Friday, September 13, 2013

Tapal Batas di Utara Indonesia



Indonesia merupakan negara kepulauan. Negara yang memiliki lautan yang sangat luas dan juga kaya akan sumber daya alam. Pesona alam yang disajikan oleh Indonesia pun sangat menawan. Salah satunya pulau terluar di utara Indonesia, yakni Pulau Miangas. Pulau perbatasan Indonesia-Filipina ini terletak di dalam wilayah kecamatan Khusus Miangas, kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Pulau Miangas memiliki legenda yang sangat terkenal.

Legenda tentang peradaban Pulau Miangas. Berawal dari seorang perempuan asal Sulawesi Tengah yang berlabu ke Filipina dan menikah dengan salah seorang pemuda Filipina. Mereka tinggal di Gunung Kulamah, Filipina. Dari atas gunung tersebut, mereka melihat Pulau Miangas ini layaknya kapal. Mereka pun memutuskan untuk berlabu ke Pulau Miangas dengan menaiki seekor ikan hiu. Saat tiba di sana, pulau itu masih kosong. Mereka pun memutuskan untuk tinggal sejenak di Pulau Miangas. Tidak lama, beberapa orang dari Nanusa yang hendak ke Filipina, singgah ke Pulau Miangas, dia menemukan jejak kaki pasangan lalu mencarinya dan membuangnya ke laut. Namun, ikan hiu yang pernah mengantar pasangan tersebut datang menolong dan mengantarkan mereka kembali ke Miangas.

Beberapa orang dari Nanusa datang kembali dan membawa lebih banyak warga dari sebelumnya, hanya saja ia menemukan jejak kaki yang sama. Mereka pun beranggapan kalau jejak kaki itu adalah roh pasangan yang telah mereka buang ke laut. Mereka pun pergi dan membiarkan pasangan tersebut. Sepasang suami-istri itu pun hidup beranak-pinak di Pulau Miangas.

Kata Miangas itu sendiri berarti "menangis", hal itu karena pulau ini letaknya sangat jauh dari jangkauan transportasi laut dan lebih dekat dengan negeri orang, yakni Filipina. Berbeda dengan bahasa Talaud. Arti kata Miangas dalam bahasa Talaud adalah "malu". Konon pada masa lampau, seseorang dari Nanusa beranggapan bahwa Pulau Miangas tidak berpenghuni, saat ia menginjakkan kaki ke Pulau Miangas, ia merasa malu karena Pulau Miangas sudah berpenghuni.

Pulau Miangas memang lebih dekat dengan Filipina, jarak antara Filipina ke Pulau Miangas dapat ditempuh selama dua jam, sedangkan jarak yang akan di tempuh dari Pulau Miangas ke Pulau Sulawesi, butuh waktu tiga hari dua malam.

Namun, perjalanan panjang menuju Pulau Miangas menjanjikan kita akan pemandangan yang sangat indah serta pulau-pulau yang memiliki daya tarik bagi para wisatawan. Salah satu kapal yang selalu melintas hingga merapat ke Pulau Miangas adalah Kapal Perintis. Salah satunya, Meliku Nusa.

Meliku Nusa adalah kapal perintis yang akan mengantarkan kita mengarungi lautan ditemani oleh tiupan angin merdu menyusuri pulau demi pulau hingga tiba di Miangas. Pulau pertama yang akan kita temui saat melewati Kepulauan Sangir adalah Pulau Makalehi. Selanjutnya, Meliku Nusa akan mengantarkan kita ke Pulau Ulu Siau. Pulau kedua yang memiliki pemandangan puncak gunung yang sangat indah. Meliku Nusa pun mulai berlabuh kembali, dan mengantarkan kita menuju pulau-pulau lainnya. Diantaranya, Pulau Tumore, Pulau Kawio, dan Pulau Marore.

Hingga akhirnya kita tiba di Pulau Miangas. Dermaga yang ramai dipenuhi oleh warga Pulau Miangas yang sekedar mengambil barang pesanan mereka dari pulau seberang atau beberapa warga yang menyambut kedatangan sanak saudara mereka, dan juga beberapa warga Pulau Miangas atau pengunjung Pulau Miangas yang akan berlabu ke pulau lain meninggalkan Pulau Miangas menjadikan kaca mata awal kita ketika tiba di Pulau Miangas.

Meliku Nusa hanya menyandarkan kapalnya sekali per dua minggu. Ketika kaki ini melangkah turun dari kapal menuju dermaga Pulau Miangas, deru ombak terdengar begitu ramah menyambut, angin seakan berbisik-bisik mengucapkan kata "selamat datang", lautnya yang begitu biru dan jernih seakan menatap dan menoleh melihat setiap langkah kaki yang mengayun di Pulau Miangas, pasir putih bagaikan aspal yang akan selalu diinjak.

Ketika kita membalikkan badan kita ke arah laut, tampak jelas gradasi warna laut dari pinggir pantai hingga ke tengah laut lepas. Pasir putihnya pun begitu indah, terdapat butiran-butiran berwarna merah dalam pasir.

Satu lagi yang tampak jelas menyambut kedatangan kita di Pulau Miangas. Satu tugu pahlawan yang berdiri dengan kokoh lengkap dengan senjatanya dan semboyan yang kini jadi sejarah, "Biar saya mati di gantung, tidak mau tunduk kepada penjajah." Inilah Tugu Santiago, menjadi simbol NKRI Pulau Miangas. Pahlawan Santiago yang berjuang mempertahankan wilayah Indonesia. Bagi masyarakar Sulawesi Utara, khususnya di kabupaten Talaud, sebutan Santiago tercatat dalam sejarah sebagai ikon perlawanan terhadap kolonialisme sekira tahun 1670-1675. Sebagai nama tokoh (pejuang), Santiago adalah seorang raja di kepulauan Sangihe yang tewas dihukum pancung oleh penguasa VOC.

Oleh karena itu, tidak boleh sebutir pasirpun dikuasai oleh negara asing. Hanya saja, jarak yang begitu jauh antara Pulau Miangas dengan ibukota, membuat proses pembangunan berjalan lambat dan berimbas kepada kesejahteraan warganya.

Pulau perbatasan ini sangat kental dengan adat-istiadat mereka. Menanamkan kearifan lokal dengan terus menerapkan budaya-budaya mereka hingga kini. Satu proses yang harus dilewati saat menginjakkan kaki di sini adalah melakukan pendakian ke Gunung Keramat. Gunung yang terletak di bagian utara Pulau Miangas merupakan

Sampai saat ini pun masih ada tokoh-tokoh adat yang dengan hangat memberikan pemaparan seputar Pulau perbatasan ini. Pulau yang begitu indah ini diisi oleh warga yang menjaga kearifan lokal dan nasionalisme. Mereka sadar betul bahwa mereka adalah warga Indonesia dan patut menjaga budaya Indonesia.

Mayoritas warga Pulau Miangas beragama Kristen Protestan. Keseharian mereka diisi dengan ibadah dan acara adat. Berbagai aturan pun lahir di pulau ini. Diantaranya, melarang warga untuk berkegiatan atau bekerja di Hari Minggu. Hal ini karena Hari Minggu merupkan hari libur dan setiap warga harus memanfaatkan kesempatan ini untuk istirahat, bukan bekerja. Warga tidak boleh ke kebun dan melaut saat Hari Minggu. Bila ada warga yang melanggar, akan diberlakukan hukum pukul tambor. Ini merupakan tradisi adat warga Miangas.

Warga ataupun pendatang yang melanggar akan digiring keliling kampung sambil memukul tambor dan meneriakkan kesalahan mereka. Begitu pula dengan pelanggaran-pelanggaran lain, seperti berhubungan gelap.

Bukan hanya Hari Minggu warga Miangas tidak boleh berkegiatan, melainkan di hari duka. Ketika ada salah seorang warga Miangas atau keluarga yang sedang berduka karena kehilangan sanak saudara, warga Miangas harus menghargai dan turut berduka cita dengan tidak beraktivitas sampai jenazah dimakamkan. Ini merupakan satu wujud penghormatan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Pulau Miangas pun kaya akan kekayaan alam. Hampir seluruh jenis ikan ada di hamparan lautnya. Beraneka kuliner laut bisa tersaji di pulau ini. Begitu pula dengan hasil kebun, seperti kelapa, cengkeh, sagu tanah, talas laluga, daun lelem, dan masih banyak lagi.

Sekalipun kekayaan alam melimpah, warga masih sulit untuk mengolah dan memasarkannya. Wilayahnya yang cukup jauh pun mengakibatkan mahalnya kebutuhan pokok sehari-hari. BBM diharga 25ribu per liter, ketika bahan makanan naik, cabai pun bisa dihargai 1000 rupiah perbiji. Saking sulitnya mengakses bahan pokok dan jauhnya bahan pokok yang harus diantarkan ke Miangas, harus melewati pulau demi pulau.

Penduduk Miangas yang mayoritas nelayan ini pun sulit memperoleh pelayanan di bidang kesehatan. Tidak ada satupun dokter yang mengabdikan dirinya di Pulau ini. Puskesmas seperti bangunan pajangan. Puskesmas lebih sering kosong tanpa pekerja. Warga sulit mendapatkan obat ketika sakit, dan hanya memanfaatkan pengalaman dari warga yang tahu sedikit tentang kesehatan. Hal ini pun diterapkan bagi ibu-ibu yang hendak melahirkan, warga hanya meminta tolong pada pengalaman, bukan bantuan dokter.

Sarana yang ada di Pulau Mingas cukup banyak, namun sumber daya manusianya yang jarang terlihat. Bukan hanya di puskesmas, pendidikan pun layak di sorot. Pulau ini sangat membutuhkan guru yang bisa membangkitkan semangat belajar anak-anak Miangas. Tidak jarang tentara yang bertugas di perbatasan pun turut menjadi guru.

Pulau ini menfaatkan sumber daya matahari untuk sehari-hari. PLTS menjadi andalan para warga Miangas untuk menerangi di malam hari. PLN pun tersedia di sini, listrik akan padam setiap pukul 06.00 WITA hingga 15.00 WITA, dan akan menyala pukul 15.00 WITA hingga 06.00 WITA atau pagi hari. Terkdang pun jadwal pemadaman listrik berubah. Hanya saja kini mulai diupayakan agar para warga bisa menikmati listrik selama 24 jam.

Pulau ini merupakan aset bangsa. Butuh perhatian lebih dan juga binaan agar semakin berkembang dan bisa menjadi ikon Indonesia.

Monday, August 12, 2013

Keindahan Perbatasan, Miangas



Satu pulau yang awalnya pun tidak pernah ku ketahui. Pulau yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh kaki ini untuk melangkah hingga ke perbatasan. Satu perjalanan panjang yang akhirnya membawaku melangkah hingga ke perbatasan Indonesia-Filipina.

Nama pulau ini, Miangas. Artinya "menangis". Tangis mungkin akan menghiasi, karena pulau ini letaknya amat sangat jauh dari Indonesia, dan sangat dekat dengan Filipina. Pulau terluar di bagian utara Indonesia ini tidak hanya menawarkan pemandangan yang menakjubkan, melainkan pengalaman mengharukan.



Aku tidak pernah berkhayal sebelumnya untuk membuat sebuah cerita atau film tentang pulau perbatasan. Bukan karena tidak menarik, namun sudah ada beberapa tulisan bahkan film tentang daerah perbatasan. Tapi kali ini berbeda, sangat sulit menuliskan betapa menariknya dan pentingnya persoalan perbatasan di angkat dalam sebuah tulisan atau mungkin film.

Banyak aspek yang bisa di angkat dan dijadikan topik utama. Hanya saja, rasa bahagia dan kaget ketika melihat keadaan perbatasan membuat jemari ini sedikit ragu untuk menulis. Bukan hal yang miris yang ku peroleh di Miangas, melainkan hal yang berbeda dari artikel-artikel sebelumnya tentang Miangas yang ku baca.

Hal pertama yang memang semestinya di lakukan saat hendak membaca sebuah artikel adalah melihat tanggal atau waktu tulisan tersebut di terbitkan. Inilah yang membuat banyak kesalahan pandangan yang lahir tentang pulau Miangas sebelum kakiku tiba di sana. Miangas tidak seburuk artikel, tidak sebodoh isi artikel, dan Miangas adalah pulau hebat, yang sangat hebat. Mampu mempertahankan kekayaan alamnya dan budaya di tengah jarak pulau yang hanya 2 jam dari Filipina.

Nasionalisme sangat ditonjolkan di sana, budaya timur begitu diutamakan. Adat-istiadat menjadi acuan utama warga Miangas.

Untuk menulis tulisan ini pun rasa bingung meracuniku terus-menerus. Entah harus ku mulai dari mana.

Menempuh perjalanan selama tiga hari dua malam dari Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara. Ketika tiba di Pulau Miangas, mata langsung dimanjakan oleh birunya laut yang begitu bersih. Dermaga di penuhi oleh warga miangas yang hendak bepergian ke pulau lain atau sekedar mengambil bahan pokok yang mereka sudah pesan jauh hari dan di titipkan pada kapal perintis ini.

Lihatlah, betapa sulitnya mereka memperoleh bahan pokok sehari-hari. Semuanya harus di pesan melalui kapal. Saking jauhnya perjalanan yang harus mereka tempuh, dan sulitnya mengarungi lautan dengan kapal perintis yang menjadi harapan warga Miangas. satu per satu tabung gas di turunkan dari kapal, satu per satu karung beras di turunkan dari kapal, dan masih banyak lagi kebutuhan warga yang diturunkan dari kapal.

Pulau ini memiliki kekayaan alam yang luar biasa, rasa syukur yang membuat tanah mereka berlimpah. Hanya saja, pasar tidak ditemukan di sini, begitu pula dengan sawah. Hal itulah yang membuat mereka perlu untuk memesan barang atau kebutuhan sehari-hari melalui kapal.



Harganya pun tidak murah, hanya ikan yang paling murah di sini. Lobster yang begitu mahal di restoran, cukup kau tangkap cuma-cuma di lautan Miangas. Gurita yang begitu sulit kau temui dan terjangkau mahal, cukup kau tangkap cuma-cuma pula di sini. Kau mau melihat Hiu? Mau melihat hewan laut unik lainnya? Menyelamlah, kau akan mendapatkan keindahan yang kau inginkan.

Begitu kau tiba di sini, pasir putih seperti aspal yang menghiasi jalan raya. Batu karang yang unik dan beraneka ragam, seperti batu kerikil bagi mereka. Saat aku tiba di sana, mungkin sangat norak, sangat kelewatan gembira melihat alam. Hingga batu karang dan pasir pun ku bawa pulang saat akan meninggalkan Miangas :)

Friday, June 14, 2013

Maafkan Duri


Rintik hujan yang turun
Seakan memberi duri arti baru
Setiap titik hujan itu
Adalah kebahagiaan
Sinar bulan yang terang
Seakan tanda
Bahwa secerah itulah
Rasa cintamu pada duri
Dalamnya samudera
Seakan pertanda
Sedalam itulah
Sayang yang kau beri

Tapi….
Apa daya suatu duri
Tak ada guna untukmu
Tak pantas kau cintai duri
Pena si duri mengayun di atas kertas
Untuk menuliskan semua ini
Suatu rasa kecewa
Rasa perih untukmu
Tak sadarkah kau?
Tak mengertikah kau?

Rintik hujan kebahagiaan itu
Tak harus untuk duri
Cerahnya rembulan
Bukan pula untuk duri
Untuk duri yang slalu menyakitimu
Membohongimu

Samudera yang luas
Dan kedalamannya tersebut
Hapuskan saja
Tinggalkanlah duri tajam itu

Maafkan duri
Yang menyakitimu
Buang semua perasaanmu
Buang semua tentang duri
Bukalah matamu
Lihatlah duri itu lebih jauh
Dan ketahuilah
Selama ini duri selalu menyakitimu

*image from : google

Untitled

Kupikir…
Semua hanyalah nafas
Yang hanya sekedar berhembus
Melintas, pergi begitu saja..

Tapi…
Saat kusadari kau tak peduli
Dia merasuk
Ku tak tahu, apakah sampai kehati

Walau…
Dia tak sepertimu
Tetapi, dia seakan menggantikanmu
Karena kau seakan tak mau tahu lagi

Dulu…
Hanya kau seorang
Ku pastikan debu itu
Selamanya kau, tapi debu itu menjadi lumpur

Kini…
Ku masih menunggu kepastian itu
Menunggu merpati sampaikan kabarmu
Apakah masih seperti dulu?

Mengapa…
Sejak kepergian itu
Yang ku tahu hanya sejenak
Kau seakan tak lagi mengingatku

Sayang…
Bila nanti kau kembali
Dan ku melepasmu
Mengertilah!

Jujur…
Tak semudah membalikkan telapak tangan
Kurasa itu harus, karena ku lelah
Apakah kau tak sadar?

Dia…
Bukan untuk menggantikanmu
Karena ku menyayangimu, bahkan mungkin mencintaimu
Air mata ini ingin menetes

Ini…
Bagaikan sebuah lirik
Lagu yang sering terdengar
Cinta ini membunuhku

Kasih…
Mungkin ku terlalu baik
Dan kau juga demikian
Tapi, kebaikan itu bukan untuk dijadikan lelucon

Kehangatan…
Sesuatu yang baru kudapat
Sesuatu yang baru kurasakan kini
Sebuah matahari yang selalu menyinariku

Perhatian…
Baru kucoba padamu
Kau beri dengan begitu lembut
Kasih sayangkah itu?

Yakin…
Karena kumau
Tapi ragu terkadang menghantui
Kau tak sepenuhnya

Kadang…
Semua seperti kau tunjukkan
Tapi kurasa tak ikhlas
Hanya sorotan

Hati…
Mengapa bertahan rasa ini?
Ku masih selalu mendabakanmu
Khayalanku sangat berlebih tentangmu

Harapan…
Kau tak begitu
Kau lain
Tapi, tak pasti

Logika…
Berpikir tentu rasional
Bertabrakan dengan hati ini
Dimana kau?

Semua…
Terkadang hanya bualan
Hanya sebuah sensasi
Sakit yang kurasa

Jika…
Memang harus terhenti
Hentikanlah
Akhirilah semua ini

Jalan…
Tak sepanjang khayalan
Sempit sekali
Terhenti seakan lelah

Waktu…
Kuharap terulang
Mengapa harus mengenalmu
Dan dia, adakah tulus?

Cinta…
Aku ingin mengulang
Tapi berat, karena keraguan
Ku ingin kau tunjukkan

Kau…
Hanya dirimu
Yang berbeda, namun tak meyakinkan
Kau tak seperti yang lain dan sebelumnya


Menanti Kematianmu

Saya bingung dengan semua yang kita lewati
Saya pun kadang tidak sadar dengan dirimu
Tapi....
Saya lebih bingung
Kata kotor apa yang pantas terucap untukmu

WC buntu pun buntu untuk berpikir
Kotoran apa yang pantas untuk menggambarkan wajahmu
Sampah pun bingung, karena kau tak lagi bisa didaur ulang.

Mengapa ada orang sepertimu?
Hidup dengan kemarahan dan kesombongan
Kira-kira apa yang perlu dikenang darimu ?
Nisan tak sabar mengukir namamu.

Lekaslah mati wahai kekasih.

Thursday, June 13, 2013

Wadah Pembelajaran Hidup

Satu ruang kultural tak beratap. Serangkaian gambaran hidup terlihat jelas mengalur ke berbagai arah. Jalanan. Satu tempat yang membuat kita mampu berkata bahwa jalanan itu satu kebebasan namun penuh aturan. Tidak hanya aturan dalam berkendara, namun aturan untuk mempersiapkan diri untuk hadir di jalan lahir dengan sendirinya. Segenap persiapan layaknya mengganti pakaian maupun penampilan saat akan keluar dari satu ruang beratap beralaskan karpet mewah dan teduh.

Satu tempat di mana berbagai katakter terlihat berlalu-lalang. Kehadiran jalanan dan kehidupan jalanan tentu saja menimbulkan respon berbeda dari setiap individu.Ada kalanya jalanan jadi satu tempat yang menakutkan bagi mereka yang terlalu negatif dalam menilai jalanan. Entah mungkin kasus penjambretan yang kerap kali ia saksikan saat menonton televisi.

Sebenarnya, jalanan itu mampu melahirkan budayanya sendiri, mampu memberikan gambaran kehidupan berbeda, mampu menciptakan realitas, dan mampu beradaptasi dalam cuaca apapun. Yah, tepatnya tidak beradaptasi, melainkan menerima apapun yang akan terjadi di jalan, bahkan menerima perlakuan apapun terhadap jalanan.

Berbagai fasilitas untuk menunjang kenyaman saat berada di jalanan pun cukup tersedia. Fasilitas itu layaknya trotoar bahkan halte yang digunakan untuk peristirahatan para pengemis di jalanan yang kadang mendapat perlakukan tidak baik karena kehadirannya yang dianggap sangat mengganggu kenyamanan saat berada di jalan. Taman kota pun terfasilitasi bagi mereka yang sejenak ingin beristirahat ataupun menyatakan cinta.

Di tiap sudut jalan ada banyak perbedaan. Kerasnya kehidupan pun tergambar di jalanan. Jalanan bukan tempat aman untuk terus berdiri, namun tempat yang mampu melahirkan sejuta hikmah. Ruang tak beratap ini mampu memberikan inspirasi. Ruang tak beratap ini adalah tempat tinggalnya. Tempat tinggal para pengamen jalanan, pengemis, dan mereka yang frustasi dan berpikir untuk keluar dari ruang beratap.

KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan). Satu wadah untuk mereka. Mereka yang hidup dan belajar tentang hidup lewat jalanan. KPJ yang tidak hanya bernaung di Kota Daeng ini yakni Makassar. KPJ memiliki pusat di Jakarta, bahkan kehadiran KPJ tersebar di tanah air. KPJ yang awalnya dimotori oleh Anto Baret, Iwan Fals, Jabo, dan beberapa seniman sudah ada sejak 1982.

Siapapun dari kalangan manapun bisa gabung di KPJ. KPJ memberikan satu tempat untuk bersosialisasi dan berbagi. Satu wadah yang diciptakan untuk anak jalanan baik yang berpotensi maupun tidak sama sekali.

Tujuan adanya KPJ ini sangat membantu dalam merangkul keberadaan anak jalanan. Bukan mereka yang memilih untuk tidur di ruang beratapkan langit, beralaskan aspal panas, dengan lampu terik di kala siang menyambutnya.

KPJ yang di dalamnya terdapat berbagai usia ini bernaung di Taman Segitiga dan menjadi satu sarana berkumpulnya para musisi entah yang lahir dari jalanan maupun tidak. Berbicara soal musik, KPJ identik dengan musik reggae. Namun tidak menutup diri dengan musik apapun.

Para seniman pun banyak berkumpul dan lahir dari KPJ. Mulai dari seni lukis dan tentu saja musik. Banyak karya yang lahir di sini. Pro-kontra tentunya ada. Bagi mereka yang tidak paham dengan KPJ ini sendiri, pastinya akan memiliki penilaian berbeda dari tujuan pembentukannya.

"Sampai saat ini KPJ masih menampung anak jalanan. Di sini mereka tidak hanya sekedar berkumpul, melainkan di beri pendidikan kecil-kecilan layaknya di ajarkan membaca dan menulis," urai Andhika salah satu anggota KPJ.

Pemerintah pun sangat mendukung keberadaan KPJ, selalu menyupport dan turut memberikan sumbangsi untuk KPJ.

"KPJ ini lebih kepada tempat berbagi dan belajar. Kapanpun dan siapapun bisa mengadakan kegiatan maupun even di sini," tambah Andhika.

KPJ Makassar sendiri yang kini sudah memasuki usia ke-delapan ini kerap kali mengadakan kegiatan amal seraya mengundang talent ataupun musisi yang namanya sudah dikenal maupun tidak. Satu kegiatan charity yang disertai dengan hiburan. Kegiatan yang rutin di setiap tahunnya adalah perayaan ulang tahun KPJ yang jatuh pada 29 Juli.

Bagi KPJ, "setiap orang tidak pernah bermimpi untuk hidup dan lahir di jalanan. Namun, kita bisa belajar banyak hal dari jalanan."

Banyak hal yang diperoleh dan mampu dipelajari lewat keberadaan jalanan. Begitu pun dengan mereka yang menganggap jalanan adalah fasilitas belajar, tidak peduli bahaya yang mengancamnya maupun kecaman dari beberapa pihak yang merasa terganggu dengan keberadaanya.

Mereka. Yah, Mereka. Mereka yang hobi bermain skateboard. Satu olahraga yang mewajibkan luka jadi satu kado saat berlatih.
Dulu, di kota ini ada beberapa komunitas ataupun kelompok pemain skate ataupun mereka yang hobi dan ingin tahu lebih tentang skateboard. Keberadaan beberapa kelompok itulah yang kerap kali menimbulkan konflik. Saling mengejek bahkan mungkin adu skill.

Tapi kini, semua kelompok itu sudah bergabung dalam satu wadah 'Makassar Skateboarding Association (MSA)'. Kini pun mereka yang tergabung di dalamnya sudah seperti saudara, saling berbagi dan berlatih bersama. Mendukung satu sama lain.

"Awalnya, saya secara pribadi tertarik dengan skateboarding saat melihat ternyata orang itu bisa terbang dengan menggunakan papan. Menurut saya olahraga ini sangat keren untuk dipelajari. Berbeda dengan olahraga yang ada pada umumnya, yang tampil dengan seragam sedangkan kami tampil bebas," jelas Wahyudy salah satu anggota MSA.

Kesenangan, tantangan , serta cara berpikir cepat pun diperoleh di sini. Lewat olahraga ini. Di dalam MSA ini pun terdiri dari berbagai usia, mulai dari usia pelajar SMP hingga mereka yang dianggap dewasa. Jalanan jadi satu sarana mereka, jalanan jadi tempat belajar mereka. Tidak heran kalau beberapa orang menilai kehadiran mereka di jalan cukup mengganggu dan ditakutkan dapat merusak fasilitas umum.

Memasang papan bahkan rail (batang besi) di jalan dan mulai berlatih bahkan beraksi. Terkadang mereka kerap kali berlatih di Karebosi dan juga Gedung Olahraga. Namun tempat ini bukan tempat khusus baginya.

"Wajar ketika ada yang menilai negatif bahkan tidak suka. Tapi mau bagaimana lagi? Di sini tidak ada skate-park khusus untuk kita bermain. Bahkan sampai saat ini, kami menganggap olahraga ini layaknya di anak-tirikan padahal banyak peminatnya walaupun kompetisi tetap di adakan," tambah Wahyudy.

Walikota Cup pernah megadakan satu kompetisi skateboarding dan adapun satu kompetisi yang diadakan untuk memperingati ulang tahun skateboarding serentak di seluruh dunia yang jatuh pada tanggal 21 Juni.

"Ada beberapa pihak yang takut kami merusak fasilitas umum, tapi jalanan tempat kami berlatih. Kami berharap adanya fasilitas dan kami pun diakui menjadi salah satu cabang olahraga yang ada di Indonesia," urainya lagi.

Yah, jalanan oh jalanan. Wadah kultural yang melahirkan banyak komunitas bahkan perkumpulan. Banyak pembelajaran yang lahir di sini.

Thursday, March 7, 2013

A Dream

Terbangun dari mimpi, sebuah mimpi yang mengantar kaki ini untuk sengaja menggapainya. Bukan sengaja, tidak untuk sengaja, melainkan terencana, pasti, bahkan mungkin target. Mimpi apa aku semalam? Bertemu seseorang yang kan membawaku pergi, melayang di awan, terjatuh di pelukan pangeran? Standar!

Sudah bosan dengan cerita yang biasa, bosan dengan mimpi yang biasa. Kenapa harus jadi biasa-biasa? Luar biasa itu keharusan. Oh satu keharusan? Satu mimpi yang menjadi keharusan untuk mencapai hasil lebih dari satu.

Puluhan ribu jiwa bisa dengan beraninya mengatakan mimpi-mimpi mereka, tapi separuh dari mereka kebanyakan hanya diam dan pasah ketika mimpi mereka hanya sebatas mimpi. Impian bisa jadi nyata, tidak ada satu pun yang melarang kita bermimpi! Tidak ada, siapa pun mereka.

Kenapa? Mimpimu tidak masuk akal? Terlalu tinggi? Hingga merusak awan? Mencakar langit? Menembus surga?

Justru mereka yang ragu dengan mimpi indah dan keyakinan kita adalah orang yang memiliki mimpi yang terlalu rendah bahkan mungkin rata dengan tanah!

Mimpi harus disadari, di bangun. Mengapa? Kau dari tanah? Merasa rata dengan tanah?
Tepat!
Bangun mimpimu dari dasar, dari tanah hingga mencakar langit.

Aku benci, benci dengan mereka yang meremehkan mimpiku, menyepelehkan usahaku, dan berkata semua itu biasa saja, atau mungkin menganggap tidak masuk akal bahkan tidak akan terwujud.

Apa yang kupijaki kini, kuperbuat kini, inilah nantinya yang akan menjadi pangkuan hidup yang kuyakini menghasilkan lebih dari satu.

A dream be a lot.

Yah, aku benci. Benci dengan mereka yang tertawa sinis, benci dengan mereka yang mengolok-olok. Haruskah?

Sudah sejauh mana langkahmu? Lebih baikkah? Lebih tegaskah?

Sesungguhnya kau mengolok karena kau menyerah, karena kau tak mampu meraih mimpimu, kau putus asa dengan impianmu yang pernah menembus surga.

Tapi ketahuilah, "MIMPI YANG TIDAK KAU PERJUANGKAN, AKAN MENGHANTUIMU SEPANJANG HIDUPMU!"

Tetaplah bermimpi, berusaha mewujudkannya, berdoa, raih dan rasakanlah hasilnya.

#KeepSpirit =))