dia duduk tepat di depan mataku. Kurang mantap apa coba? Suatu ujian atau anugerah barang yang lagi duduk manis depanku ini?

Karena baru gabung, jadi kebagian buat kocok kartu. Dengan lincah tangan ku mengocok dan juga membagikan kartu. Chipmunk tetep aja duduk manis dengan tatapan seakan berbicara padakuuuuuuH.

Gak lama, salah satu personel duo macan ikut duduk di sampingku dan bahas kita mau nginap dimana? Yah, soalnya besok itu jadwal kepagian. Kenapa di sebut dengan jadwal kepagian? Karena besok itu piket. Subuh mesti siap, jadi harus nginap di tempat yang deket banget sama dapur. Buat masak di bumi biru ini.

Eh, Chipmunk membuka percakapan yang membuat Jack, Queen, dan King Shock.

Macan : Sha, mau nginap di tenda deket dapur nda?
Sasha : Terserah..
Vord (nama samaran teman) : Cewek ndak boleh tidur di tenda !!!!
Chipmunk : Yah, udah Sha. Kamu tidur di rumahku saja :)

OHMAGOT

Rumah lo? Rumah lo serius? Atau rumah kita berdua kelak? Asiiiiikk..ngayal tingkat darurat gak konsen main kartu, Jack mimisan, Queen deg-degan, King keringat dingin, As senyum-senyum sendiri :))

Untung si Macan gak bacrit (banyak cerita). Paling hebat soal bantuin nutupin perasaanku yang sebenarnya, perasaan suka yang baru tumbuh .....

Entah pembahasan ini mengarah kemana, semakin panjang lebar. Parahnya membuat kekalahan berpihak padaku. Mendadak Chipmunk ngomong lagi, tepat pas aku mulai kocok kartu karena kalah.

Chipmunk : Sha, kamu di hatiku aja yah :)

DAFUUUK..kupu-kupu perut ngamuk tingkat dewa, mau terbang...

Vord : Wey, Sha..kenapa kacau sekali caramu kocok kartu?

*as you know, TEGANG*

Chipmunk #2

*Sup Gelas

Mungkin terkesan sengaja ingin mendekati. Tapi bukan itu faktanya. Kamu yang nangkring duluan di tempat kurang strategis ini untuk sekedar merasakan cenat-cenut beleng-beleng. Lebih tepatnya kamu tiduran di ayunan tidak berenda dan berantai ini. Sekali lagi lebih tepatnya, tidak tahu apa namanya ini barang -__-'

Berjalan dari sudut ke sudut menyusuri titik satuan A ke B ke C membawa mie gelas sebagai cemilan. Hari ini memang gelap, iyaaa..terlihat mendung, tapi sorry to say, "my heart shining like a diamond!"

Tidak, aku belum sepenuhnya suka sama kamu. Belum seutuhnya punya rasa normal perempuan terhadap lelaki. Ini cuma sekedar suka, sampai akhirnya kau menegurku untuk minta mie gelas. *emoticon seperti apa yang pas untuk menggambarkan ini?*

"Icip dong Sha,"yah.. Sasha nama panggilanku. Di chapter pertama aku belajar untuk sok misterius, kenapa? Karena gak ada yang boleh tahu siapa yang suka sama Chipmunk. Namanya Chipmunk saja dipalsukan untuk sementara waktu. Mungkin juga dengan nama panggilan ini (shasa). :p

Sangat gila pas dengar doi minta icip. Silahkan di icip. Apa sih gak buat LOE? Mau telan gelasnya juga gak masalah kok. Silahkan. Huaaaaaaaaaaaaaaaah. Agak sedikit gila pas dia menyapa tanpa malu-malu untuk sekedar mencicipi mie gelas. Mie yang di buat di dalam gelas dengan air yang kurang panas. Kurang lebih itulah keadaan mie-nya saat itu.

Setelah dia icip mie gelas ini, dia balik tiduran. Lucunya, anak kecil yang tinggal dekat daerah berwarna biru ini datang dengan imut gangguin Chipmunk. Oh..my God. Ini adalah part yang buat hati meleleh bercucuran. Do you know why?

Suara lembutnya menanggapi gangguan anak kecil menunjukkan kalau dia mungkin bisa jadi ayah yang baik. Mengalah dengan cara tenang dan sopan, daaaan sekali lagi, suaramu menghanyutkan darahku ke dalam tulang yang akhirnya menjadi dingin dan melenyapkanku dalam tawamu.

Tidak lama kemudian, mie gelas yang kuseruput demi seruput habis dari genggamanku. Jujur saja, "masih laparka!" Masih mau makan lebih dari pada segumpalan mie yang dibuat lembek dalam gelas. Akhirnya saya bergegas ke belakang buat isi gelas ini dengan sejenis makanan lain yang bisa buat perutku senyum.

Gelas ini pun akhirnya berisi dengan sup. Perpaduan wortel, kol, buncis, bawang, dan lain-lain yang di rendam dalam air bergaram. Seperti itulah sup. "Gak ada mie, sup pun jadi."

langkah demi langkah, cari posisi paling enak, yakni dekatnya Chipmunk. Dia menyapa lagi. Ïcip supnya dong Sha!"

Yeyeyyeyeyeyyeyeyyeyyeyeyeyyeye...
Mulailah percakapan berisi dari detik ini :))


Thursday, November 7, 2013

Chipmunk #1

*Cinta Komet

Tiba di satu tempat penuh warna dan lautan yang warnanya terlalu indah untuk status jomblo. Bukan suatu penghinaan untuk menjadi jomblo, tapi tempat ini terlalu indah untuk tidak di manfaatkan sebaik mungkin sebagai tempat foto pra wedding. *nyesek dua belas jari*

Sedikit pun tidak terlintas di benang otakku kalau mau suka sama laki-laki ini. Tapi, bisa jadi ajang ini sebagai wahana surat kaleng cinta. Entah kenapa namanya "surat kaleng" baru yang tersebar di mana-mana, suratnya di kasih masuk ke dalam botol. *fakta*

Dia lebih tinggi daripada tubuhku, tapi pastinya mukaku lebih cantik. Dia berjalan cuek dengan senyum tak pasti, mau di bilang muka ceria tidak bisa, muka bahagia juga tidak masuk akal. Kulitnya gelap kayak rembulan tertutup awan hitam. Agak mengkilat-mengkilat. Satu hal yang buat kupu-kupu perutku mengamuk, mulai merasa gele'2, merasa ada yang dingin di hati. Tepat sekali, mulai suka deh sama beliau! *detik-detik ketika masih suka* *tulisan ini bisa berubah atau teralat sewaktu-waktu ketika hati hilang*

Tidak bermaksud menyukaimu lebih jauh, hanya saja sejauh ini kamu menarik. Suaramu yang buat pas pas pas pas pas pas kena HATIIKUUU !!

Ku panggil kau dengan sebutan Chipmunk, dengan harapan inilah panggilan sayangku :p

Kacamata bulat mu seperti Chipmunk, sekalipun kamu tidak mirip sama sekali dengan Chipmunk.

*kisah dua bulan lalu*
#SIMON CHIPMUNK