Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts

Thursday, September 8, 2016

Psikokultural Cinta

Hei, lihatlah aku disini
Aku sedang duduk di sebelah sepasang kekasih yang sepertinya sedang asyik mengerjakan tugas bersama
Mereka saling bersandar, bertukar minuman
Mereka tertawa dan banyak bercakap
Aku tidak mendengar betul percakapannya
Namun pastilah terselip persoalan angan didalamnya

Kau tahu tentang pernikahan?
Hal yang mudah sebenarnya dalam agama
Mengucap janji
Oh tidak..
Bukan sekedar janji
Namun janji itu terdiri dari beberapa bahan baku seperti tanggung jawab, kejujuran, dan juga seks

Itulah realitas pernikahan kita

Kita?
Oh tidak..
Kita belum menikah

Tahukah kau tentang tanggapan banyak manusia tentang menikah?


Faktor psikologis sangat mempengaruhi pengharapan dan dugaan kita dalam bercinta

secara tidak sadar kita memiliki stereotype terhadap lawan bercinta kita yang mempengaruhi harapan dan cara berpikir kita tentang cinta

Adapun etnosentrisme yang merujuk pada tendensi untuk mengidentifikasikan segala sesuatu sebagai kelompok internal kita, misalkan budaya, etnik, dan ras.

Jadilah percintaan bak pelajaran seni budaya yang tidak mengalirkan seni berdasar otak kanan
Melainkan banyak berpikir dengan otak kiri
Ragu melangkah karena etnografi
Terkekang pemikiran buah dari stereotype

Kalian bayangkan saja ketika pernikahan atau bercinta harus didasari oleh suku budaya yang sama?
Sedangkan Tuhan sengaja menciptakan kita berbeda

Kau tahu?
Agar kita bisa merasakan indahnya bercinta berbeda suku
Hahaha
Itu akan menjadi pengalaman yang dapat dituliskan dalam buku etnografi

Dihadapanku ada yang bercakap tentang ribetnya mengusung konsep pernikahan karena perbedaan suku
Menurutku itu hal yang biasa
Banyak yang sudah melakukannya
Hanya saja bagi sebagian besar pasangan ini adalah Forum Diskusi Akbar

Bukankah sangat kreatif dan imajinatif bila pernikahanmu mampu berkreasi dengan menggabungkan dua suku berbeda
Atau lima suku berbeda

Ada pula kasus lain
Tidak jadi menikah karena berbeda suku
 Sebelum memutuskan untuk jatuh cinta samakan dulu sukumu biar aman haha

Lantas stereotipe macam apa yang membenarkan suku kita lebih baik darinya?
Lantas apa ini?
Jelas-jelas mereka beda kelamin, apakah mesti disamakan juga?
 

Tuesday, October 6, 2015

Kita Belum Tentu Dongeng

Aku sedang berjalan bersamanya
Mengutaran rasa hampir dengan cara yang sama pada orang sebelumnya

Aku kini ditemani olehnya
Berayun dengan musik yang hampir sama dengan nada sebelumnya

Dia pernah mengucap kata sayang yang mungkin jauh lebih indah sebelum bersamaku
Dia pula mungkin pernah yakin dengan apa yang dia jalani sebelum bersamaku

Aku pernah berencana memiliki waktu yang akan kuhabiskan pada orang-orang terdahulu
Dia pun mungkin pernah membangun rencana itu

Aku dan dia kini berdiri di tempat yang sama
Saling menatap tanpa kata
Menaruh harapan dan juga visi yang sebelumnya pernah di taruh pada hati lain

Aku memandangnya terlelap di tubuhku
Aku menyisir rambutnya dengan jemariku
Aku biarkan dia semakin nyenyak
Terus mendengar nafas dan merasakan detak jantungnya

Kala itu ku berpikir, akankah aku menjadi visi terakhirnya?
Akankah dia terus terlelap bersamaku?

Saturday, September 19, 2015

Ruang Tanya

Tanda terbesar yang kau paparkan padaku
Mengeryitkan dahi saat kau melihat kelakuan ini
Kau senyum dalam manjanya sebuah sikap

Pada gorden di sebuah kamar ku mengusap telapak tangan ini
Berharap suatu saat dari luar jendela ku melihatmu masuk ke balik pintu

Setiap uap yang akhirnya mengepul ke udara menjadikanku sandaranmu
Ku dekap hangat hingga tak mampu kulepaskan
Kau bersandar pada dada ini
Seolah menyatu pada satu fisik saja tanpa cela

Tak mampu megukur jarak karena sudah terlalu dekat
Pada sebuah gelas di ruang kecil ini kita berbagi cairan
Pada sebuah sendok di ruang kecil ini kita saling bertukar asupan

Kita beradu pada setiap detik keresahan bila tidak bersama
Kita beradu pada kekuatan untuk menahan ketidakbersamaan

Kau dan aku bertanya pada diri masing-masing
Walau lemari kecil itu menyimpan masa lalu
Lacinya selalu terbuka untuk sebuah rasa yang baru

Berilah sedikit menit dalam darah ini
Agar tidak terhapus pada detik penyesalan

Monday, May 4, 2015

Under Water

Aku tidak tahu berenang
Tapi aku berani menyelam
Menyelam pun tak sendiri
Harus di genggam agar mampu menangkap momen

Aku melihat birunya laut dari monitor
Mengabadikannya lewat lensa
Sengaja tenggelam agar makin dalam merasa
Konon katanya, semakin jauh kau menyelam kau akan melihat kekayaan Tuhan yang menakjubkan dalam laut

Lalu bagaimana dengan menyelamimu melalui genggamanmu?

Banyak yang tidak mau mengambil resiko
Sama halnya denganku
Takut selalu menjadi alasan utama
Hingga akhirnya ku coba berenang perlahan, nafas ku mampu bertahan dalam air sejenak

Mungkin, bila aku terus mencoba menyelam perlahan, berenang perlahan, percaya akan genggamanmu yang menuntunku, aku tidak akan takut lagi

Ini menyenangkan
Bisa berenang bersamamu perlahan

Tepi lautnya mungkin sebagian kotor karena terpaan dan gangguan
Tapi coba kau menyelam
Coba rasakan sendiri

Sekalipun kau tidak bisa berenang
Kalau kau yakin, kau pasti bisa melihatnya tanpa harus menahan nafas terlalu lama

Tuesday, March 31, 2015

Luangku dan Luangmu

Bagai robot yang tak hentinya bergerak
Mesin bekerja cepat
Menghambat pertemuan bahkan tatapan
Menjadikannya inspirasi sebuah tanya dalam imaji

Ketika kau dalam detakan waktu menuju ke jantung
Pacuan cepat tanda lelahmu
Getaran adalah tanda rinduku
Namun sayang mesin ini pekerja keras

Demi luang dalam sebuah ruang
Kuhadirkan kesibukan sesuai denganmu
Kuhadirkan nyanyian sesuai lagumu

Demi luang dalam sebuah lengang
Kesibukanmu selimuti hariku
Lagumu mengalun di telingaku

Luangmu luangku juga
Diselipkan dalam sebuah amplop bergambar hati pada robot yang terus bekerja
Mesin ini berasap hingga mati
Mesin lelah hingga luangnya tersedia untuk kolom istirahat

Bolehkah luang istirahat ini menjadi milik kita?

Cukuplah kau bersandar padaku saat lelah
Aku tak butuh berbincang
Aku tak butuh kau melihatku
Cukup lah kau istirahatkan mesin yang penuh beban itu di sampingku

Izinkan pula luang istirahatku disampingmu
Walau ku tak melihatmu
Setidaknya aku merasakan sentuhanmu

Robot pintar menyemangati langkah ini
Sadarkan akan luang yang masih bisa terus tercipta
Luang itu tercipta karena mengorbankan luang-luang lainnya
Luang itu ada karena diusahakan

Tiada kesibukan untuk mencinta
Yang ada hanya mesin yang berpacu dan lupa istirahat sejenak

Monday, March 2, 2015

Lelaki Fiksi

 Mencari sebuah nama dalam kardus di dalam kamar

Galaunya, tak satu pun nama terlintas untuk dituliskan
Ketika aku harus bermain dalam tokoh palsu buatan manusia, sudah pasti aku akan dikatakan gila

Jalannya singkat tapi perih
Meneteskan darah yang menderu derai

Sebuah nama menjadi acuan atau motivasi
Menjadi drugs saat akan mabuk akan sebuah karya
Menjadi sebuah minuman beracun yang membuat jemari ini melayang menuliskan kegelapan

Benar sekali
Ini gelap
Jelas terasa gelap

Apa yang kuharapkan dari tokoh fiksi?
Haruskah dia dituliskan dalam sebuah kronologi maut?
Layaknya kerasnya persaingan menuju atap sembari membasmi musuh di lantai dasar

Ini tentang cinta
Cinta yang tidak tahu akan dituangkan ke siapa?
Hati ini bisa jadi penuh dengan angin
Berhembus dengan garang hingga jadi tornado
Membutuhkan sebuah nama untuk membuatnya menjadi tenang

Tokoh yang bukan untuk bermain dalam kegelapan
Tapi gelap karena bukan kenyataan
Dia terlalu tampan walau sudah babak belur
Dia terlalu tampan bila itu harus dikatakan sebagai aksi begal dalam istilah kekinian

Menyapa pagi tanpa mentari
Seperti meminum secangkir kopi tanpa kopinya
Namanya saja cangkir kopi

Yah, terima kasih banyak buat tokoh fiksi yang masih membayangi mimpi
Terima kasih buat senyummu dalam animasi
Setidaknya aku menulis!



Thursday, January 1, 2015

Kita Bahagia

Melukiskan mentari pada senyumanmu di ujung sana
Indahnya menepis segala kerisauan hati
Semangatnya menggambarkan perjuangan yang tidak sia-sia
Seakan terbang mengarah pada impian
Terus panjatkan doa pada Ilahi
Terus yakini diri akan janjinya yang selalu pasti

Kita telah berusaha
Meraih mimpi yang jauh di atas sana
Kita telah mencapai titip akhir
Menunggu akhir bahagia yang dibuat olehNya
Kita telah sampai di puncak
Berharap doa dijamah olehNya

Terima kasih Tuhan atas segala senyuman ini
Terima kasih akan arti udara yang Kau beri
Terima kasih Tuhan karena langkah ini masih benar
Kita berusaha tetap pada jalanMu

Ya Allah
Kusandarkan bahuku padaMu
Aku Mencintaimu Ya Allah
Maafkan segala keburukan yang menutupi mataku
Maafkan segala ketamakan yang menyelimuti diri ini

Saat kaki ini telah sampai
Ku janjikan perbaikan diri yang lebih matang
Ya Allah teruslah mengingatkanku akan JalanMu yang begitu sempurna

Kita Bahagia Ya Allah selalu berada dipelukanMu

Monday, December 29, 2014

Dunia Dalam Doa

Merajut sebuah jawaban dalam benih ketidakpastian
Rambutnya tergerai lembut menyusuri awan hitam
Dia enggan berbalik walaupun iya tahu ada jawaban di belakangnya
Masih seperti dulu
Mengkhayalkan hal yang belum terjadi
Masih seperti pada masa itu
Menangis tanpa alasan

Mengetuk sebuah pintu yang tak dikunci
Jemarinya bergetar seraya berada dalam ruang hampa udara
Dia enggan bersuara walau tahu suaranya akan mengeluarkan jawaban
Masih seperti kemarin
Mengasihi diri sendiri tanpa tahu pasti arti kata kasihan
Masih seperti pagi tadi
Lupa akan secangkir susu yang dia tinggalkan

Melangkah menuju lapangan berjeruji
Kakinya terpincang-pincang seolah akan jatuh di titik yang sama
Dia enggan untuk hanya duduk walau dia paham apa yang ada di sana
Masih sama tiada beda
Sadar akan Tuhan tiada dua untuk membantunya

Saturday, September 13, 2014

24 Jam

Aku mencintaimu 24 jam, dalam setiap langkahku hari ini, namun tidak kujamin padamu hari esok, karena bila esok ada, tiada lagi 24 jam.

Waktu bergurau lambat saat kau mulai mendekatiku, harusnya aku lebih dulu tahu kalau ini hanya debu. Sekuat apapun usaha itu, ujung-ujungnya debu juga, terlupakan, diabaikan, ditinggalkan, bahkan hanya sebatas untuk menghiasi timeline dengan status manis.

Cinta 24 jam. Itu yang berani ku pertaruhkan untukmu. Tiada esok tanpa hari ini. Aku tidak butuh kata cinta dalam secarik kertas yang menuliskan perasaanmu akan selamanya padaku, jelas sudah itu bohong, dan tulisan ini akan berubah menjadi '48 Jam' atau '96 Jam'.

Aku berpikir untuk jatuh cinta setiap hari, bukan menjanjikan untuk mencintaimu hari ini hingga esok bahkan sampai mati. Itu sama halnya dengan menjilat kotoran yang tidak mungkin kau atau aku kan lakukan.

Aku mau kau jatuh cinta setiap hari, aku mau aku jatuh cinta setiap hari. Rasa pertama saat menyadari kau menyukaiku, rasa pertama saat kau menyadari hatimu bergetar karena aku.

Bagai kupu-kupu dalam perut, terbang menggelitik hingga rasanya dingin hingga ke ubun-ubun.

Aku tidak mau rasa itu berubah, aku mau kau buatku jatuh cinta setiap hari, dan aku mau membuatmu rindu untuk mencintaiku setiap hari.

24 jam tanpa henti.

24 jam
24 jam
24 jam

Aku mencintaimu 24 jam. Tapi aku bukan mesin yang diciptakan bernyawa selama 24 jam, ada kalanya aku menghilang di menit ke-30 kebersamaan kita. Ada kalanya aku beristirahat di jam ke-16 kebersamaan kita.

24 jam tanpa henti mencintaimu namun penuh dengan aktivitas. 24 jam tanpa henti merindukanmu namun penuh dengan kesibukan. Itulah yang kurasa.

Ini pertanyaanku malam ini.

00.00

Aku tidak mungkin menyapamu tanpa sebab di penghujung 24 jamku, aku tidak mungkin memganggumu di penghujung 24 jammu. Tapi yakinlah, semua itu beralasan. 24 jam berikutnya akan di mulai. 24 jam berikutnya masih tanda tanya, akankah aku atau kamu masih mencintai orang yang sama?

Aku membiarkan mata ini terbuka tanpa sedikitpun memberi alasan di penghujung 24 jam ini. Aku hanya menuliskan keluhku dalam gelap di sudut kamar bersama dekstop anime. Harusnya ini menjadi hal penting ketika kau berada di penghujung rasa cintamu. Harusnya ini menjadi hal yang patut dipertanyakan.

Aku menjawabnya dengan tulisan ini, menjawab pertanyaanku sendiri dengan tulisanku.

Ada apa di pukul 00.00?

Bukankah aku mencintaimu 24 jam?
Dan kita masuk ke jam berikutnya?
Apakah kau masih mencintai orang yang sama?
Masihkah aku di sana?

Lantas kau menjawab,

"Aku mencintaimu 24 jam. Tapi aku bukan mesin yang diciptakan bernyawa selama 24 jam, ada kalanya saya menghilang di menit ke-30 kebersamaan kita. Ada kalanya aku beristirahat di jam ke-16 kebersamaan kita."

Itu tulisanku dalam gelap di sudut kamar ini.

Aku mencoba menjawabnya sendiri.

Lalu aku kini bertanya, masihkah kau bisa membuatku jatuh cinta di 24 jam selanjutnya?

Apakah 00.00 yang kulakukan tak membuatmu bertanya mengapa?

Akankah aku atau kamu siap jatuh cinta setiap hari kepada orang yang sama?

Monday, August 4, 2014

Musim Kelabu

Mentari masih saja menyapa dengan ramah
Berharap angin yang berhembus pagi ini kabarkan senyuman
Sejenak dedaunan kering terbang ke arahku
Mataku lalu terurai senyap seperti senja

Pagi ini seperti ada ombak di teras rumah
Seperti ada gambaran dunia dalam botol plastik di samping dinding pintu
Bagai kemarau panjang namun dingin
Beku dalam tanya besar dalam sebuah impian

Ini langkah penuh tanya yang paling kutakutkan
Meraih segenggam harapan dalam senyumannya

Pelukan ini masih kosong
Dan hanya akan diisi oleh seseorang yang pantas
Bagai bunga di pojok meja di ujung sana
Yang enggan melirik akan masa depan yang masih diam di sampingnya

Seraya mengusap keringat di kening ini
Lelah rasanya melewati pendulum yang tak berhenti berdetak
Kalau saja ini mimpi, nyatakanlah
Namun ini kenyataan, utarakanlah

Aku masih bingung dengan otakku yang sibuk menerka sikap
Takut akan benang merah yang mempertemukan kita yang bisa jadi menghancurkan kita
Harusnya ku biarkan saja agar bel itu jatuh dan tak bunyi lagi
Harusnya ku hancurkan saja pintunya agar tiada lagi yang datang mengetuknya
Biar jadi satu alasan untuk menjauh dalam hidupmu

Musim kelabu, samar-samar tapi nyata
Andaikan mereka bertanya tentang impian, sudah pasti akan kujawab
Tapi mereka bertanya tentang kekinian
Di saat kita sedang menari bersama dan tak tahu akan mengakhiri tarian ini seperti apa

Aku tidak mau jadi malaikat yang tersenyum lalu menjauh
Aku pun tak mau kau begitu
Kita tidak banyak menghabiskan minuman di hadapan kita
Tapi kita tak jua berbicara akan masa depan
Kita hanya tertawa lalu pulang dengan harapan
Kita tidak tahu pasti kapan kita akan duduk berdua

Karena Sejak Itu Kamu!

Bayangkan jalan yang kau tempuh di sana sama persis dengan apa yang ku lalui
Ingatlah satu tempat kembali yang letaknya tak jauh dari dirimu
Sayang sekali ketika kesadaran ini menjadi tempat untuk menangis

Yah,
Aku tahu mereka makin menggila mempertanyakan tentang ini
Kadang tingkat rasional dalam diri ini menjadi buta untuk menjawab
Sering kali hanya sebatas batu yang diam namun menyakitkan

Kerasnya tidak terhalangkan
Kamu tahu kan saat kita duduk berdua di tangga kecil itu, ada sebuah tanya menghantui yang membuatku merona
Seiring waktu aku akan menjawabnya dengan serius
Aku hanya sedang tidak baik-baik saja
Manakala bintang pun enggan memberikan kerlipnya pada senyum yang kutorehkan
Senyumku boleh jadi kau tolak

Kadang mereka melebih-lebihkan sesuatu yang tidak akan kulebihkan
Kadang pula aku malah tampil berlebihan untuk menjadi nomor satu
Sejak saat itu aku sadar kalau kamu ada
Kamu menapaki waktu kosong itu bersamaku
Yang jelas kunilai hanya sebagai titik perkenalan

Sesaat aku terdiam ketika memulai percakapan serius
Masih saja bergulat dengan masa lalu
Aku tak langsung menatapmu yang ada di hadapanku
Hanya saja aku menjadi optimis

Karena sejak itu aku sadar
Kamu sudah hadir lebih awal
Memang sengaja menjaga perasaan
Dan kamu ada

Karena sejak saat itu
Kamu!

Belajar Mengenal dan Menghargai (Pencari Tuhan)

Ini terjadi ketika saya duduk di bangku SD. Bukan hal baru bagi saya terhadap pertengkaran di lingkungan teman. Sering kali saya menjadi objek untuk tingkah jahil dan ejekan seputar kisah cinta anak SD. Saya pernah amat membenci teman saya, kerjanya hanya mengganggu dan gemar menyontek. Saat itu menyontek adalah perbuatan tercela di masa SD. Berbeda ketika jenjang pendidikan semakin tinggi. Kita semakin lupa akan pengawasan Tuhan pada kita. Justru, ketika kita tidak menyontek akan di anggap terlalu serius dalam belajar, dan ketika tidak memberi contekan, kita adalah makhluk pelit sejagad raya yang harus siap di buli di belakang layar dan di benci teman sekelas.

Saya pernah meminta untuk dipindahkan dari sekolah karena muak dengan sikap teman saya yang nakal. Teman perempuan pun banyak yang suka mengejek saya NORAK. Saya tidak mengerti kenapa, hanya karena saya suka warna "MERAH". Bagi mereka warna ini terlalu menyala dan terkesan norak. Sekarang baru saya paham, tidak semua orang cocok menggunakan warna merah, dan warna itu ternyata menjadi simbol kepribadian, bahkan diartikan berbeda-beda oleh banyak orang.

Saat itu saya sakit hati, tapi saya ada dalam bagian mereka. Saya pun bukan tokoh protagonis di hidup ini, saya bisa mencela apapun yang saya mau. Bahkan mengatakan kalau teman saya itu dari keluarga miskin yang tidak bisa merawat diri. Hal itu pernah saya lakukan di usia SD. Saya tidak merasa bersalah, karena saya pun punya teman yang sering menceritakan keanehan saya di belakang layar. Entah itukah yang dilakukan anak SD? Hanya saja saya adalah tokoh frontal yang berani mengkritik siapa saja depan umum.

Perlahan keinginan saya untuk pindah sekolah itu pudar dan lenyap seketika. Saya masih ingat percakapan Mariesa si anak SD angkuh itu kepada ayahnya.

Saya : Pa, saya mau pindah sekolah!
Papa : Kenapa?
Saya : Saya sering diejek, terus digangguin sama teman cowok, saya biasanya balas tapi mending saya pindah saja. Ada juga temanku yang nakal sekali pa, saya mau pindah saja.

Saat itu papa menjawab dengan bijak.

Papa : Di semua sekolah ada anak nakalnya, dalam satu kelas, ada yang paling cantik, ada yang cakep, ada yang biasa-biasa saja, ada yang paling pintar, ada yang bodoh atau sulit menangkap pelajaran, ada juga yang nakal dan suka diejek dalam kelas. Berteman saja sama siapa saja.

FIX!

Jawaban yang mudah kucerna di usia SD, dan saya menulis ini sambil meneteskan air mata. Akhirnya saya paham.

"Dunia ini diisi dengan berbagai masalah, berbagai tokoh, sikap, dan juga strata sosial. Tujuan satu, untuk belajar menghargai, menguji kita untuk sabar, dan senantiasa bersyukur."

Saya tidak lahir di keluarga kaya, tapi saya mampu tampil dengan berbeda-beda sepatu setiap jalan, saya tidak suka meminta-minta barang atau apapun kepada Papa, karena beliau mengajarkan saya menabung.

Katanya, "kalau kamu mau sesuatu, kamu nabung, bukannya papa gak mau belikan. Tapi kamu harus belajar usaha, kalau target yang kamu mau beli tercapai, rasanya lega dan pasti bangga ke diri sendiri!"

Saya menyesal pernah mengeluarkan kata "miskin" kehadapan teman saya yang juga pernah ikut mengejek saya. Saya kadang merasa, apa dia tidak bercermin sebelum menghina? Tapi pertanyaan itu pertama kali harus ditujukan ke diri sendiri yang sampai detik ini pun belum juga menjadi pribadi yang bijak.

Saya tidak jarang menjadi tokoh yang membuat teman-teman saya tertawa. Saya humoris, saya berani tampil gila. Saya pun adalah perempuan yang senang sekali dengan puisi. Saya berkali-kali tampil membacakan puisi saat SD, dan menjuarai lomba puisi. Saya pun bahagia dengan yang saya jalani dengan ikut menari dan bermain drama saat SD. Kadang pula tampil bernyanyi dalam paduan suara. Saya pun aktif di organisasi pramuka SD. Saya sering ranking 2 dan sulit menggeser teman saya yang hobinya ranking 1.

Saya tidak pernah dimarahi karena nilai jelek.

Saya : Papa, saya dapat nilai 2 pelajaran agama.

Papa saya kaget ketika saya mendapat nilai 2 saat SD. Mungkin beliau berpikir, kurangkah buku yang beliau belikan untuk saya? Bukankah saya sudah di masukkan di TPA?

Jangankan buku tentang agama, saya muntah2 baca buku banyak waktu SD. Saya juga langganan majalah Bobo sampai SMP.

Papa : Kok bisa? Coba papa liat kertas ulangannya! Sudah di bagikan kan?
Saya : Ini pa, saya tidak tahu jawabannya. Banyak pertanyaan tentang hadist.
Papa : Kamu tidak pernah baca buku? Tidak belajar sebelum ulangan?
Saya : belajar
Papa : Coba bawa bukumu kesini!

Awalnya saya takut untuk mengatakan hal jujur persoalan nilai ulangan. Tapi saya paling takut bohong sama orang tua. Semua temanku mungkin pernah saya bohongi, bahkan guru. Itu di usia SD. Tapi tidak pada orang tua. Tepat saat itu juga saya sama papa membahas soal dan isi buku pelajaran agama.

Rasanya lega, dan saya cuma disuruh belajar dan perbaiki nilai di ulangan berikutnya. Teman saya ada yang dimarahi. Tapi tidak dengan saya. Dari kecil mama juga sudah menerapkan sistem diskusi dalam rumah. "Yuk, curhat tentang apapun!" kasarnya kayak gitu.

Saya akhirnya berani cerita apapun, bahkan persoalan di hukum di sekolah.

Saya punya banyak teman akrab yang berbeda keyakinan. Dulu saya bilang ke mereka. Tuhan itu satu, agamanya yang banyak. Tuhan itu satu, tapi nama panggilannya beda-beda.

Saya terlahir di keluarga muslim, jelas sudah saya muslim. Seorang muslim yang banyak tanya. Di TPA, saya pun tidak jarang pulang dalam keadaan menangis, entah karena sendal di curi ataupun berkelahi. Yah, saya pulang dalam keadaan kalah. Tapi saya tetap punya banyak teman di TPA. Tetap punya gang.

Saya benci dengan perkelahian yang diisi dengan sumpah.

"Saya sumpahi ko masuk neraka!"
"Jangko nakal mariesa, masuk neraka ko itu!"
"Di tunggu ko di neraka jahanam kalau ko gangguka!"

Itu mamanya yang ajarin kayak gitu yah?
Terus saya harus ikut-ikutan?

Alhasil..

"Kau itu yang masuk neraka, karena duluan ko gangguka!"
"Biarmi, kayak tong bisako masuk surga!"
"Neraka jahanam kau nah!"

Saya tidak habis pikir dengan kata-kata itu. Yang saya tahu, saya gila karena ikut-ikutan seperti itu.

Tuhan itu seperti ancaman.

Seolah-olah kita ini makhluk yang sengaja diciptakan untuk berdosa. Supaya neraka ada isinya. Sekali lagi saya cuma mengadu.

Saya : Mama, kenapa saya disumpahi masuk neraka? Kalau kita nakal masuk neraka kah?
Mama : Makanya jangan nakal. Sholat. Begitu memang anaknya 'tiiiit' tidak usah di dengar.

Kata SHOLAT!
Ini kata yang mengantarkan pada buku kesekian yang saya baca. Saya membaca hadist dan buku tentang baligh. Intinya, saya baru bisa berdosa kalau saya sudah mulai haid. Itu syarat baligh perempuan. Jadilah senjata baru dalam pertengkaran dunia.

"We Mariesa, masuk neraka ko nah!"

"Tidak nah, karena belum paki baligh, jadi tidak berdosa paki!"

"Iyo?"

Musuhku langsung lumpuh seketika.

Mama selalu mengajarkan saya sholat dan puasa. Saya memang sholat. Tapi puasa saya selalu setengah hari, rasanya menahan lapar itu susah. Dan saya belum baligh, saya baru memulai puasa sehari penuh itu ketika saya duduk di bangku SMP kelas 2, saat saya mulai haid.

Pemahaman saya tentang baligh saat haid membuat saya tidak mau puasa dengan penuh.

Mama sama papa tidak pernah memaksa, dan tidak pernah mengiming-imingi saya kado ketika puasa atau sholat saya full!

Saya belajar untuk mengenal Tuhan dengan ikhlas.

Saya pernah bertengkar hebat seusai pelajaran agama saat SD. Kalau belajar agama otomatis kelas di bagi, yang non-muslim ke kelas lain, yang muslim tetap dalam kelas. Saya bisa mengaji dengan lancar, dan saya berani mengejek teman saya yang belum bisa mengaji.

"Ko ndak di kasi mengaji di mesjid sama mama mu kah?"

Itu ejekan atau pertanyaan?

Seusai pelajaran agama, saya membaca buku teman saya yang non-muslim. Awalnya saya bertanya dengan baik dan sepaham. Semuanya sama, kita sama-sama punya nabi Adam sampai nabi Isa. Di sinilah pertengkarannya. Mereka tegas memperkenalkan Tuhannya, dan saya dengan tegas

"Tuhanmu itu manusia, yang ciptakan dia itu Tuhanku!"

Alhasil saya dimusuhi.Lagi-lagi yah...

Mereka bilang, Tuhanku tidak kelihatan, tidak tahu ada apa tidak.

Sosok Tuhan pertama kali dikirimkan dalam wujud orang tua. Dari yang saya tuliskan, orang tua saya diciptakan untuk pelan-pelan memperkenalkan saya pada sikap Tuhan.

Kita diciptakan beda-beda, dibebaskan mencari langkahnya dan memperoleh kasihnya dengan cara apapun yang Halal dan syar'i.

Tuhanku tidak kelihatan yah?
Kentutmu kelihatan?
Nafasmu kelihatan?
Rasa cinta kelihatan apa dirasakan?

Kenapa kamu tidak bisa melihat darahmu sendiri kecuali ketika kamu berdarah karena luka?
Saking dekatnya darah itu melekat pada tubuh, maka kita tidak bisa lihat.

Begitu pula Tuhan, terlalu dekat. Letaknya di hati, makanya saya tidak lihat, tapi saya rasa. Dan saya takut melukai hati ini, karena di sana ada Tuhan, di sini, di hati kecil.

Saya diciptakan bukan untuk langsung menyembah, tapi memahami. Dengan cara mempertemukan saya dengan orang tua dan teman-teman seperti kalian.

Tuhan saya tidak saya ukir dalam kayu lalu saya sembah, tidak saya buatkan kerangka bunga lalu saya sembah. Dia lebih hebat dari apapun, buat apa di ukir, buat apa di bawakan buah maupun bunga? Toh dia yang ciptakan. Dia tidak meminta saya membayar nafas dan darah. Dia hati kecilku.. Allah SWT.

Perlahan saya paham dan mulai menghargai mereka. Semua butuh proses, kami tetap bersahabat. Semua ada jalannya, Semua agama pun sebenarnya mengajarkan pada kebaikan. Namun ada hal yang lebih indah saya dapatkan di sini. Pelan tapi pasti akan hadir di tulisan saya selanjutnya.

:))

Tuesday, July 29, 2014

Tentang Jatuh Cinta

Hati memang satu. Cuma satu, tapi bisa diisi dengan ribuan orang, rasa, dan masalah.

Lebih dari lidah.
Lidah hanya merasakan empat rasa pasti.
Tapi hati merasakan lebih dari itu, kadang pula bergetar sendiri tidak menentu, hingga pemiliknya pun bingung, rasa apa ini?

Sesekali ku bertanya pada cermin tentang rasa ini.
Dia tertawa menatapku
Dia senyum-senyum sendiri
Dia mengecek wajahnya mulai dari jidat hingga bentuk bibir saat tersenyum
Tak sedikit pun mau menunjukkan keburukan
Dia itu aku dalam cermin.

Itukah jatuh cinta?
Selalu ingin terlihat sempurna?

Salah

Kesalahan besar

Jatuh cinta itu rasa yang tidak bisa digambarkan.

Aku tidak pernah menilai jatuh cinta sebagai hal mematikan untuk diriku, hanya saja ketika harus kutunjukkan kepada orang yang kucintai, cinta itu akan ku takar. Mengapa? Karena aku tidak mau rasa cinta ini habis lalu berubah menjadi perih dan kecewa

Aku lebih bahagia mana kala memendam rasa ini.
Hanya menuangkannya lewat tulisan dan senyuman yang biarlah di nilai dan dirasakan sendiri oleh orang yang kucintai.

Aku tidak pernah memaksakan cinta pada orang yang kucintai.

Aku mencintai seseorang bukan karena dia sudah punya pacar atau belum, tapi karena memang tulus mencintainya.

Aku mencintai seseorang bukan karena dia mencintaiku juga atau tidak. Tapi karena memang aku mencintainya.

Tapi tidak berlaku untuk seseorang yang telah berkeluarga. FIX!

Kadang mereka merasa rugi ketika cintanya harus terpendam dan tak terungkapkan.
Kadang mereka merasa sakit ketika hanya memendam rasa ini sendirian.
Kadang mereka gelisah ketika cintanya tidak terlampiaskan.

Aneh, padahal ini rasa yang indah.
Tiada sedikit pun rugi maupun sakitnya untuk disimpan dan di jaga.

Aku menyimpannya dalam kotak emas yang akan terbongkar isinya kelak pada waktu yang tepat.

Aku akan membuka kotak emas ini bersama orang kucintai.

Isinya lebih dari sekedar harapan, lebih dari sekedar mimpi, semua sudah terpendam lama, dan hanya akan terlampiaskan kepada seseorang yang pantas menerimanya karena sudah terlahir tulus untuk turut menjaga hatinya untukku pula.

Amin.

Tuesday, June 3, 2014

Orang Sakit

Kamu hadir biasa saja. Tanpa menyimak alur cerita.
Kamu tokoh baru dalam sebuah puisi penuh luka.
LUKA DALAM.

Kamu ketawa saja dihadapanku, kamu berusaha memuji dan mendekat.
Tanpa tahu orang yang kau dekati ini adalah orang sakit.
Orang yang pernah jatuh menghadap ke tanah dan tidak lagi mau tersenyum hangat pada lawan jenis. Kecuali sekedar merayu.
Tidak mau serius dan benci serius.
Tak lagi berpikir untuk menjadi seorang perempuan milik laki-laki.
Hanya mau bermain.

Orang sakit ini sempat menyukai seseorang diujung pulau tanpa sadar kalau kamu sudah ada lebih dulu.

Ujung-ujungnya ke kamu. Dia di ujung pulau hanya membuatkan bahagia satu bulan. Setidaknya, orang sakit ini mulai terobati. Namun dia tak merasa itu spesial.

Hingga kamu yang membuat orang sakit ini spesial hanya karena kamu suka dengan orang sakit ini.
Kamu menilai positif orang sakit ini.
Kamu memuji bahkan berani mendekati orang sakit ini.

Sampai kau tahu dia sakit karena apa, kau tetap ada.

Doa Siang Hari

Menyamar jadi orang lain, bermain bersama ribuan kata hingga jenuh tak menentu. Aku tahu aku salah. Hanya memberikan petunjuk tanpa hendak turut bermain. Tapi aku sudah bermain!! Pada bintang yang menggoreskan luka pada setiap pelukan. Hendaknya aku pergi saja dan menangis di atas bantal tanpa diketahui makhluk lain.

Iya, dia memang begitu, sering membuatku menangis. Sering marah padaku, sering membentak, dan tak tahu salahku dimana. Mereka bilang aku berubah, dan dia membunuh karakterku dengan sikapnya. Dia hanya mampu mencaci tindakanku. Sikapku pun salah. Bukankah ini biasa? Sikapnya lebih parah, membentak hingga merobek dan akhirnya aku berlari dengan darah dari kedua belah bibirku. Aku masih ingat saat terjatuh tepat di hadapannya dengan kakinya. Dijatuhkan dengan kakinya. Diinjak bukan terinjak.

Aku hanya menangis lalu memeluk. Ini hanya persoalan pesan yang berbeda cara tangkapnya. Aku sudah minta maaf. Setiap hari aku datang, menunggunya bangun, dan saat dia bangun, dia marah padaku, lalu tidur lagi.

Begitu setiap hari. Hingga akhirnya aku sibuk. Aku punya urusan mendadak. Tepat siang itu, aku terus berdoa. Agar aku baik-baik saja saat dia datang atau aku mendatanginya. Dia katakan padaku Tuhan tidak menolongku saat dia memukulku. Itu salah. Tuhan menolongku dengan keras, tidak lagi dengan cara halus. Bila Tuhan menegurku dengan halus, aku akan bertahan di sampingnya. Tapi Tuhan membentakku agar aku tidak terus menerus sakit.

Dokter itu membujukku untuk curhat, tanpa berkata aku menangis.
Dokter itu bilang.

"Kasihan kamu, kasihan badanmu, kamu cantik!"

Detik itu, aku merasa tidak cantik lagi.

Sederhana Sekali

Sederhana Sekali

Selalu saja kita membayangkan tentang bunga yang berwarna cerah dan bermekaran disekitar kita. Dengan aromanya yang lembut dan menenangkan. Bukankah berlebihan?

Terkadang kita meminta hujan untuk membasahi tanah yang kita injak, namun bukan hujan biasa, namun hujan dengan pelangi yang tidak terlalu deras. Bukankah berlebihan?

Rasanya seperti tidak tahu diri ketika membayangkan dan meminta hal yang mungkin saja tidak pantas hadir untuk kita detik itu, lalu memaksakan rumput untuk menumbuhkan bunga, dan memaksakan awan untuk saling berbenturan agar hujan turun.

Tidak, tidak lagi.

Harusnya kita sabar menanti yang kita mau. Bunga tidak bisa mekar dalam hitungan detik, wanginya pun tidak langsung terasa dalam kedipan mata. Begitu pula dengan hujan, ada di musim tertentu, lokasi tertentu, dan butuh proses.

Mereka memintanya, akupun demikian. Kita mungkin memintanya. Kita tidak sadar akan mentari yang juga menyinari dengan indah. Kita tidak sadar bahwa aroma rumput pedesaan pun menenangkan. Mengapa meminta yang ada tapi belum waktunya?

Indah bukan, saat kita menjalani proses menuju yang kita mau. Jujurlah, kau tetap tersenyum, setidaknya kau tersenyum. Lalu buat apa kau meminta hal yang membuatmu tertawa hingga menitihkan air mata yang tak jelas tetesannya?

Berlebihan.

Sederhana sekali.

Saat kau mau mencoba jadi bagian dari mimpinya. Cobalah dulu, mungkin kau memang telah hadir di mimpinya. Tapi apakah kau mencoba memimpikannya?

Begitu egois ketika terus meminta dan berharap lebih dari apa yang ada sekarang. Lihatlah, ada kelebihan yang kau tak nilai.

Misalkan, senyuman, sapaan, candaan, dan langkahnya untuk menuju tepat dihadapanmu hingga berjalan disampingmu.

Bahagia sekali, sederna sekali.

Mungkin sangat sederhana, genggaman pun tidak ada, apalagi pandangan berarti. Kami hanya melangkah bersama, tidak mau tahu terlalu jauh. Namun kami tersenyum saat bersama maupun tidak.

Friday, May 16, 2014

Berburu Darah

Pemburu..
Yah truslah berburu,mencari mati dengan sesuap nasi. Memaksa seseorang diam lalu mencoba menciptakan keheningan dengan luka. Jelas saja akan hening karena terluka.

Pucat pasih lalu mati.
Mati dipelukan kekasih yang memang berniat membunuhnya sejak awal. Hanya saja dia terlalu baik untuk diam dan menerima kekalahan yang ada. Pasrah lalu membiarkan getah menyetubuhinya. Rasanya enak dan sedikit terlena hingga menangis darah dan jatuh bercumbu oleh tanah.

Kadang harus merasa bahagia.
Lalu merubah kondisinya yang rusak itu seolah-olah bahagia. Penipu!

Jauh lebih hebat dari aktor manapun. Hingga berlagak layaknya teater. Sekali lagi jatuh, lalu menagis sendiri dan memeluk lutut. Kenanglah hati. Kenang saja hati muliamu!!

Mari saling menyakiti, namun menikmati rekahan dan sobekan tubuh. Menyelinap masuk perlahan. Iya, diijinkan untuk masuk dan menyelinap. Namun jangan hingga pelupuk mata mulai tertutup lalu bosan dan menampar.

Iya, bisa jadi bosan. Bisa saja bosan.
Namun faktanya, terus-menerus diulangi.

Buka saja, indah terlihat hingga rambutmu memutih.

Sadarlah akan yang kita perbuat ini.

Berlarilah kasih, berburu darah segar hingga kembali padanya yang kau busukkan dengan sikap kasarmu. Kau paksa dia menuruti maumu. Hinggapi dia, dia pasrah karena merasa nyaman dan telanjur berlumur dosa denganmu.

Itu yang membuatnya berlari padamu. Bukan karena hati tapi tubuh!!

Wednesday, March 19, 2014

Bola Mata



Selalu tampak bahagia. Hidupku serasa lengkap bersamanya. Bersama dia yang begitu kucintai. Usiaku memang terbilang muda, aku baru menginjakkan kaki pada jejak tahun ke 24ku di dunia ini. Masih muda namun aku merasa hidupku begitu lengkap.

Mereka yang seumuran denganku, banyak yang belum terikat dalam satu tali amanah tuk menjaga hati selamanya. Namun tidak denganku, aku telah menikah. Menikah dengan keadaan terhormat dengan lelaki yang usianya empat tahun lebih tua dariku. Aku sudah menyandang status sebagai seorang istri. Aku sudah punya tanggung jawab berbeda dari sahabat-sahabatku yang belum menikah.

Rasanya sangat bahagia. Takjub, karena kini kumiliknya seutuhnya. Tak ada batasan, tak perlu takut dengan aturan tuk mendekati bahkan berdekatan dengan lebih bahkan sangat lebih. Tak lagi memikirkan resiko bahkan salahkah apa yang kita lakukan. Bagiku ini indah, lebih dari sekedar keindahan remaja yang telah ku lewati.

Kami telah lama pacaran, yah cukup lama bagiku. Tiga tahun. Waktu tiga tahun itu kuhabiskan dengan bersenda gurau, berbagi tentang sikap, kesukaan, bahkan hobi dan juga angan kami ke depan. Semua yang kami utarakan terwujud. Kami berada dalam satu atap, satu pintu, dan satu ranjang.

Seluruh tamu yang hadir saat resepsi kami tersenyum lebar dan tertawa bahagia, semua turut mendukung. Dia lelaki hangat dan santun yang pernah kutemui. Masa pacaran terindah kudapatkan darinya, dan kini pernikan harus menjadi hal yang jauh lebih indah.

Usia pernikahan yang masih dini ini tentu saja perlu dibangun untuk menjadi rumah tangga yang sempurna. Di bangun dengan kasih sayang dan kesetiaan. Aku mendambakan kehadiran seorang anak, namun mungkin belum saatnya. Lagi pula kami bahagia berdua. Menikmati segalanya berdua, serasa pacaran tahap kedua.

"Sayang baunya harum sekali," kata suamiku, Farlan.
"Ini spesial buat kamu, masakanku gak ada duanya," kataku seraya menggoda.
"Luna-ku sayang, dalam hal apapun kamu spesial. Gak ada duanya," mendekap dan mengecup keningku.

Isi rumah ini serasa damai. Aku yakin untuk menikah dengannya, selain karena kita sudah lama kenal, dia mandiri dan juga mapan. Rumah ini dicicilnya jauh sebelum kami menikah. Syukurlah, hanya butuh setahun lagi rumah ini lunas. Dia penuh dengan persiapan. Dia pernah berkata, membahagiakanku bukan hal mudah, butuh proses panjang, dan dia ingin membahagiakanku dengan total, tanpa ada pikiran untuk menyusahkanku. Dia ingin aku sisa duduk manis dalam dekapannya.

Aku tidak berkata dia kaya raya, aku pun tidak menganggap pernikahan kami ini mewah dan kami pasangan kaya. Setidaknya kami bisa saling berbagi. Yah, dia pun mendukung pekerjaanku. Dia senang melihatku berkarir.

Hari-hariku bersamanya terasa begitu hangat. Entahlah, mungkin sindrom pengantin baru. Aku ingin kami begini terus hingga tua. Merasakan bahagia bersama.

***

"Cieh, sobatku," sapa Dina dengan menggoda.
"Kenapa?"
"Gimana nih sama Farlan? Wah, langgeng yah," urainya bahagia.
"Yah, kamu doakan sajalah. Kamu gimana? Kapan mau nyusul?"
"Nantilah, belum dapat yang pas luar dalam," jawabnya dengan nakal.
"Kamu!"

Dina itu sahabatku sejak SMA. Kami sudah lama bersama, dia pun kenal akrab dengan Farlan. Dia sahabatku yang sangat mendukungku dengan Farlan. Dia pun pernah sedikit menggoda, kalau Farlan memang idaman dan buat hatinya pun tergugah tuk diberi pada Farlan.

Yah, bagiku tidak salah. Postur tubuh yang tinggi, alis mata tebal, tatapan tajam, kulitnya yang tidak putih namun tak juga gelap, pesonanya, kuakui dia menarik. Yah, suamiku. Sempurna.

Tiada yang lain. Mata ini hanya tertuju pada Farlan. Hanya dia seorang, aku terus memikul di pundakku, bahwa aku adalah istrinya. Aku punya kewajiban untuknya. Kewajiban untuk selalu menjaga diriku.
Aku dan Dina kini berada dalam satu atap pula, kantor yang sama. Setiap hari bersama berbagi cerita. Sejak SMA kami sama-sama punya ketertarikan dengan fashion hingga memutuskan untuk bekerja di salah satu majalah fashion ternama di kota ini.

Kami selalu berinovasi bersama untuk menciptakan fashion terbaru. Desain yang kami ciptakan pastinya sesuai karakter masing-masing. Tidak jarang aku dan Dina berkeliling untuk mencari referensi gaya terbaru, mengkritisinya, dan mencari solusi untuk menciptakan yang lebih baik dan nyaman.
Menciptakan suatu gaya tentunya butuh riset. Apa yang kami ciptakan bukan semata-mata untuk kami, tetapi untuk orang lain.

Gaya kami memang oke. Saat SMA hingga kuliah, kami terkadang jadi pusat perhatian ketika berdandan saat ke kampus maupun saat SMA. Lengkap dengan aksesoris keluaran terbaru dan tas kami yang gonta-ganti. Bukan berarti kami selebriti kampus yang hanya numpang nge-hedon di area kampus. Sama sekali tidak seperti itu, tapi kami memang di akui cukup fashionable.

***

Malam ini ku terdiam di atas ranjang. Sesekali aku tersenyum sesekali menunduk. Farlan menghampiriku, memelukku, dan kami berciuman.

Ciuman itu begitu hangat, lidahnya terasa menyelami setiap bagian yang ada dalam mulutku, aku merasakan getaran yang luar biasa. Tangannya membelaiku. Ku seka dirinya.

"Kamu kenapa sayang?" tanyanya padaku.
"Aku mau pandangin wajah kamu. Kamu tiap hari makin indah, makin buatku melayang," kataku.
"Sayang, gimana kerjaannya? Baju yang lagi tren untuk sekarang konsepnya gimana sih?"
"Sekarang tuh yah sayang. Majalahku lagi fokus untuk sasaran anak SMA. Pokoknya remaja, jadi konsepnya lebih feminin dengan warna yang soft," kataku.
"Sukses deh mom. Ngomong-ngomong, lama nih kita gak ke bioskop. Nonton yuk!"
"Dengan senang hati cinta."

***

Tiada hari tanpa kata sayang, tiada hari tanpa cumbuan. Semua berjalan begitu indah. Semua kami lewati dengan tawa bahagia. Cinta ini terasa makin besar.

"Tuhan, terima kasih Kau telah kirimkan Farlan untukku."

Laptop dihadapanku terus menyala. Namun ku hanya diam. Khayalan tentang bentuk dan warna sudah tergambar. Namun tak sedikit pun tertoreh di laptop maupun secarik kertas dihadapanku.
Aku merasa membutuhkan Dina. Dia selalu bisa membantuku di saat terjepit tanpa inspirasi dan ide cemerlang. Dia sahabatku yang kreatif. Selalu mampu membantuku. Punya banyak ide dan cara tuk bertahan, bahkan sangat cerdas.

Dia cantik. Senyumnya ramah. Aku menilainya sebagai perempuan manis nan cantik yang terkesan imut.

Aku menang dibentuk tubuh. Aku tinggi, rambutku hitam tergerai panjang dan lembut. Kulitku kuning langsat, mataku sedikit sipit, bibirku tipis, selebihnya biasa saja. Namun banyak yang bilang kalau aku cantik, dan Dina manis.

Dina memang tidak tinggi sepertiku. Tapi dia menarik. Sahabatku.

Kuraih ponsel di dalam tas. Cukup menekan tombol panggilan keluar. Hanya ada tiga nama disana yang selalu menjadi peringkat teratas. Farlan, Mama, dan juga Dina. Dengan segera kuhubungi Dina. Yah, seperti dugaanku. Dia sangat cepat mengangkat telpon. Dia menyuruhku untuk menunggu. Tidak lama lagi dia akan tiba di kantor. Dina sedang berada di optik. Tentunya untuk membeli soft-lense.

Soft-lense memang selalu menghiasi kedua bola matanya. Kerap kali Dina berganti-ganti warna soft-lense. Coklat, abu-abu, hijau, dan juga ungu. Entahlah, sekarang Dina akan membeli warna apa. Apapun itu pastinya sangat cocok dengannya. Warna apapun pas untuknya. Tak lama Dina pun datang. Dengan high-heels pink lembut dia melangkah.

"Kenapa Lun?"
"Bingung nih soal konsepnya, beberapa baju sudah kupasang-pasangkan. Yah, dimatching-matchingin lah untuk pemotretan model nanti. Tapi selebihnya bingung," keluhku.
"Tinggalin aja, nanti biar aku yang kerjain. Kamu pasti capek mikir. Mending istirahat deh,"

Itulah Dina. Rasanya tenang punya sahabat sepertinya. Aku pun beranjak dari kursi. Dina menggantikan posisiku. Dia duduk. Mengibaskan rambut, dan membuka matanya dengan lebar menatap laptop. Spontan.

"Biru yah Din?"
"Hah? Kenapa Lun?"
"Mata kamu?"
"Oh, iya nih. Sekarang pakai warna biru. Keren kan?"
"Iya, birunya bagus. Terang. Pas buat kamu,"
"Biar gelap, mata aku tetap jelas kelihatan. Jadi, kalau kamu nyari aku gelap-gelap. Pasti bakal ketemu kalau aku melek," katanya berusaha ngelawak.
"Kamu, ada-ada aja!"
"Haha, glow in the dark!"

***

Dina kutinggalkan sendiri. Kukatakan padanya aku berjanji pada Farlan tuk cepat pulang. Yah, aku sangat rindu ingin segera pulang. Aku mau jadi yang pertama tiba di rumah. Menyambut kedatangan Farlan dengan senyumanku. Berharap bisa mengobati rasa lelah Farlan.

Jemariku menyentuh gagang pintu. Saat pintu terbuka, sontak aku hampir terjatuh. Farlan mengagetkanku lalu meraih tangan dan tubuhku yang nyaris menyentuh tanah.

"Sayang, hati-hati," katanya.
"Kamu sudah di rumah duluan?"
"Hehe, iya sayang. Tadi pulang cepat. Tahu gak buat apa?"
"Apa coba?"
"Masak buat kamu," jawabnya.

Bibirku merekah tersenyum lebar. Bahagianya, bagiku ini adalah kado. Perasaan ini tak mampu kugambarkan. Aku langsung memeluknya. Ku pikir dia akan marah karena tiba lebih dulu di rumah sebelum aku.

Namun, sama sekali gak ada alasan untuk dia memarahiku. Sebab, aku sudah pulang lebih awal sesuai perjanjian istri setia baginya. Dia pun mendukung kerjaanku, kalau aku lelah dia akan menyuruhku beristirahat dan tidak bekerja. Bila aku harus pulang larut, dia bersedia menjemputku bahkan menemaniku bekerja. Begitupun sebaliknya. Dunia masih milik kita berdua.

"I love you Farlan," kataku.

Senyumnya begitu lembut. Dia menuntunku ke meja makan. Sama sekali tak terbayangkan. Hidangan telah tertata rapi, namun dapur terlihat cukup berantakan. Aku yakin itu karena ulahnya. Mencoba menuangkan ide masakan hingga membuat dapur terlihat tak terurus. Tapi aku suka upayanya. Aku sayang padanya. Padanya yang menaruh bunga di atas ranjang dan senantiasa mengecupku.

Dia memintaku untuk duduk, dia mengambil tas dari tanganku. Farlan meletakkan ta situ di atas sofa. Dia menunduk dan membuka sepatuku, sepertinya dia berencana pulang lebih awal untuk melayaniku, memperlakukanku layaknya Ratu. Dia membantuku membuka jas yang ku kenakan. Dia menyuruhku mencuci tangan dan menarik kursi lalu mempersilahkanku duduk. Manis sekali pernikahan ini.

***

Efek bahagia setelah mencicipi masakan Farlan kemarin. Aku datang ke kantor sambil senyum-senyum sendiri, tidak peduli dengan pandangan sekitar yang akan menganggapku orang gila. Mereka tidak merasakan apa yang kurasa.

Saat langkahku tiba dihadapan laptopku di kantor, Dina sudah duduk manis di sana. Lalu dia berbalik saat melihat aku datang, dia tersenyum lalu memamerkan apa yang sudah dia kerjakan. Aku tidak percaya, semua kerjaanku di selesaikan olehnya. Sahabat yang sangat membantu dan mengerti diriku.
Sepertinya hari ini aku akan lembur, karena besok adalah jadwalku presentasi.

Satu lagi, karena Dina sudah membantuku, hari ini dia harus pulang lebih awal, aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Dia butuh istirahat. Tidak hanya itu, mempersiapkan presentasi besok itu tidak mudah, haruslah sempurna.

Aku mulai menyuruh Dina pindah dari tempatku, aku pun mengucapkan banyak terima kasih padanya.

“Dina, hari ini kamu pulang lebih awal saja. Kamu butuh istirahat ekstra. Biar semuanya saya yang kerjakan sama teman-teman lain,” kataku.
“Lun, gak masalah kalau aku tetap di kantor temani kamu,” katanya dengan begitu baik.

Aku terus membujuknya agar dia pulang lebih awal. Aku tidak enak kalau harus menahannya lagi di kantor dengan begitu lama. Kini giliranku untuk menyelesaikan tanggung jawabku.

Detik demi detik kulewati di kantor bersama teman-temanku yang lain. Satu per satu pekerjaan kuselesaikan. Jas abu-abu yang tadi kukenakan, kini telah kuletakkan rapi di balik kursiku. Lengan tanganku semakin kugulung ke atas mendekati siku. Hal ini kulakukan karena aku merasa semakin gerah mempersiapkan presentasi.

Waktu menunjukkan pukul 23.00, hamper mendekati tengah malam. Aku harus semakin lincah dalam menyelesaikan pekerjaan ini, tidak boleh membuat suami menunggu terlalu lama di rumah walaupun dia begitu mengerti dengan pekerjaanku ini dan telah mengizinkanku pulang larut malam.

Kali ini dia tidak menjemputku. Sudah kukatakan padanya untuk menungguku saja di rumah. Aku tidak ingin membuatnya ikut-ikutan sibuk di tengah kesibukanku, karena dia pun perlu istirahat. Tadi dia membujukku agar aku mau dijemput, namun aku balik membujuk agar dia istirahat. Ku katakan padanya bahwa aku akan pulang sekitar jam 02.00 malam. Tapi keadaan berkata lain, sekarang baru 23.30, pekerjaanku sudah selesai. Dia pasti sedang melihatku tiba lebih awal dari yang kukatakan.

***

Tanpa perlu menghitung hingga ratusan detik, aku sudah tiba di rumah. Entah mengapa keadaan rumah kali ini begitu mistis. Mungkin karena sudah larut. Hanya lampu teras depan yang menyala. Begitu gagang pintu ku pegang, anehnya Farlan tidak mengunci pintu, entah dia lupa atau sengaja agar aku tidak perlu membangunkannya untuk sekedar membukakanku pintu.

Ada satu sepatu yang begitu kukenali di depan sofa ruang tamu, anehnya sepatu ini tidak rapi terletak di rak. Mengapa harus berada di ruang tamu, parahnya itu bukan sepatuku namun begitu kukenali. Hak tipis menghiasi bagian belakang sepatu tersebut.

Kulangkahkan kakiku tepat menuju kamar tidur. Satu hal pasti yang kulihat dari luar, Farlan tidak sendiri dalam kamar. Aku tidak mau menyalakan lampu. Aku tidak mau mengetahui siapa yang menemaninya, bagiku itu sangat sakit. Seperti melukai diri sendiri, menyobek hati sendiri. Lebih baik aku masuk perlahan dan tidak membangunkan mereka.

Rasa tidak percaya menggeluti diriku, rasa marah, ingin menangis, namun di sisi lain, tentang apa semua ini? Apa ini? Mengapa harus seprti ini? Di tengah kuselalu membanggakan dan menyanjungmu dalam setiap paragraf hidup dan hari-hariku.

Kusentuh lengan Farlan, ku tarik tuk benar-benar memastikan bahwa itu dirinya. Yah, tepat sekali, aku tidak salah, dari awal kukatakan ini Farlan dan dia tidak sendiri. Anehnya, begitu Farlan kutarik, perempuan itu lebih dulu terbangun dan terkejut langsung melihat ke arahku. Satu yang pasti. Bola matanya, “BIRU!!”