Showing posts with label realita. Show all posts
Showing posts with label realita. Show all posts

Thursday, September 8, 2016

Psikokultural Cinta

Hei, lihatlah aku disini
Aku sedang duduk di sebelah sepasang kekasih yang sepertinya sedang asyik mengerjakan tugas bersama
Mereka saling bersandar, bertukar minuman
Mereka tertawa dan banyak bercakap
Aku tidak mendengar betul percakapannya
Namun pastilah terselip persoalan angan didalamnya

Kau tahu tentang pernikahan?
Hal yang mudah sebenarnya dalam agama
Mengucap janji
Oh tidak..
Bukan sekedar janji
Namun janji itu terdiri dari beberapa bahan baku seperti tanggung jawab, kejujuran, dan juga seks

Itulah realitas pernikahan kita

Kita?
Oh tidak..
Kita belum menikah

Tahukah kau tentang tanggapan banyak manusia tentang menikah?


Faktor psikologis sangat mempengaruhi pengharapan dan dugaan kita dalam bercinta

secara tidak sadar kita memiliki stereotype terhadap lawan bercinta kita yang mempengaruhi harapan dan cara berpikir kita tentang cinta

Adapun etnosentrisme yang merujuk pada tendensi untuk mengidentifikasikan segala sesuatu sebagai kelompok internal kita, misalkan budaya, etnik, dan ras.

Jadilah percintaan bak pelajaran seni budaya yang tidak mengalirkan seni berdasar otak kanan
Melainkan banyak berpikir dengan otak kiri
Ragu melangkah karena etnografi
Terkekang pemikiran buah dari stereotype

Kalian bayangkan saja ketika pernikahan atau bercinta harus didasari oleh suku budaya yang sama?
Sedangkan Tuhan sengaja menciptakan kita berbeda

Kau tahu?
Agar kita bisa merasakan indahnya bercinta berbeda suku
Hahaha
Itu akan menjadi pengalaman yang dapat dituliskan dalam buku etnografi

Dihadapanku ada yang bercakap tentang ribetnya mengusung konsep pernikahan karena perbedaan suku
Menurutku itu hal yang biasa
Banyak yang sudah melakukannya
Hanya saja bagi sebagian besar pasangan ini adalah Forum Diskusi Akbar

Bukankah sangat kreatif dan imajinatif bila pernikahanmu mampu berkreasi dengan menggabungkan dua suku berbeda
Atau lima suku berbeda

Ada pula kasus lain
Tidak jadi menikah karena berbeda suku
 Sebelum memutuskan untuk jatuh cinta samakan dulu sukumu biar aman haha

Lantas stereotipe macam apa yang membenarkan suku kita lebih baik darinya?
Lantas apa ini?
Jelas-jelas mereka beda kelamin, apakah mesti disamakan juga?
 

Party Minion

Kadang aneh juga ketika mengkhayalkan dunia penuh dengan warna kuning
Tak memiliki arti tertentu bagiku
Hanya sebuah warna biasa yang menurutku lebih melambangkan buah pisang secara dominan

Terima semua langkah dalam lamunan
Senangnya ikut berpesta dalam alunan lagumu
Di atas sebuah kasur putih bertabur mawar kuning versiku kita menari lalu terjatuh
Alangkah indahnya kau mengenakan dalaman kuning itu

Temanmu hadir dalam pesta bernuansa kelabu kekuningan ini
Berteriak tanpa suara
Menjerit karena keasyikan
Duniaku tak lagi sebatas genggaman
Kini bebas berlarian, bernyanyi, lalu terbang ke awan kuning

Rerintik hujan pun bila terkena matahari terlihat kuning versiku

Tuesday, January 13, 2015

Ketulusan Dalam Nyanyian

Selalu saja, membiarkan alunan lagu ini mengapung
Tidak tahu arah akan kemana
Jalannya buntu karena ini tidak nyata
Mencintai harapan yang sebenarnya tidak ada
Hadirnya karakter penuh harapan yang sebenarnya takkan pernah ada

Sempurna bagiku
Tersenyum dalam nyanyian malam
Memberi gambaran tentang kebahagiaan dalam cinta yang tulus
Postur tubuh hingga sikap takkan pernah ditolak
Tanggung jawab menghiasi langkahnya

Namun hal itu tak patut dicintai
Hal itu tidak ada
Hanya sebatas khayalan tulus untuk mencintai
Tapi selalu saja karakter seperti itu menemaniku
Selalu saja menyemangatiku
Membuatku berani melangkah jauh

Langkah pasti dari setiap karakter
Nyata pada akhir cerita
Memberikan kebahagiaan yang terus memayangi walau ending telah di depan mata

Sekilas ku pikir aku sudah gila
Nyatanya iya
Iya, sudah gila

Karakter yang diciptakan terlalu sempurna
Bentuk fisik dan sikap yang terpancar bukan kepalsuan
Sering kali kutemui makhluk nyata disekitarku
Terlihat menarik secara fisik, tapi sikap sungguh mengecewakan

Berbeda dengan karakter ini
Berbeda dengan langkah ini
Karakter ini terlalu sempurna untuk aplikasi dunia nyata

~Otaku~

Thursday, January 1, 2015

Kita Bahagia

Melukiskan mentari pada senyumanmu di ujung sana
Indahnya menepis segala kerisauan hati
Semangatnya menggambarkan perjuangan yang tidak sia-sia
Seakan terbang mengarah pada impian
Terus panjatkan doa pada Ilahi
Terus yakini diri akan janjinya yang selalu pasti

Kita telah berusaha
Meraih mimpi yang jauh di atas sana
Kita telah mencapai titip akhir
Menunggu akhir bahagia yang dibuat olehNya
Kita telah sampai di puncak
Berharap doa dijamah olehNya

Terima kasih Tuhan atas segala senyuman ini
Terima kasih akan arti udara yang Kau beri
Terima kasih Tuhan karena langkah ini masih benar
Kita berusaha tetap pada jalanMu

Ya Allah
Kusandarkan bahuku padaMu
Aku Mencintaimu Ya Allah
Maafkan segala keburukan yang menutupi mataku
Maafkan segala ketamakan yang menyelimuti diri ini

Saat kaki ini telah sampai
Ku janjikan perbaikan diri yang lebih matang
Ya Allah teruslah mengingatkanku akan JalanMu yang begitu sempurna

Kita Bahagia Ya Allah selalu berada dipelukanMu

Monday, December 29, 2014

Dunia Dalam Doa

Merajut sebuah jawaban dalam benih ketidakpastian
Rambutnya tergerai lembut menyusuri awan hitam
Dia enggan berbalik walaupun iya tahu ada jawaban di belakangnya
Masih seperti dulu
Mengkhayalkan hal yang belum terjadi
Masih seperti pada masa itu
Menangis tanpa alasan

Mengetuk sebuah pintu yang tak dikunci
Jemarinya bergetar seraya berada dalam ruang hampa udara
Dia enggan bersuara walau tahu suaranya akan mengeluarkan jawaban
Masih seperti kemarin
Mengasihi diri sendiri tanpa tahu pasti arti kata kasihan
Masih seperti pagi tadi
Lupa akan secangkir susu yang dia tinggalkan

Melangkah menuju lapangan berjeruji
Kakinya terpincang-pincang seolah akan jatuh di titik yang sama
Dia enggan untuk hanya duduk walau dia paham apa yang ada di sana
Masih sama tiada beda
Sadar akan Tuhan tiada dua untuk membantunya

Sunday, November 30, 2014

Saya "Mariesa Giswandhani" #TolakUN Lagi!!

Kali ini beralih ke tingkat SMA. Apa yang seru di tingkat SMA?

Banyak banget kan? Hal yang paling sulit dilupakan, mulai berpikir tentang masa depan, banyak godaan persoalan cinta. Hihihi

SMP juga sih banyak hal lucu soal percintaan organisasi. Haha pengalaman.

Di SMA saya jauh lebih waras, tidak seperti SMP yang nakal bingitz. Pernah bolos juga sih, tapi makin logis alasannya.

1. Tidak suka sama pelajarannya
2. Ngantuk
3, Berlama-lama solat duhur

SMA juga makin sibuk dengan organisasi dan akhirnya belajar untuk lebih bertanggung jawab.

Di SMA, sosok guru banyak sekali. Hampir semuanya baik, hampir semuanya ngajar. Saya suka sekali. Teman-temannya pun pinter-pinter makin menantang untuk belajar. Tapi kok kita tetap saling contek mencontek yah?

1. Kami tidak menyontek di semua bidang pelajaran, hanya yang kami tidak paham atau bukan diri kami.
2. Kami menyontek karena takut tidak mencapai nilai standar kelulusan
3. Kami menyontek karena kami solid! Haha

Terakhir kali saya tidak menyontek hanya saat SD, pendidikan moral yang saya dapatkan di SD itu luar biasa, organisasi saat SD pun yang mengubah makhluk penjijik ini menjadi jorok! Tidak takut kotor dan mulai mudah berbaur.

Hanya saja itu tidak bertahan lama, godaan menyontek luar biasa saat SMP. Kadang saya berpikir, memangnya belajar susah yah? Teman SMP saya ada yang menyontek dalam segala hal. Saya bingung, mau jadi apa? Kalau tidak di kasi contekan sudahlah kita dimusuhi, dibuli, dianggap sok pintar, pelit, dan lain sebagainya.

Menyontek dihalalkan sesama teman, sebagai tolak ukur berbagi. Hasilnya apa? Sama-sama sukses. Haha

Hanya saja, walaupun persoalan PR pun kita menyontek. Berarti kita dirumah memang tidak mengerjakan PR!

Eitss, tunggu dulu, saya hanya menyontek PR Fisika (selalu), Kimia (kadang), dan Matematika (Kadang). Oke FIX!!

Sistem seperti memaksa, tidak mengenali potensi kita. Mau jadi apa sih sebenanrnya kita? Mereka yang menonjol di olahraga dianggap bodoh di kelas, yang menonjol di kelas dianggap bodoh olahraga, dan yang sibuk organisasi dianggap hanya pintar ngomong. Iyakah?

Ada juga yang bisa balance.

Anggapan itu sebenanrnya potensi.

Ada pula istilah begini

"Anak IPS itu nakal!"

Jurusan di SMA di bagi dua, ada IPA dan IPS. Anak IPA adalah anak-anak pintar yang baik. Taik!

Saya anak IPA, main kartu setiap di kelas, pernah bolos, ada teman yang hobinya pacaran terus di sekolah, anak IPA!!

Tidak ada hubungannya sama jurusan, bukankah jurusan itu diciptakan untuk memfokuskan kita akan tujuan dan potensi. Saya memilih IPS. Tapi orang tua menyarankan IPA, dengan alasan lebih universal dan high class. Entah apa patokannya. Padahal beberapa sekolah di Makassar ada juga yang menonjol di IPS.

Terbukti, guru IPS jarang masuk, kalau anak IPA nakal dibanding-bandingkan dengan anak IPS.

Mungkin itu hanya potret di sekolah saya. Masalah besarnya adalah, perlakuan guru yang tidak adil dan tidak sadar potensi. Yang nakal semakin dinakalkan, yang pintar makin pintar. Belum lagi persoalan anak guru nomor satu di sekolah.

Beberapa teman ada sih, anak guru tapi woles, ada juga yang kaku -_-" Kenapa ki fren?

SMA adalah masa gejolak, masa transisi. Mau maju atau mundur, mau gagal atau keren!

Gang makin marak, aksesoris makin oke, style ke sekolah dipaksakan menjadi ciri khas ata identitas seseorang. Padahal ini hanya sekolah lho! *baru sadar setelah kini S1*

SMA jadi ajang keren-kerenan, organisasi pun makin dihargai, makin mandiri, berani dan heboh soal pacar-pacaran. Mulai dari teman yang soleha dan juga solimin *mendzalimi diri sendiri dengan cumbuan maut sang kekasih*

Sekarang kalau diingat, begok yah! Toh masih SMA ko..

Hal itu hanya dipahami beberapa guru, ada guru yang coba membimbing dan mengajar sesuai dengan psikologi anak SMA, ada juga yang menganggap kita mahasiswa yang dilepas kayak anak ayam, mau belajar silahkan tidak juga gak masalah, toh gurunya tetap di gaji.

Saat SMA, saya tidak begitu bermusuhan dengan Fisika, tapi ada musuh baru, namanya KIMIA. Entahlah, barang ini mengerikan. Sekali lagi, "Saya tidak butuh rumus ION untuk meraih cita-cita!"

Hanya saja kali ini berbeda, gurunya mengajar di kelas, dengan sabar mengajarkan. Hanya saja kalau ulangan masih saja menyontek. Kenapa?

Karena Soalnya beda mi dengan yang dipelajari di kelas -_-"

Saat masih dikelas, wuih jago. Pas sampai di rumah, tidak bisa menyelesaikan soal fisika atau kimia sendirian. Kenapa yah?

Sampai sekarang saya masih belum bisa jawab. Sudah ikut les sama Ibu Rina yang sabar menghadapi saya walaupun hampir membuat saya dan teman saya Wanty tinggal kelas karena KIMIA tetap membuat saya tidak bisa mengerjakan soal ini sendirian.

Itu yang membuat ulangan itu wajib hukumnya Menyontek!

Praktek menyontek tingkat SMA pun jauh lebih berkelas. Makin keren, luar biasaaaaaaaa!

Pada saat kelas 3, godaan yang ada bukan cuma Joki UN, tapi juga SNMPTN.

*untung saya bebas tes :p tidak harus SNMPTN

Ujian Nasional pun jadi ajang lucu-lucuan, belajar yang kau kuasai, cek kertas kunci jawaban untuk yang tidak kau kuasai.

Hal yang paling lucu adalah, guru yang setengah mati mengajar akhirnya hanya berpikir tentang rating sekolah, kalau banyak yang tidak lulus kan malu. Mending dikasi kunci jawaban saja, supaya banyak yang lulus.

Tapi parahnya, teman-teman justru banyak yang tidak lulus di Bahasa Indonesia.

Bahasa ibu kita ini memang mengecoh, sumpah demi Allah, soalnya ngaco sekali, kayaki lagi ulang tahun semua pas ujian nasional, dia kerjaiki memang ini barang. Tidak tahu apa maunya!

Jawabannya hampir sama semua, belum lagi ada soal pendapat. Katanya pendapat, tapi pendapat kita harus sesuai dengan kunci jawabannya. Tololnya bukan main, katanya pendapat tidak pernah salah? Toh kan pendapatku yang ko tanya, tapi kenapa harus disesuaikan dengan pendapatmu?

Ujian Nasional ini untuk apa?

Lahan bisnis joki dan makin membuat kita tidak jujur. Hal yang disesalkan adalah, upaya kita selama sekolah tidak dinilai, UN menjadi patokan segalanya.

Di bawah ini saya kutip dari tolakujiannasional.com

Republik ini dibangun oleh orang-orang berani dan peduli

Siapa Soekarno Hatta? Apakah orang yang dirugikan oleh sistem penjajahan? Tidak! Mereka menikmati buah manis pendidikan Belanda

Siapa Tan Malaka & Ki Hadjar Dewantara? Apakah orang yang disingkirkan oleh sistem penjajahan? Tidak! Mereka dibesarkan oleh pendidikan Belanda

Tapi mengapa mereka tidak menikmati saja kemapanan pada jamannya? Tapi mengapa mereka tidak memilih hidup mewah menikmati manisnya hidup?

---

Tersebutlah teman kita, Nurmillaty Abadiah, sekian waktu memendam keresahan melihat praktek joki yang sistematis. Keresahan itu pecah ketika menemui kualitas soal Ujian Nasional yang tidak tepat, diluar materi belajarnya. Ia pun menulis Surat Terbuka Untuk Bapak Menteri Pendidikan.

Apa jawaban Menteri Pendidikan? “Mustahil surat itu ditulis oleh pelajar SMA”. Bukannya menanggapi pesan penting dalam surat tersebut, Pak Menteri justru meragukannya! Tidak percaya pada produk sistem pendidikan yang dipimpinnya sendiri.

Apakah benar tuduhan Pak Menteri? Sama sekali keliru! Nurmillaty Abadiah adalah pelajar SMA Khadijah Surabaya dan benar dialah yang menulis surat terbuka itu.

Siapa Nurmillaty Abadiah? Apakah dia seorang pelajar yang malas belajar? Apakah dia seorang pelajar yang suka mengeluh? Apakah dia seorang pelajar yang bodoh?

Tidak! Ia bukan pelajar yang malas belajar, justru pelajar yang berprestasi. Ia bukan menuangkan keluhan di surat terbukanya, tapi gugatan yang menghujam pada sistem penilaian bernama Ujian Nasional. Bodoh? Ia adalah anggota tim Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan peraih medali perak di tingkat internasional.


---

Balik ke saya lagi, hehe

Pantas tidak sih kita lulus UN kalau jujur?

Saya "Mariesa Giswandhani" #TolakUN

Saya "Mariesa Giswandhani" #TolakUN

Saya mengaku kalau saya fresh graduate. Eyyyaaa.. haha, saya sudah menelan pahit manisnya belajar di Tingkat SD, SMP, dan juga SMA.

Saya sempat kritis ketika Hari Guru yg jatuh 25 November kemarin disanjung oleh kebanyakan penghuni sosial media. Entah apakah mereka memang bahagia dengan semua guru yang mengajarinya. Sorry to say, saya gak! Gak semua kece, gak semua asik, dan gak semua ngajar! gak semua membimbing!!!!!

Iyyalaah..
Saya merasa benar-benar mendapatkan sosok guru itu saat SD. Hampir semua di SD gurunya membimbing!

Tapi, ketika saya masuk SMP, GILAAAAA!!!!

Saya sejak SD berpikir untuk memecah konsep umum tentang siswa(i) pintar itu harus rapi, terkesan cupu, sopan, dan jadi teladan. Masak weh??

Saya saat SMP :

1. Ranking 1 di kelas selama 3 tahun
2. Pernah bolos
3. Pernah Berkelahi
4. Bajunya tidak pernah di masukkan
5. Roknya di atas lutut
6. Selalu pakai sneakers dengan tali sepatu tengkorak
7. Pakai kalung ala-ala Kikan Cokelat dan Ayu Garasi
8. Ketua OSIS
9. Berani sama KAKAK KELAS yang katanya KAKAK!!

---

Okelah, itu hanya opening.

Saya memang punya nilai yang bagus di sekolah, tapi masih banyak yang lebih pintar dan juga preman. Saya benci pelajaran FISIKA so much!

Saya punya cita-cita, saya sekolah tidak mau asal sekolah. Saya rasa fisika tidak masuk dalam kategori mata pelajaran yang akan membantu saya dalam meraih cita-cita. Kenapa saya dipaksa untuk mencetak nilai bagus lewat FISIKA?

Saya punya guru matematika (pria), beliau tepat waktu kalau datang mengajar. Saking tepat waktunya, beliau juga maunya buku itu dihabiskan tepat waktu. Beliau hanya mengejar buku itu habis di ajarkan sesuai BAB. Pernah seketika saya dan teman-teman tidak mengerti materi itu dan meminta agar beliau menjelaskan ulang. Apa jawabannya?

"Kita ini sudah ketinggalan jauh, ini sudah mau ulangan dan masih ada 3 Bab, kita langkahi saja!"

Gilaaaaaaaaaaaaaaaa!!
Etaaang banget gak jawabannya?

Kalau cuma sekedar mau menghabiskan BAB sini bukunya saya bakar!!!!!!!!

Saya benci Matematika saat itu! Padahal saya yakin, saya punya potensi di Matematika, SD pun saya gak begok.

Bersyukurlah saat kelas 2, guru Matematika kelas saya di ganti. Bukan pria itu lagi. Kali ini Ibu Hera :) Beliau ini manis, masih muda dan berjiwa muda. Asik sekali, kadang marah, dan pernah mencubit saya ketika beliau menjadi wali kelas. Wajar sih!

Saya masih ingat, saat itu pelajaran Kesenian, guru Seni saya berkata :

"Nak, kalau memang haus atau lapar gak usah bohong. Banyak sekali saya liat izin buang air kecil padahal ke kantin buat beli roti sama minum terus masuk kelas!"

Itu kata beliau, oke saya praktekkan!

Tepat saat pelajaran Kesenian minggu selanjutnya :

"Bu, izin mau beli minum sama roti!"

Ibu itu langsung kaget. Lalu senyum dan mempersilahkan saya untuk ke kantin!"

Sampainya di kantin. Dengan santai saya jajan apapun yang saya mau, eh.. mendadak Ibu Hera (guru matematika dan wali kelas saya) muncul. Tepat di perut cubitannya luar biasaaaa!!

"Kenapa orang lagi belajar kau di kantin?"

"Ibu, saya sudah izin!"

"Mana ada orang izin ke kantin?"

*Wajar sih, saya nakal di kelas dan pernah bolos. Wajar, sulit dipercaya -_-

Tapi Ibu Hera itu keren sekali, berkat beliau saya jago Matematika saat SMP. Karena beliau mengajar! Saya tekan lagi yah "MENGAJAR".

Tapi sayangnya guru Matematika kelas 1 itu menjadi guru Fisika di kelas 2

Beliau mengajar di kelas saya! Bisa bayangkan jadi apa kami ini? Tidak ada satupun yang bisa mengerjakan soal Fisika. Fakta!!

Saat pertama kali, beliau menanyakan mau beli buku fisika atau tidak. Saya jawab, "Tidak pak!"

Teman pun akhirnya bertanya, kenapa tidak beli buku.

"Percuma ji, nda saya baca ji ongol! Mending saya beli buku lain, kayak tong itu buku mau ko baca, bikin berat-berat tas saja!"

---

Entah apa yang ada di kepala Bapak ini, beliau mengadakan ujian lisan Fisika, Satu per satu di minta kedepan dan memilih soal secara acak. Lalu mengerjakannya di papan tulis.

1. Memangnya kita sudah pernah di ajar yah pak?
2. Memangnya kita sudah paham makanya di kasi ujian?
3. Bapak pernah nanya gak kita ngerti apa tidak tentang buah mangga yang jatuh jaraknya harus dihitung juga? Plis dulueeeeh!

Saya tidur selama saya belum dipanggil. Untung sesuai absen, jadi saya masih sempat tidur. Saya duduk paling depan, selama SMP haram bagi saya untuk duduk di belakang. Beliau tidak menegur saya yang tidur, tapi saat teman saya membangunkan, Bapak itu berkata :

"Teman-teman mu tegang, kamu tenang!"

Yaiyyyaaaalaaah, cincailaaaah...
Tegang atau tidak, saya tetap tidak bisa jawab apapun soalnya. Terbukti, satu kelas dihukum !

Tidak ada yang bisa jawab. Salah siapa? Salahku?

Saya pernah ranking 1 dengan nilai fisika 5 di rapor :)

---

Pertanyaan nya? Patutkah saya ikut Ujian Nasional dengan jujur?

Saya takut tidak lulus Ujian Nasional saat SMP karena saya merasa nakal. Punya prestasi di kelas dan organisasi tapi menghalalkan bolos.

Tapi itu tidak masuk dalam penilaian, asalkan nilai UNnya bagus.

Patutkah saya lulus?
Saya belajar untuk apa?
Saya dipaksa nurut untuk apa?

---

Ada juga guru Olahraga saya, yang mohon maaf saja. Celananya tergantung ala-ala ustad. Tapi beliau pernah memukul kami sampai biru kalau tidak bisa berhasil skiping sebanyak 55 lompatan.

Ada kalanya tali skiping itu terlilit, kita terjatuh, kurang konsentrasi, dll. Hampir setiap hari saya skiping di rumah agar selama 55 kali itu saya tidak berhenti. Saya berkali-kali berhasil.

Tapi sayang, saat di sekolah Kayu 1 meter itu hinggap ke betis. Teman cowok saja ada yang menangis karena itu.

Apa tujuannya?
Terus kalau sudah 55kali kenapa?
Kalau gagal terus di pukul kenapa?
Kenapa PAK?
Birunya parah lho pak, butuh berminggu-minggu supaya hilang. Hasilnya cowok/cewek ke sekolah dengan kaus kaki yang tinggi.

---

PAK, ANDA TIDAK LULUS UN DARI SEGI KELAKUKAN!

---

Itu masih mending menurut saya, Teman saya mendapat perilaku tidak mengenakkan dari Guru Biologi. Guru itu memang dikenal Lale (porno).

Beliau tidak mengajar, melirik manis seolah kami mangsa. Mau menelan kami dengan segera. Hanya saja beliau memang baik, saya diperbolehkan menyontek setiap ulangan kalau beliau yang jadi pengawasnya.

Saya justru menantang guru-guru seperti ini. Saya malah pernah maju kedepan kelas dan berkata, "Apa pak? Apa yang bapak liat dari saya? Dasar Lale!"

Saya percaya, semakin kita berani, Orang kayak gitu gak berani macam-macam. Hasilnya teman saya yang kalem malah kena -_-"

Gak masalah, dia masih perawan kok! Cuma tangannya Bapak ini gatal, pegang hal yang gak perlu.

FIX, BAPAK GAK LULUS UN!!! SAYA MASIH LEBIH TERPUJI!!

---

Patutkah mereka menguji saya di ujian nasional?
Kalau guru yang becus gak masalah!
Kan mereka sudah ngajarin, wajar memberikan kami ujian untuk tahu potensi kami.

"TIDAK SEMUA GURU MENGAJAR, MEMBIMBING, APALAGI MENJADI ORANG TUA DI SEKOLAH!"

LALU UN UNTUK APA?

RUANG UNTUK PARA JOKI UN :)

Monday, August 4, 2014

Belajar Mengenal dan Menghargai (Pencari Tuhan)

Ini terjadi ketika saya duduk di bangku SD. Bukan hal baru bagi saya terhadap pertengkaran di lingkungan teman. Sering kali saya menjadi objek untuk tingkah jahil dan ejekan seputar kisah cinta anak SD. Saya pernah amat membenci teman saya, kerjanya hanya mengganggu dan gemar menyontek. Saat itu menyontek adalah perbuatan tercela di masa SD. Berbeda ketika jenjang pendidikan semakin tinggi. Kita semakin lupa akan pengawasan Tuhan pada kita. Justru, ketika kita tidak menyontek akan di anggap terlalu serius dalam belajar, dan ketika tidak memberi contekan, kita adalah makhluk pelit sejagad raya yang harus siap di buli di belakang layar dan di benci teman sekelas.

Saya pernah meminta untuk dipindahkan dari sekolah karena muak dengan sikap teman saya yang nakal. Teman perempuan pun banyak yang suka mengejek saya NORAK. Saya tidak mengerti kenapa, hanya karena saya suka warna "MERAH". Bagi mereka warna ini terlalu menyala dan terkesan norak. Sekarang baru saya paham, tidak semua orang cocok menggunakan warna merah, dan warna itu ternyata menjadi simbol kepribadian, bahkan diartikan berbeda-beda oleh banyak orang.

Saat itu saya sakit hati, tapi saya ada dalam bagian mereka. Saya pun bukan tokoh protagonis di hidup ini, saya bisa mencela apapun yang saya mau. Bahkan mengatakan kalau teman saya itu dari keluarga miskin yang tidak bisa merawat diri. Hal itu pernah saya lakukan di usia SD. Saya tidak merasa bersalah, karena saya pun punya teman yang sering menceritakan keanehan saya di belakang layar. Entah itukah yang dilakukan anak SD? Hanya saja saya adalah tokoh frontal yang berani mengkritik siapa saja depan umum.

Perlahan keinginan saya untuk pindah sekolah itu pudar dan lenyap seketika. Saya masih ingat percakapan Mariesa si anak SD angkuh itu kepada ayahnya.

Saya : Pa, saya mau pindah sekolah!
Papa : Kenapa?
Saya : Saya sering diejek, terus digangguin sama teman cowok, saya biasanya balas tapi mending saya pindah saja. Ada juga temanku yang nakal sekali pa, saya mau pindah saja.

Saat itu papa menjawab dengan bijak.

Papa : Di semua sekolah ada anak nakalnya, dalam satu kelas, ada yang paling cantik, ada yang cakep, ada yang biasa-biasa saja, ada yang paling pintar, ada yang bodoh atau sulit menangkap pelajaran, ada juga yang nakal dan suka diejek dalam kelas. Berteman saja sama siapa saja.

FIX!

Jawaban yang mudah kucerna di usia SD, dan saya menulis ini sambil meneteskan air mata. Akhirnya saya paham.

"Dunia ini diisi dengan berbagai masalah, berbagai tokoh, sikap, dan juga strata sosial. Tujuan satu, untuk belajar menghargai, menguji kita untuk sabar, dan senantiasa bersyukur."

Saya tidak lahir di keluarga kaya, tapi saya mampu tampil dengan berbeda-beda sepatu setiap jalan, saya tidak suka meminta-minta barang atau apapun kepada Papa, karena beliau mengajarkan saya menabung.

Katanya, "kalau kamu mau sesuatu, kamu nabung, bukannya papa gak mau belikan. Tapi kamu harus belajar usaha, kalau target yang kamu mau beli tercapai, rasanya lega dan pasti bangga ke diri sendiri!"

Saya menyesal pernah mengeluarkan kata "miskin" kehadapan teman saya yang juga pernah ikut mengejek saya. Saya kadang merasa, apa dia tidak bercermin sebelum menghina? Tapi pertanyaan itu pertama kali harus ditujukan ke diri sendiri yang sampai detik ini pun belum juga menjadi pribadi yang bijak.

Saya tidak jarang menjadi tokoh yang membuat teman-teman saya tertawa. Saya humoris, saya berani tampil gila. Saya pun adalah perempuan yang senang sekali dengan puisi. Saya berkali-kali tampil membacakan puisi saat SD, dan menjuarai lomba puisi. Saya pun bahagia dengan yang saya jalani dengan ikut menari dan bermain drama saat SD. Kadang pula tampil bernyanyi dalam paduan suara. Saya pun aktif di organisasi pramuka SD. Saya sering ranking 2 dan sulit menggeser teman saya yang hobinya ranking 1.

Saya tidak pernah dimarahi karena nilai jelek.

Saya : Papa, saya dapat nilai 2 pelajaran agama.

Papa saya kaget ketika saya mendapat nilai 2 saat SD. Mungkin beliau berpikir, kurangkah buku yang beliau belikan untuk saya? Bukankah saya sudah di masukkan di TPA?

Jangankan buku tentang agama, saya muntah2 baca buku banyak waktu SD. Saya juga langganan majalah Bobo sampai SMP.

Papa : Kok bisa? Coba papa liat kertas ulangannya! Sudah di bagikan kan?
Saya : Ini pa, saya tidak tahu jawabannya. Banyak pertanyaan tentang hadist.
Papa : Kamu tidak pernah baca buku? Tidak belajar sebelum ulangan?
Saya : belajar
Papa : Coba bawa bukumu kesini!

Awalnya saya takut untuk mengatakan hal jujur persoalan nilai ulangan. Tapi saya paling takut bohong sama orang tua. Semua temanku mungkin pernah saya bohongi, bahkan guru. Itu di usia SD. Tapi tidak pada orang tua. Tepat saat itu juga saya sama papa membahas soal dan isi buku pelajaran agama.

Rasanya lega, dan saya cuma disuruh belajar dan perbaiki nilai di ulangan berikutnya. Teman saya ada yang dimarahi. Tapi tidak dengan saya. Dari kecil mama juga sudah menerapkan sistem diskusi dalam rumah. "Yuk, curhat tentang apapun!" kasarnya kayak gitu.

Saya akhirnya berani cerita apapun, bahkan persoalan di hukum di sekolah.

Saya punya banyak teman akrab yang berbeda keyakinan. Dulu saya bilang ke mereka. Tuhan itu satu, agamanya yang banyak. Tuhan itu satu, tapi nama panggilannya beda-beda.

Saya terlahir di keluarga muslim, jelas sudah saya muslim. Seorang muslim yang banyak tanya. Di TPA, saya pun tidak jarang pulang dalam keadaan menangis, entah karena sendal di curi ataupun berkelahi. Yah, saya pulang dalam keadaan kalah. Tapi saya tetap punya banyak teman di TPA. Tetap punya gang.

Saya benci dengan perkelahian yang diisi dengan sumpah.

"Saya sumpahi ko masuk neraka!"
"Jangko nakal mariesa, masuk neraka ko itu!"
"Di tunggu ko di neraka jahanam kalau ko gangguka!"

Itu mamanya yang ajarin kayak gitu yah?
Terus saya harus ikut-ikutan?

Alhasil..

"Kau itu yang masuk neraka, karena duluan ko gangguka!"
"Biarmi, kayak tong bisako masuk surga!"
"Neraka jahanam kau nah!"

Saya tidak habis pikir dengan kata-kata itu. Yang saya tahu, saya gila karena ikut-ikutan seperti itu.

Tuhan itu seperti ancaman.

Seolah-olah kita ini makhluk yang sengaja diciptakan untuk berdosa. Supaya neraka ada isinya. Sekali lagi saya cuma mengadu.

Saya : Mama, kenapa saya disumpahi masuk neraka? Kalau kita nakal masuk neraka kah?
Mama : Makanya jangan nakal. Sholat. Begitu memang anaknya 'tiiiit' tidak usah di dengar.

Kata SHOLAT!
Ini kata yang mengantarkan pada buku kesekian yang saya baca. Saya membaca hadist dan buku tentang baligh. Intinya, saya baru bisa berdosa kalau saya sudah mulai haid. Itu syarat baligh perempuan. Jadilah senjata baru dalam pertengkaran dunia.

"We Mariesa, masuk neraka ko nah!"

"Tidak nah, karena belum paki baligh, jadi tidak berdosa paki!"

"Iyo?"

Musuhku langsung lumpuh seketika.

Mama selalu mengajarkan saya sholat dan puasa. Saya memang sholat. Tapi puasa saya selalu setengah hari, rasanya menahan lapar itu susah. Dan saya belum baligh, saya baru memulai puasa sehari penuh itu ketika saya duduk di bangku SMP kelas 2, saat saya mulai haid.

Pemahaman saya tentang baligh saat haid membuat saya tidak mau puasa dengan penuh.

Mama sama papa tidak pernah memaksa, dan tidak pernah mengiming-imingi saya kado ketika puasa atau sholat saya full!

Saya belajar untuk mengenal Tuhan dengan ikhlas.

Saya pernah bertengkar hebat seusai pelajaran agama saat SD. Kalau belajar agama otomatis kelas di bagi, yang non-muslim ke kelas lain, yang muslim tetap dalam kelas. Saya bisa mengaji dengan lancar, dan saya berani mengejek teman saya yang belum bisa mengaji.

"Ko ndak di kasi mengaji di mesjid sama mama mu kah?"

Itu ejekan atau pertanyaan?

Seusai pelajaran agama, saya membaca buku teman saya yang non-muslim. Awalnya saya bertanya dengan baik dan sepaham. Semuanya sama, kita sama-sama punya nabi Adam sampai nabi Isa. Di sinilah pertengkarannya. Mereka tegas memperkenalkan Tuhannya, dan saya dengan tegas

"Tuhanmu itu manusia, yang ciptakan dia itu Tuhanku!"

Alhasil saya dimusuhi.Lagi-lagi yah...

Mereka bilang, Tuhanku tidak kelihatan, tidak tahu ada apa tidak.

Sosok Tuhan pertama kali dikirimkan dalam wujud orang tua. Dari yang saya tuliskan, orang tua saya diciptakan untuk pelan-pelan memperkenalkan saya pada sikap Tuhan.

Kita diciptakan beda-beda, dibebaskan mencari langkahnya dan memperoleh kasihnya dengan cara apapun yang Halal dan syar'i.

Tuhanku tidak kelihatan yah?
Kentutmu kelihatan?
Nafasmu kelihatan?
Rasa cinta kelihatan apa dirasakan?

Kenapa kamu tidak bisa melihat darahmu sendiri kecuali ketika kamu berdarah karena luka?
Saking dekatnya darah itu melekat pada tubuh, maka kita tidak bisa lihat.

Begitu pula Tuhan, terlalu dekat. Letaknya di hati, makanya saya tidak lihat, tapi saya rasa. Dan saya takut melukai hati ini, karena di sana ada Tuhan, di sini, di hati kecil.

Saya diciptakan bukan untuk langsung menyembah, tapi memahami. Dengan cara mempertemukan saya dengan orang tua dan teman-teman seperti kalian.

Tuhan saya tidak saya ukir dalam kayu lalu saya sembah, tidak saya buatkan kerangka bunga lalu saya sembah. Dia lebih hebat dari apapun, buat apa di ukir, buat apa di bawakan buah maupun bunga? Toh dia yang ciptakan. Dia tidak meminta saya membayar nafas dan darah. Dia hati kecilku.. Allah SWT.

Perlahan saya paham dan mulai menghargai mereka. Semua butuh proses, kami tetap bersahabat. Semua ada jalannya, Semua agama pun sebenarnya mengajarkan pada kebaikan. Namun ada hal yang lebih indah saya dapatkan di sini. Pelan tapi pasti akan hadir di tulisan saya selanjutnya.

:))

Tuesday, July 29, 2014

Tentang Jatuh Cinta

Hati memang satu. Cuma satu, tapi bisa diisi dengan ribuan orang, rasa, dan masalah.

Lebih dari lidah.
Lidah hanya merasakan empat rasa pasti.
Tapi hati merasakan lebih dari itu, kadang pula bergetar sendiri tidak menentu, hingga pemiliknya pun bingung, rasa apa ini?

Sesekali ku bertanya pada cermin tentang rasa ini.
Dia tertawa menatapku
Dia senyum-senyum sendiri
Dia mengecek wajahnya mulai dari jidat hingga bentuk bibir saat tersenyum
Tak sedikit pun mau menunjukkan keburukan
Dia itu aku dalam cermin.

Itukah jatuh cinta?
Selalu ingin terlihat sempurna?

Salah

Kesalahan besar

Jatuh cinta itu rasa yang tidak bisa digambarkan.

Aku tidak pernah menilai jatuh cinta sebagai hal mematikan untuk diriku, hanya saja ketika harus kutunjukkan kepada orang yang kucintai, cinta itu akan ku takar. Mengapa? Karena aku tidak mau rasa cinta ini habis lalu berubah menjadi perih dan kecewa

Aku lebih bahagia mana kala memendam rasa ini.
Hanya menuangkannya lewat tulisan dan senyuman yang biarlah di nilai dan dirasakan sendiri oleh orang yang kucintai.

Aku tidak pernah memaksakan cinta pada orang yang kucintai.

Aku mencintai seseorang bukan karena dia sudah punya pacar atau belum, tapi karena memang tulus mencintainya.

Aku mencintai seseorang bukan karena dia mencintaiku juga atau tidak. Tapi karena memang aku mencintainya.

Tapi tidak berlaku untuk seseorang yang telah berkeluarga. FIX!

Kadang mereka merasa rugi ketika cintanya harus terpendam dan tak terungkapkan.
Kadang mereka merasa sakit ketika hanya memendam rasa ini sendirian.
Kadang mereka gelisah ketika cintanya tidak terlampiaskan.

Aneh, padahal ini rasa yang indah.
Tiada sedikit pun rugi maupun sakitnya untuk disimpan dan di jaga.

Aku menyimpannya dalam kotak emas yang akan terbongkar isinya kelak pada waktu yang tepat.

Aku akan membuka kotak emas ini bersama orang kucintai.

Isinya lebih dari sekedar harapan, lebih dari sekedar mimpi, semua sudah terpendam lama, dan hanya akan terlampiaskan kepada seseorang yang pantas menerimanya karena sudah terlahir tulus untuk turut menjaga hatinya untukku pula.

Amin.

Tuesday, June 3, 2014

Orang Sakit

Kamu hadir biasa saja. Tanpa menyimak alur cerita.
Kamu tokoh baru dalam sebuah puisi penuh luka.
LUKA DALAM.

Kamu ketawa saja dihadapanku, kamu berusaha memuji dan mendekat.
Tanpa tahu orang yang kau dekati ini adalah orang sakit.
Orang yang pernah jatuh menghadap ke tanah dan tidak lagi mau tersenyum hangat pada lawan jenis. Kecuali sekedar merayu.
Tidak mau serius dan benci serius.
Tak lagi berpikir untuk menjadi seorang perempuan milik laki-laki.
Hanya mau bermain.

Orang sakit ini sempat menyukai seseorang diujung pulau tanpa sadar kalau kamu sudah ada lebih dulu.

Ujung-ujungnya ke kamu. Dia di ujung pulau hanya membuatkan bahagia satu bulan. Setidaknya, orang sakit ini mulai terobati. Namun dia tak merasa itu spesial.

Hingga kamu yang membuat orang sakit ini spesial hanya karena kamu suka dengan orang sakit ini.
Kamu menilai positif orang sakit ini.
Kamu memuji bahkan berani mendekati orang sakit ini.

Sampai kau tahu dia sakit karena apa, kau tetap ada.

Doa Siang Hari

Menyamar jadi orang lain, bermain bersama ribuan kata hingga jenuh tak menentu. Aku tahu aku salah. Hanya memberikan petunjuk tanpa hendak turut bermain. Tapi aku sudah bermain!! Pada bintang yang menggoreskan luka pada setiap pelukan. Hendaknya aku pergi saja dan menangis di atas bantal tanpa diketahui makhluk lain.

Iya, dia memang begitu, sering membuatku menangis. Sering marah padaku, sering membentak, dan tak tahu salahku dimana. Mereka bilang aku berubah, dan dia membunuh karakterku dengan sikapnya. Dia hanya mampu mencaci tindakanku. Sikapku pun salah. Bukankah ini biasa? Sikapnya lebih parah, membentak hingga merobek dan akhirnya aku berlari dengan darah dari kedua belah bibirku. Aku masih ingat saat terjatuh tepat di hadapannya dengan kakinya. Dijatuhkan dengan kakinya. Diinjak bukan terinjak.

Aku hanya menangis lalu memeluk. Ini hanya persoalan pesan yang berbeda cara tangkapnya. Aku sudah minta maaf. Setiap hari aku datang, menunggunya bangun, dan saat dia bangun, dia marah padaku, lalu tidur lagi.

Begitu setiap hari. Hingga akhirnya aku sibuk. Aku punya urusan mendadak. Tepat siang itu, aku terus berdoa. Agar aku baik-baik saja saat dia datang atau aku mendatanginya. Dia katakan padaku Tuhan tidak menolongku saat dia memukulku. Itu salah. Tuhan menolongku dengan keras, tidak lagi dengan cara halus. Bila Tuhan menegurku dengan halus, aku akan bertahan di sampingnya. Tapi Tuhan membentakku agar aku tidak terus menerus sakit.

Dokter itu membujukku untuk curhat, tanpa berkata aku menangis.
Dokter itu bilang.

"Kasihan kamu, kasihan badanmu, kamu cantik!"

Detik itu, aku merasa tidak cantik lagi.

Friday, May 16, 2014

TV di Utara Indonesia = Predator

Televisi di Ujung Pulau

Hal miris paling gokil saya temukan di Utara Indonesia. Pulau yang menurut saya terdampar di ujung Indonesia ini ternyata di luar ekspektasi saya.

Awalnya, saya berpikir, untuk mandi di Pulau ini pun susah, maklumlah, Pulaauuu katanya. Kebanyakan pulau di Indonesia ataupun tempat wisata pulau, tingkat air asinnya lebih tinggi, alias mandi pun airnya asin. Tapi berbeda dengan Pulau Miangas. Di tulisan saya sebelumnya, saya berceloteh tentang keindahan alam dengan bahasa puitis, di sini saya main frontal saja.

Saya sedih, di sana saya mengajarkan mereka mading. Menghias mading dan menulis cerita pendek. Banyak yang belum bisa membaca, dan sulit menangkap pelajaran yang di sampaikan. Selain itu, di sana minim guru. Tapi alat elektronik ada cuy..

1. Kita mandi di Kamar Mandi pake keran, gak sumur-sumuran.
2. Gak usah takut persoalan buang air besar, ada jamban bersih standar gak gali lobang.
3. Mau makan es? Butuh es batu? Ada kulkas.
4. Mau nelpon? Sinyal mantap !! LDR dari Utara Indonesia yang jaraknya cuma 2 jam dari Filipina? Aman cuy komunikasinya.
5. Mau internetan? Di sana ada PLN. Tersedia kabel LAN.
6. LISTRIK? Jelas adalaaaaaah.
7. TV???? ADA!!

Ini dia yang jadi masalah, anak kecil di sana membaca masih susah tapi hafalin dialog sinetron bisa. Adik saya yang namanya Tania. Saya di sana tinggal di rumah pendeta dengan SATU istri dan dua anak. Yang pertama namanya Demi (cowok) yang bungsu masih TK Tania (cewek).

Tania kalo di suruh nyanyi lagu rohani lancar, membaca terbata-bata. Tapi begitu meniru akting dan dialog sinetron, TANIA JAGONYA!

Sedih rasanya, mereka kesulitan untuk memperoleh bahan pangan langsung dari negara sendiri. Buku ataupun majalah di sana seperti impian. Ada internet tapi mereka gak tahu ngelola. Masih dasar dalam belajar komputer. Parahnya TV terang gak bersemut tapi gak ada edukasi buat mereka. Mereka mau belajar pake apa? Buku aja susah! Guru minim! Dokter ogah-ogahan! Puskesmas bersarang laba-laba! BBM 25rb/liter.

Mereka mau demo? Gak mungkin!! Pemerintah jaraknya jauh, paling banter lempar batu ke lautan.

Ini tentang TV yang gaulnya sampe ke pelosok, tapi Tuhan, isinya sampah! Alasannya memang untuk segmentasi menengah ke bawah. Yah, apanya menengah ke bawah? Ekonomi apa Pendidikan? Sudah tau menengah bawah, di suguhin sampah malah buat mereka makin begok. Diiming-imingi iklan citra buat kulit putih, bodoh amat, MIANGAS BROOO SUNBLOCK AJA GAK MEMPAN!!! Itu baru soal lotion!!

Gimana dengan mainan robot-robotan dan kemewahan yang gak jelas penyajiannya? Belum lagi sinetron yang kampretnya bukan main gak ada habisnya. Episode sampe ribuan! Biayanya sudah bisa buat IRON MAN.

Tania bicara seperti robot. Yah karena sinetron itu tuh! Lupa judulnya. Tania malam malas belajar, karena sinetron. Padahal punya bakat yang oke. Gak ada program acara anak-anak.

Yah, anak-anak masa kini, bukan lagi ngefans sama Cikita Meidy ataupun Trio Kwek-kwek. Tapi ARIEL NOAAAH BROOO, katanya tampan. KATANYAAA...

Nari-nari bukan ngikutin dance trio kwek-kwek atau tarian daerah. Tapi niru SMASH WE!! 'gilaka!'

TV di utara Indonesia cukup menghibur dan merusak generasi yang akses untuk dikunjungi saja susah. PREDATOR ANAK SESUNGGUHNYA ITU = TAYANGAN TV YANG GAK MENDIDIK!!

OKE SIPP!!!!