Tuesday, June 3, 2014

Orang Sakit

Kamu hadir biasa saja. Tanpa menyimak alur cerita.
Kamu tokoh baru dalam sebuah puisi penuh luka.
LUKA DALAM.

Kamu ketawa saja dihadapanku, kamu berusaha memuji dan mendekat.
Tanpa tahu orang yang kau dekati ini adalah orang sakit.
Orang yang pernah jatuh menghadap ke tanah dan tidak lagi mau tersenyum hangat pada lawan jenis. Kecuali sekedar merayu.
Tidak mau serius dan benci serius.
Tak lagi berpikir untuk menjadi seorang perempuan milik laki-laki.
Hanya mau bermain.

Orang sakit ini sempat menyukai seseorang diujung pulau tanpa sadar kalau kamu sudah ada lebih dulu.

Ujung-ujungnya ke kamu. Dia di ujung pulau hanya membuatkan bahagia satu bulan. Setidaknya, orang sakit ini mulai terobati. Namun dia tak merasa itu spesial.

Hingga kamu yang membuat orang sakit ini spesial hanya karena kamu suka dengan orang sakit ini.
Kamu menilai positif orang sakit ini.
Kamu memuji bahkan berani mendekati orang sakit ini.

Sampai kau tahu dia sakit karena apa, kau tetap ada.

Doa Siang Hari

Menyamar jadi orang lain, bermain bersama ribuan kata hingga jenuh tak menentu. Aku tahu aku salah. Hanya memberikan petunjuk tanpa hendak turut bermain. Tapi aku sudah bermain!! Pada bintang yang menggoreskan luka pada setiap pelukan. Hendaknya aku pergi saja dan menangis di atas bantal tanpa diketahui makhluk lain.

Iya, dia memang begitu, sering membuatku menangis. Sering marah padaku, sering membentak, dan tak tahu salahku dimana. Mereka bilang aku berubah, dan dia membunuh karakterku dengan sikapnya. Dia hanya mampu mencaci tindakanku. Sikapku pun salah. Bukankah ini biasa? Sikapnya lebih parah, membentak hingga merobek dan akhirnya aku berlari dengan darah dari kedua belah bibirku. Aku masih ingat saat terjatuh tepat di hadapannya dengan kakinya. Dijatuhkan dengan kakinya. Diinjak bukan terinjak.

Aku hanya menangis lalu memeluk. Ini hanya persoalan pesan yang berbeda cara tangkapnya. Aku sudah minta maaf. Setiap hari aku datang, menunggunya bangun, dan saat dia bangun, dia marah padaku, lalu tidur lagi.

Begitu setiap hari. Hingga akhirnya aku sibuk. Aku punya urusan mendadak. Tepat siang itu, aku terus berdoa. Agar aku baik-baik saja saat dia datang atau aku mendatanginya. Dia katakan padaku Tuhan tidak menolongku saat dia memukulku. Itu salah. Tuhan menolongku dengan keras, tidak lagi dengan cara halus. Bila Tuhan menegurku dengan halus, aku akan bertahan di sampingnya. Tapi Tuhan membentakku agar aku tidak terus menerus sakit.

Dokter itu membujukku untuk curhat, tanpa berkata aku menangis.
Dokter itu bilang.

"Kasihan kamu, kasihan badanmu, kamu cantik!"

Detik itu, aku merasa tidak cantik lagi.

Sederhana Sekali

Sederhana Sekali

Selalu saja kita membayangkan tentang bunga yang berwarna cerah dan bermekaran disekitar kita. Dengan aromanya yang lembut dan menenangkan. Bukankah berlebihan?

Terkadang kita meminta hujan untuk membasahi tanah yang kita injak, namun bukan hujan biasa, namun hujan dengan pelangi yang tidak terlalu deras. Bukankah berlebihan?

Rasanya seperti tidak tahu diri ketika membayangkan dan meminta hal yang mungkin saja tidak pantas hadir untuk kita detik itu, lalu memaksakan rumput untuk menumbuhkan bunga, dan memaksakan awan untuk saling berbenturan agar hujan turun.

Tidak, tidak lagi.

Harusnya kita sabar menanti yang kita mau. Bunga tidak bisa mekar dalam hitungan detik, wanginya pun tidak langsung terasa dalam kedipan mata. Begitu pula dengan hujan, ada di musim tertentu, lokasi tertentu, dan butuh proses.

Mereka memintanya, akupun demikian. Kita mungkin memintanya. Kita tidak sadar akan mentari yang juga menyinari dengan indah. Kita tidak sadar bahwa aroma rumput pedesaan pun menenangkan. Mengapa meminta yang ada tapi belum waktunya?

Indah bukan, saat kita menjalani proses menuju yang kita mau. Jujurlah, kau tetap tersenyum, setidaknya kau tersenyum. Lalu buat apa kau meminta hal yang membuatmu tertawa hingga menitihkan air mata yang tak jelas tetesannya?

Berlebihan.

Sederhana sekali.

Saat kau mau mencoba jadi bagian dari mimpinya. Cobalah dulu, mungkin kau memang telah hadir di mimpinya. Tapi apakah kau mencoba memimpikannya?

Begitu egois ketika terus meminta dan berharap lebih dari apa yang ada sekarang. Lihatlah, ada kelebihan yang kau tak nilai.

Misalkan, senyuman, sapaan, candaan, dan langkahnya untuk menuju tepat dihadapanmu hingga berjalan disampingmu.

Bahagia sekali, sederna sekali.

Mungkin sangat sederhana, genggaman pun tidak ada, apalagi pandangan berarti. Kami hanya melangkah bersama, tidak mau tahu terlalu jauh. Namun kami tersenyum saat bersama maupun tidak.

Friday, May 16, 2014

Berburu Darah

Pemburu..
Yah truslah berburu,mencari mati dengan sesuap nasi. Memaksa seseorang diam lalu mencoba menciptakan keheningan dengan luka. Jelas saja akan hening karena terluka.

Pucat pasih lalu mati.
Mati dipelukan kekasih yang memang berniat membunuhnya sejak awal. Hanya saja dia terlalu baik untuk diam dan menerima kekalahan yang ada. Pasrah lalu membiarkan getah menyetubuhinya. Rasanya enak dan sedikit terlena hingga menangis darah dan jatuh bercumbu oleh tanah.

Kadang harus merasa bahagia.
Lalu merubah kondisinya yang rusak itu seolah-olah bahagia. Penipu!

Jauh lebih hebat dari aktor manapun. Hingga berlagak layaknya teater. Sekali lagi jatuh, lalu menagis sendiri dan memeluk lutut. Kenanglah hati. Kenang saja hati muliamu!!

Mari saling menyakiti, namun menikmati rekahan dan sobekan tubuh. Menyelinap masuk perlahan. Iya, diijinkan untuk masuk dan menyelinap. Namun jangan hingga pelupuk mata mulai tertutup lalu bosan dan menampar.

Iya, bisa jadi bosan. Bisa saja bosan.
Namun faktanya, terus-menerus diulangi.

Buka saja, indah terlihat hingga rambutmu memutih.

Sadarlah akan yang kita perbuat ini.

Berlarilah kasih, berburu darah segar hingga kembali padanya yang kau busukkan dengan sikap kasarmu. Kau paksa dia menuruti maumu. Hinggapi dia, dia pasrah karena merasa nyaman dan telanjur berlumur dosa denganmu.

Itu yang membuatnya berlari padamu. Bukan karena hati tapi tubuh!!

TV di Utara Indonesia = Predator

Televisi di Ujung Pulau

Hal miris paling gokil saya temukan di Utara Indonesia. Pulau yang menurut saya terdampar di ujung Indonesia ini ternyata di luar ekspektasi saya.

Awalnya, saya berpikir, untuk mandi di Pulau ini pun susah, maklumlah, Pulaauuu katanya. Kebanyakan pulau di Indonesia ataupun tempat wisata pulau, tingkat air asinnya lebih tinggi, alias mandi pun airnya asin. Tapi berbeda dengan Pulau Miangas. Di tulisan saya sebelumnya, saya berceloteh tentang keindahan alam dengan bahasa puitis, di sini saya main frontal saja.

Saya sedih, di sana saya mengajarkan mereka mading. Menghias mading dan menulis cerita pendek. Banyak yang belum bisa membaca, dan sulit menangkap pelajaran yang di sampaikan. Selain itu, di sana minim guru. Tapi alat elektronik ada cuy..

1. Kita mandi di Kamar Mandi pake keran, gak sumur-sumuran.
2. Gak usah takut persoalan buang air besar, ada jamban bersih standar gak gali lobang.
3. Mau makan es? Butuh es batu? Ada kulkas.
4. Mau nelpon? Sinyal mantap !! LDR dari Utara Indonesia yang jaraknya cuma 2 jam dari Filipina? Aman cuy komunikasinya.
5. Mau internetan? Di sana ada PLN. Tersedia kabel LAN.
6. LISTRIK? Jelas adalaaaaaah.
7. TV???? ADA!!

Ini dia yang jadi masalah, anak kecil di sana membaca masih susah tapi hafalin dialog sinetron bisa. Adik saya yang namanya Tania. Saya di sana tinggal di rumah pendeta dengan SATU istri dan dua anak. Yang pertama namanya Demi (cowok) yang bungsu masih TK Tania (cewek).

Tania kalo di suruh nyanyi lagu rohani lancar, membaca terbata-bata. Tapi begitu meniru akting dan dialog sinetron, TANIA JAGONYA!

Sedih rasanya, mereka kesulitan untuk memperoleh bahan pangan langsung dari negara sendiri. Buku ataupun majalah di sana seperti impian. Ada internet tapi mereka gak tahu ngelola. Masih dasar dalam belajar komputer. Parahnya TV terang gak bersemut tapi gak ada edukasi buat mereka. Mereka mau belajar pake apa? Buku aja susah! Guru minim! Dokter ogah-ogahan! Puskesmas bersarang laba-laba! BBM 25rb/liter.

Mereka mau demo? Gak mungkin!! Pemerintah jaraknya jauh, paling banter lempar batu ke lautan.

Ini tentang TV yang gaulnya sampe ke pelosok, tapi Tuhan, isinya sampah! Alasannya memang untuk segmentasi menengah ke bawah. Yah, apanya menengah ke bawah? Ekonomi apa Pendidikan? Sudah tau menengah bawah, di suguhin sampah malah buat mereka makin begok. Diiming-imingi iklan citra buat kulit putih, bodoh amat, MIANGAS BROOO SUNBLOCK AJA GAK MEMPAN!!! Itu baru soal lotion!!

Gimana dengan mainan robot-robotan dan kemewahan yang gak jelas penyajiannya? Belum lagi sinetron yang kampretnya bukan main gak ada habisnya. Episode sampe ribuan! Biayanya sudah bisa buat IRON MAN.

Tania bicara seperti robot. Yah karena sinetron itu tuh! Lupa judulnya. Tania malam malas belajar, karena sinetron. Padahal punya bakat yang oke. Gak ada program acara anak-anak.

Yah, anak-anak masa kini, bukan lagi ngefans sama Cikita Meidy ataupun Trio Kwek-kwek. Tapi ARIEL NOAAAH BROOO, katanya tampan. KATANYAAA...

Nari-nari bukan ngikutin dance trio kwek-kwek atau tarian daerah. Tapi niru SMASH WE!! 'gilaka!'

TV di utara Indonesia cukup menghibur dan merusak generasi yang akses untuk dikunjungi saja susah. PREDATOR ANAK SESUNGGUHNYA ITU = TAYANGAN TV YANG GAK MENDIDIK!!

OKE SIPP!!!!

Wednesday, March 19, 2014

A Dirty Life

Bukan suatu hal yang baru kalau aku harus dikucilkan karena sikapku. Wajarlah, aku cuma seorang anak kecil yang bodoh. Gilanya, aku mampu melakukan apa pun termasuk membunuh.

Bukan sebuah cerita horor tentangku. Melainkan sebuah hiburan yang mampu merenggut nyawa orang yang menyinggung perasaanku.

Sudah berapa kali harus kukatakan, aku ini bukan cewek bodoh yang lemah, bukan salahku bila ku terus mengancam dan memberimu pukulan maut. Tak perlu ditanyakan mengapa aku begini.

Ayahku seorang mavia, dia selalu saja bertingkah seenaknya. Seakan dia Tuhan, entah ajaran baru apa yang dia terapkan. Gilanya, dia harus tercipta sebagai ayahku. Bodohnya ibuku sempat tidur dengannya.

Trauma sempat hadir dalam diriku saat kulihat ibuku terbujur kaku dihadapanku. Apa salahnya sehingga harus mati dengan cara seperti itu. Ayahku tersenyum lebar melihat hal itu. Saat itu ku masih berusia 4 tahun.

Ketika sang dewa maut mencabut nyawa ibuku, aku menangis. Seketika ayahku menggendongku, ku berlindung di bahunya. Bila saat itu ku sudah bisa membunuh, akan kubunuh ayahku.

Bukannya aku gila, tapi ini semua karena keterbiasaanku melihat kematian, yang disebabkan oleh ayahku sendiri. Agh.. aku bingung, kapan waktu yang tepat untukku membunuhnya.

"Shelli.." Teriakan bodoh sang mavia saat memanggilku, ku belum mau membunuhnya, karena tanpanya ku tidak akan punya uang. Ku hanyalah siswi sekolah swasta yang sudah 3 kali keluar masuk panti rehab. Wajar, mabuk-mabukan itu hobiku, ngedrugs sudah kutekuni selama 4 tahun, tapi sekarang ku bisa lepas dari barang haram itu. "Shelli.. Papa sudah bilang, jangan pernah berlaku kasar lagi," "anjing, kenapa papa melarangku?? Aku juga lebih hebat darimu! Uangmu terlalu banyak untuk membayar pengacara, sehingga aku tidak takut berurusan dengan hukum!" Kataku detik itu saat dia mencoba menjadi seorang ayah yang bijak. Ku hanya mendorong temanku saat di sekolah, dia terus menggangguku. Agh.. Aku tidak suka diganggu. Sempat kutabrak temanku saat pulang dari cafe, untungnya dewa kematian sedang tidur, sehingga dia tidak mencabut nyawa temanku itu. Sudah ku bilang. Aku ini pembunuh!

Bola Mata



Selalu tampak bahagia. Hidupku serasa lengkap bersamanya. Bersama dia yang begitu kucintai. Usiaku memang terbilang muda, aku baru menginjakkan kaki pada jejak tahun ke 24ku di dunia ini. Masih muda namun aku merasa hidupku begitu lengkap.

Mereka yang seumuran denganku, banyak yang belum terikat dalam satu tali amanah tuk menjaga hati selamanya. Namun tidak denganku, aku telah menikah. Menikah dengan keadaan terhormat dengan lelaki yang usianya empat tahun lebih tua dariku. Aku sudah menyandang status sebagai seorang istri. Aku sudah punya tanggung jawab berbeda dari sahabat-sahabatku yang belum menikah.

Rasanya sangat bahagia. Takjub, karena kini kumiliknya seutuhnya. Tak ada batasan, tak perlu takut dengan aturan tuk mendekati bahkan berdekatan dengan lebih bahkan sangat lebih. Tak lagi memikirkan resiko bahkan salahkah apa yang kita lakukan. Bagiku ini indah, lebih dari sekedar keindahan remaja yang telah ku lewati.

Kami telah lama pacaran, yah cukup lama bagiku. Tiga tahun. Waktu tiga tahun itu kuhabiskan dengan bersenda gurau, berbagi tentang sikap, kesukaan, bahkan hobi dan juga angan kami ke depan. Semua yang kami utarakan terwujud. Kami berada dalam satu atap, satu pintu, dan satu ranjang.

Seluruh tamu yang hadir saat resepsi kami tersenyum lebar dan tertawa bahagia, semua turut mendukung. Dia lelaki hangat dan santun yang pernah kutemui. Masa pacaran terindah kudapatkan darinya, dan kini pernikan harus menjadi hal yang jauh lebih indah.

Usia pernikahan yang masih dini ini tentu saja perlu dibangun untuk menjadi rumah tangga yang sempurna. Di bangun dengan kasih sayang dan kesetiaan. Aku mendambakan kehadiran seorang anak, namun mungkin belum saatnya. Lagi pula kami bahagia berdua. Menikmati segalanya berdua, serasa pacaran tahap kedua.

"Sayang baunya harum sekali," kata suamiku, Farlan.
"Ini spesial buat kamu, masakanku gak ada duanya," kataku seraya menggoda.
"Luna-ku sayang, dalam hal apapun kamu spesial. Gak ada duanya," mendekap dan mengecup keningku.

Isi rumah ini serasa damai. Aku yakin untuk menikah dengannya, selain karena kita sudah lama kenal, dia mandiri dan juga mapan. Rumah ini dicicilnya jauh sebelum kami menikah. Syukurlah, hanya butuh setahun lagi rumah ini lunas. Dia penuh dengan persiapan. Dia pernah berkata, membahagiakanku bukan hal mudah, butuh proses panjang, dan dia ingin membahagiakanku dengan total, tanpa ada pikiran untuk menyusahkanku. Dia ingin aku sisa duduk manis dalam dekapannya.

Aku tidak berkata dia kaya raya, aku pun tidak menganggap pernikahan kami ini mewah dan kami pasangan kaya. Setidaknya kami bisa saling berbagi. Yah, dia pun mendukung pekerjaanku. Dia senang melihatku berkarir.

Hari-hariku bersamanya terasa begitu hangat. Entahlah, mungkin sindrom pengantin baru. Aku ingin kami begini terus hingga tua. Merasakan bahagia bersama.

***

"Cieh, sobatku," sapa Dina dengan menggoda.
"Kenapa?"
"Gimana nih sama Farlan? Wah, langgeng yah," urainya bahagia.
"Yah, kamu doakan sajalah. Kamu gimana? Kapan mau nyusul?"
"Nantilah, belum dapat yang pas luar dalam," jawabnya dengan nakal.
"Kamu!"

Dina itu sahabatku sejak SMA. Kami sudah lama bersama, dia pun kenal akrab dengan Farlan. Dia sahabatku yang sangat mendukungku dengan Farlan. Dia pun pernah sedikit menggoda, kalau Farlan memang idaman dan buat hatinya pun tergugah tuk diberi pada Farlan.

Yah, bagiku tidak salah. Postur tubuh yang tinggi, alis mata tebal, tatapan tajam, kulitnya yang tidak putih namun tak juga gelap, pesonanya, kuakui dia menarik. Yah, suamiku. Sempurna.

Tiada yang lain. Mata ini hanya tertuju pada Farlan. Hanya dia seorang, aku terus memikul di pundakku, bahwa aku adalah istrinya. Aku punya kewajiban untuknya. Kewajiban untuk selalu menjaga diriku.
Aku dan Dina kini berada dalam satu atap pula, kantor yang sama. Setiap hari bersama berbagi cerita. Sejak SMA kami sama-sama punya ketertarikan dengan fashion hingga memutuskan untuk bekerja di salah satu majalah fashion ternama di kota ini.

Kami selalu berinovasi bersama untuk menciptakan fashion terbaru. Desain yang kami ciptakan pastinya sesuai karakter masing-masing. Tidak jarang aku dan Dina berkeliling untuk mencari referensi gaya terbaru, mengkritisinya, dan mencari solusi untuk menciptakan yang lebih baik dan nyaman.
Menciptakan suatu gaya tentunya butuh riset. Apa yang kami ciptakan bukan semata-mata untuk kami, tetapi untuk orang lain.

Gaya kami memang oke. Saat SMA hingga kuliah, kami terkadang jadi pusat perhatian ketika berdandan saat ke kampus maupun saat SMA. Lengkap dengan aksesoris keluaran terbaru dan tas kami yang gonta-ganti. Bukan berarti kami selebriti kampus yang hanya numpang nge-hedon di area kampus. Sama sekali tidak seperti itu, tapi kami memang di akui cukup fashionable.

***

Malam ini ku terdiam di atas ranjang. Sesekali aku tersenyum sesekali menunduk. Farlan menghampiriku, memelukku, dan kami berciuman.

Ciuman itu begitu hangat, lidahnya terasa menyelami setiap bagian yang ada dalam mulutku, aku merasakan getaran yang luar biasa. Tangannya membelaiku. Ku seka dirinya.

"Kamu kenapa sayang?" tanyanya padaku.
"Aku mau pandangin wajah kamu. Kamu tiap hari makin indah, makin buatku melayang," kataku.
"Sayang, gimana kerjaannya? Baju yang lagi tren untuk sekarang konsepnya gimana sih?"
"Sekarang tuh yah sayang. Majalahku lagi fokus untuk sasaran anak SMA. Pokoknya remaja, jadi konsepnya lebih feminin dengan warna yang soft," kataku.
"Sukses deh mom. Ngomong-ngomong, lama nih kita gak ke bioskop. Nonton yuk!"
"Dengan senang hati cinta."

***

Tiada hari tanpa kata sayang, tiada hari tanpa cumbuan. Semua berjalan begitu indah. Semua kami lewati dengan tawa bahagia. Cinta ini terasa makin besar.

"Tuhan, terima kasih Kau telah kirimkan Farlan untukku."

Laptop dihadapanku terus menyala. Namun ku hanya diam. Khayalan tentang bentuk dan warna sudah tergambar. Namun tak sedikit pun tertoreh di laptop maupun secarik kertas dihadapanku.
Aku merasa membutuhkan Dina. Dia selalu bisa membantuku di saat terjepit tanpa inspirasi dan ide cemerlang. Dia sahabatku yang kreatif. Selalu mampu membantuku. Punya banyak ide dan cara tuk bertahan, bahkan sangat cerdas.

Dia cantik. Senyumnya ramah. Aku menilainya sebagai perempuan manis nan cantik yang terkesan imut.

Aku menang dibentuk tubuh. Aku tinggi, rambutku hitam tergerai panjang dan lembut. Kulitku kuning langsat, mataku sedikit sipit, bibirku tipis, selebihnya biasa saja. Namun banyak yang bilang kalau aku cantik, dan Dina manis.

Dina memang tidak tinggi sepertiku. Tapi dia menarik. Sahabatku.

Kuraih ponsel di dalam tas. Cukup menekan tombol panggilan keluar. Hanya ada tiga nama disana yang selalu menjadi peringkat teratas. Farlan, Mama, dan juga Dina. Dengan segera kuhubungi Dina. Yah, seperti dugaanku. Dia sangat cepat mengangkat telpon. Dia menyuruhku untuk menunggu. Tidak lama lagi dia akan tiba di kantor. Dina sedang berada di optik. Tentunya untuk membeli soft-lense.

Soft-lense memang selalu menghiasi kedua bola matanya. Kerap kali Dina berganti-ganti warna soft-lense. Coklat, abu-abu, hijau, dan juga ungu. Entahlah, sekarang Dina akan membeli warna apa. Apapun itu pastinya sangat cocok dengannya. Warna apapun pas untuknya. Tak lama Dina pun datang. Dengan high-heels pink lembut dia melangkah.

"Kenapa Lun?"
"Bingung nih soal konsepnya, beberapa baju sudah kupasang-pasangkan. Yah, dimatching-matchingin lah untuk pemotretan model nanti. Tapi selebihnya bingung," keluhku.
"Tinggalin aja, nanti biar aku yang kerjain. Kamu pasti capek mikir. Mending istirahat deh,"

Itulah Dina. Rasanya tenang punya sahabat sepertinya. Aku pun beranjak dari kursi. Dina menggantikan posisiku. Dia duduk. Mengibaskan rambut, dan membuka matanya dengan lebar menatap laptop. Spontan.

"Biru yah Din?"
"Hah? Kenapa Lun?"
"Mata kamu?"
"Oh, iya nih. Sekarang pakai warna biru. Keren kan?"
"Iya, birunya bagus. Terang. Pas buat kamu,"
"Biar gelap, mata aku tetap jelas kelihatan. Jadi, kalau kamu nyari aku gelap-gelap. Pasti bakal ketemu kalau aku melek," katanya berusaha ngelawak.
"Kamu, ada-ada aja!"
"Haha, glow in the dark!"

***

Dina kutinggalkan sendiri. Kukatakan padanya aku berjanji pada Farlan tuk cepat pulang. Yah, aku sangat rindu ingin segera pulang. Aku mau jadi yang pertama tiba di rumah. Menyambut kedatangan Farlan dengan senyumanku. Berharap bisa mengobati rasa lelah Farlan.

Jemariku menyentuh gagang pintu. Saat pintu terbuka, sontak aku hampir terjatuh. Farlan mengagetkanku lalu meraih tangan dan tubuhku yang nyaris menyentuh tanah.

"Sayang, hati-hati," katanya.
"Kamu sudah di rumah duluan?"
"Hehe, iya sayang. Tadi pulang cepat. Tahu gak buat apa?"
"Apa coba?"
"Masak buat kamu," jawabnya.

Bibirku merekah tersenyum lebar. Bahagianya, bagiku ini adalah kado. Perasaan ini tak mampu kugambarkan. Aku langsung memeluknya. Ku pikir dia akan marah karena tiba lebih dulu di rumah sebelum aku.

Namun, sama sekali gak ada alasan untuk dia memarahiku. Sebab, aku sudah pulang lebih awal sesuai perjanjian istri setia baginya. Dia pun mendukung kerjaanku, kalau aku lelah dia akan menyuruhku beristirahat dan tidak bekerja. Bila aku harus pulang larut, dia bersedia menjemputku bahkan menemaniku bekerja. Begitupun sebaliknya. Dunia masih milik kita berdua.

"I love you Farlan," kataku.

Senyumnya begitu lembut. Dia menuntunku ke meja makan. Sama sekali tak terbayangkan. Hidangan telah tertata rapi, namun dapur terlihat cukup berantakan. Aku yakin itu karena ulahnya. Mencoba menuangkan ide masakan hingga membuat dapur terlihat tak terurus. Tapi aku suka upayanya. Aku sayang padanya. Padanya yang menaruh bunga di atas ranjang dan senantiasa mengecupku.

Dia memintaku untuk duduk, dia mengambil tas dari tanganku. Farlan meletakkan ta situ di atas sofa. Dia menunduk dan membuka sepatuku, sepertinya dia berencana pulang lebih awal untuk melayaniku, memperlakukanku layaknya Ratu. Dia membantuku membuka jas yang ku kenakan. Dia menyuruhku mencuci tangan dan menarik kursi lalu mempersilahkanku duduk. Manis sekali pernikahan ini.

***

Efek bahagia setelah mencicipi masakan Farlan kemarin. Aku datang ke kantor sambil senyum-senyum sendiri, tidak peduli dengan pandangan sekitar yang akan menganggapku orang gila. Mereka tidak merasakan apa yang kurasa.

Saat langkahku tiba dihadapan laptopku di kantor, Dina sudah duduk manis di sana. Lalu dia berbalik saat melihat aku datang, dia tersenyum lalu memamerkan apa yang sudah dia kerjakan. Aku tidak percaya, semua kerjaanku di selesaikan olehnya. Sahabat yang sangat membantu dan mengerti diriku.
Sepertinya hari ini aku akan lembur, karena besok adalah jadwalku presentasi.

Satu lagi, karena Dina sudah membantuku, hari ini dia harus pulang lebih awal, aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Dia butuh istirahat. Tidak hanya itu, mempersiapkan presentasi besok itu tidak mudah, haruslah sempurna.

Aku mulai menyuruh Dina pindah dari tempatku, aku pun mengucapkan banyak terima kasih padanya.

“Dina, hari ini kamu pulang lebih awal saja. Kamu butuh istirahat ekstra. Biar semuanya saya yang kerjakan sama teman-teman lain,” kataku.
“Lun, gak masalah kalau aku tetap di kantor temani kamu,” katanya dengan begitu baik.

Aku terus membujuknya agar dia pulang lebih awal. Aku tidak enak kalau harus menahannya lagi di kantor dengan begitu lama. Kini giliranku untuk menyelesaikan tanggung jawabku.

Detik demi detik kulewati di kantor bersama teman-temanku yang lain. Satu per satu pekerjaan kuselesaikan. Jas abu-abu yang tadi kukenakan, kini telah kuletakkan rapi di balik kursiku. Lengan tanganku semakin kugulung ke atas mendekati siku. Hal ini kulakukan karena aku merasa semakin gerah mempersiapkan presentasi.

Waktu menunjukkan pukul 23.00, hamper mendekati tengah malam. Aku harus semakin lincah dalam menyelesaikan pekerjaan ini, tidak boleh membuat suami menunggu terlalu lama di rumah walaupun dia begitu mengerti dengan pekerjaanku ini dan telah mengizinkanku pulang larut malam.

Kali ini dia tidak menjemputku. Sudah kukatakan padanya untuk menungguku saja di rumah. Aku tidak ingin membuatnya ikut-ikutan sibuk di tengah kesibukanku, karena dia pun perlu istirahat. Tadi dia membujukku agar aku mau dijemput, namun aku balik membujuk agar dia istirahat. Ku katakan padanya bahwa aku akan pulang sekitar jam 02.00 malam. Tapi keadaan berkata lain, sekarang baru 23.30, pekerjaanku sudah selesai. Dia pasti sedang melihatku tiba lebih awal dari yang kukatakan.

***

Tanpa perlu menghitung hingga ratusan detik, aku sudah tiba di rumah. Entah mengapa keadaan rumah kali ini begitu mistis. Mungkin karena sudah larut. Hanya lampu teras depan yang menyala. Begitu gagang pintu ku pegang, anehnya Farlan tidak mengunci pintu, entah dia lupa atau sengaja agar aku tidak perlu membangunkannya untuk sekedar membukakanku pintu.

Ada satu sepatu yang begitu kukenali di depan sofa ruang tamu, anehnya sepatu ini tidak rapi terletak di rak. Mengapa harus berada di ruang tamu, parahnya itu bukan sepatuku namun begitu kukenali. Hak tipis menghiasi bagian belakang sepatu tersebut.

Kulangkahkan kakiku tepat menuju kamar tidur. Satu hal pasti yang kulihat dari luar, Farlan tidak sendiri dalam kamar. Aku tidak mau menyalakan lampu. Aku tidak mau mengetahui siapa yang menemaninya, bagiku itu sangat sakit. Seperti melukai diri sendiri, menyobek hati sendiri. Lebih baik aku masuk perlahan dan tidak membangunkan mereka.

Rasa tidak percaya menggeluti diriku, rasa marah, ingin menangis, namun di sisi lain, tentang apa semua ini? Apa ini? Mengapa harus seprti ini? Di tengah kuselalu membanggakan dan menyanjungmu dalam setiap paragraf hidup dan hari-hariku.

Kusentuh lengan Farlan, ku tarik tuk benar-benar memastikan bahwa itu dirinya. Yah, tepat sekali, aku tidak salah, dari awal kukatakan ini Farlan dan dia tidak sendiri. Anehnya, begitu Farlan kutarik, perempuan itu lebih dulu terbangun dan terkejut langsung melihat ke arahku. Satu yang pasti. Bola matanya, “BIRU!!”