Sunday, August 2, 2015

Kemungkinan Terburuk

You are my favorite
But soon or later, maybe you will be unfavorite

Tidak berpikir akan kebahagiaan
Takut bahagia
Menyimpan ruang untuk sakit hati
Bukannya tak bercita cita
Bukannya tak tulus
Tapi harus siap akan segala resiko

Realistis

Itu selalu ku jadikan tombak hingga lelah berpikir sendiri

Biarkan saja berjalan

Akankah menjadi jalan kosong?

Sekarang aku memanggilmu "sayang"
Suatu saat bisa berubah dengan sekedar nama karena tak terjadi apa apa

Kau teman terbaik yang buatku nyaman dan merasa sangat lega berlarian kemanapun yang ku inginkan namun tetap dalam jangkauanmu

Dua kemungkinan
1. Teman lagi
2. Teman hidup?

Aku hanya berjalan dengan berpikir yang buruk buruknya saja
Aku tak mau berpikir indah
Sudah bosan
Sudah tau akan seperti apa
Benci bicara serius dan menjelaskan

Sekarang aku mau kamu
Tapi besok besok?
Toh ujung ujungnya kita selalu bisa move on
Sesusah susahnya melupakan selalu mampu ikhlas kan?

Wajar saja saya memikirkan kemungkinan terburuk
Saya harus ikhlas dari sekarang walaupun benar benar sayang

Ataukah saya malas berusaha dan berjuang?
Entahlah

Saya hanya takut menjadi pusing dan menangis karena hal itu itu saja seperti orang orang pada umumnya

Wednesday, July 8, 2015

Teman Dalam Hidup

Saya hanya butuh teman
Satu orang yang benar-benar merangkul
Satu saja cukup
Mampu mendekap bahkan membawa keceriaan

Saya hanya butuh teman
Dan dia teman saya
Teman saya yang memberi rasa lega
Bukan untuk di nilai
Bukan untuk di komentari
Bukan untuk di tebak-tebak

Kami berteman
Kami berjalan
Kami tertawa
Dia memberi support dengan cara berbeda

Tolong jangan dipertanyakan
Tolong biarkan aku dengannya
Biarkan saja

Jangan buatku takut dengan ekspektasi tinggi itu
Dia tidak menjanjikanku emas
Tapi sekarang aku bahagia

Tolonglah..
Aku bahagia

Satu teman yang sekarang berarti sekali
Penuh rasa sayang

Jangan tanyakan kami
Jangan bawa-bawa bibit tak jelas
Aku kini tertawa dalam peluknya

Dia temanku yang ku sayang

Sunday, June 28, 2015

Pelantun Lagu Sedih

Merdu tapi sendu
Melayangkan kata berbisik hujan
Kala dia menanyakan kabar
Resah sudah lantunannya

Baitnya berkata mesra
Bibirnya membeku memerah
Kabarnya dia menyerah
Namun kakinya tak henti berpindah

Perpindahannya menjadikannya luka
Menangis hingga meraung seperti singa
Konon hatinya juga bimbang
Kala lantunannya tidak pasti dan menekan

Gaya bicaranya
Tanyakan kabar
Gaya bicaranya
Seperti nyanyian

Berkaca-kaca namun tetap maju
Dia sedih akan langkah yang dia pilih
Dia takut kala semua akan menghilang

Terlalu sedih untuk di dalami
Rangkul lah dia hingga menapaki jalan nyatanya

Wednesday, June 3, 2015

Terik Menyengat

Dalam suatu kaleng yang ia tendang
Ada bunyian nyaring menyentil lorong
Sesaat ia menepis basah yang ada di dahinya
Ia masih bergelut pada lelah dua hari yang lalu

Kaleng yang ia tendang menanyakan keberadaannya
Bukan kalengnya, ternyata isinya
Sentilan pada lorong itu membangunkan manusia yang bergelut dalam keributan
Sesekali ia menatap kaleng yang ia tendang

Bunyi-bunyian itu masih menganggu
Manusia ribut sekitar seolah sangat terganggu
Bunyi-bunyian itu melebarkan ceritanya
Bunyi-bunyian bukan sekedar "ting tong"
Bunyi-bunyian itu memaksa ia berjalan

Tapi ia tetap menendang kaleng itu
Pupus
Lepas hingga kaleng itu rusak

Ia menangis
Tanpa mampu di bedakan keringat dan air matanya
Ia lelah mengekang mimpinya
Hingga ia berbalik menangis
Ia sadar terlalu sering menendang harapannya
Berharap yang ia lalui lebih aman

Matahari sangat terik
Tapi gedung teduh itu tidak ia pilih
Matahari sangat terik
Ia menyesal telah menendang kaleng itu

Monday, May 4, 2015

Under Water

Aku tidak tahu berenang
Tapi aku berani menyelam
Menyelam pun tak sendiri
Harus di genggam agar mampu menangkap momen

Aku melihat birunya laut dari monitor
Mengabadikannya lewat lensa
Sengaja tenggelam agar makin dalam merasa
Konon katanya, semakin jauh kau menyelam kau akan melihat kekayaan Tuhan yang menakjubkan dalam laut

Lalu bagaimana dengan menyelamimu melalui genggamanmu?

Banyak yang tidak mau mengambil resiko
Sama halnya denganku
Takut selalu menjadi alasan utama
Hingga akhirnya ku coba berenang perlahan, nafas ku mampu bertahan dalam air sejenak

Mungkin, bila aku terus mencoba menyelam perlahan, berenang perlahan, percaya akan genggamanmu yang menuntunku, aku tidak akan takut lagi

Ini menyenangkan
Bisa berenang bersamamu perlahan

Tepi lautnya mungkin sebagian kotor karena terpaan dan gangguan
Tapi coba kau menyelam
Coba rasakan sendiri

Sekalipun kau tidak bisa berenang
Kalau kau yakin, kau pasti bisa melihatnya tanpa harus menahan nafas terlalu lama

Wednesday, April 15, 2015

Ucapkan Sekali Lagi

"Ucapkan sekali lagi, lalu aku akan bunuh diri!"

Dia terlihat kuat lewat senyumnya yang terlalu lebar
Saking lebarnya dia menangis dalam kesendirian
Dia berlari mencari kesamaan di dalam fantasinya
Mencari kegilaan yang sama di luar dari kendalinya
Satu tujuan yang hendak dia capai
Satu tujuan yang hendak dia raih

Dia tertawa bersama ribuan orang
Terlihat tangguh dan penuh semangat
Dia berlari lalu megucap dua kata
"Putus Asa!"

Disekitarnya terlihat kaget lalu memaksanya untuk santai
Memaksanya terus berusaha
Memaksanya cuek
Memaksanya yakin

Dia meronta dalam kata-kata kematian yang datang dari lingkungannya
Dia masih saja teguh tetap menjalani hatinya
Hingga ketika dia lelah dengan paksaan, anggapan membuang waktu, tidak ada titik terang, menjauhi kesempatan lain, dan segudang keraguan dari orang-orang yang katanya percaya Tuhan

Dia pun berdiri dan berteriak,

"Mati bersama mungkin lebih baik, karena dunia ini bukan pencapaian maksimal!"

Saturday, April 4, 2015

Menjadi Penting

"Kini aku tahu, orang penting adalah mereka yang berbicara tentang hal yang penting-penting saja!"

Mungkin itu jelmaanmu
Dalam rekayasa pita berjalan
Aku meneriakkan gambaran tentang memperlama suatu cerita
Aku memaksakan pembicaraan yang tidak nyambung dengan kurva awal

Kesengajaan kulakukan demi menghadirkan yang tidak penting
Namun kau kembali formal dalam gayamu untuk bermain tenang
Aku gelisah ketika suatu saat tidak ada lagi hal penting untuk dibicarakan
Karena basa basi bukan gayamu untuk berbincang

Aku berharap akan ada jalannya menjadi penting
seperti kau yang penting
Berbicara tentang kepentingan urusan kita dalam pekerjaan
Kau menjadi penting dalam pekerjaan ini
Tapi sungguh aku ingin berbicara padamu di luar pekerjaan
Inginnya hanya tertawa dan bermain
Tapi itu justru akan membuatku terlihat seperti nona basa basi yang kelak pembicaraannya menjadi basi

Inginnya aku menjadi tempatmu sharing kesibukan
Inginnya ku berikan waktuku untuk mendengarkan

Hingga kepentingan itu berubah
Hal penting tadi menjadi jembatan
Kita menjadi bagian penting
Kepentingan awal jadi genting
Hingga aku pun penting dalam situasi genting

Karena penting bukan persoalan tidak basa basi
Tapi basa basi ini hanya untuk memperlama percakapan kita
Hingga aku akan menghapus basa basi itu
Dan apapun yang kita bicarakan itu penting
Karena semua menyangkut tentang kita

"Penting itu saat kau tidak tahu mana yang lebih penting!"

Aku berjalan lagi dengan basah kuyup
Termenung dan berpikir
Apa kepentinganku disini?

Ternyata aku masih terlahir sebagai logika yang ingin merasionalkan segala hal