Saturday, September 13, 2014

24 Jam

Aku mencintaimu 24 jam, dalam setiap langkahku hari ini, namun tidak kujamin padamu hari esok, karena bila esok ada, tiada lagi 24 jam.

Waktu bergurau lambat saat kau mulai mendekatiku, harusnya aku lebih dulu tahu kalau ini hanya debu. Sekuat apapun usaha itu, ujung-ujungnya debu juga, terlupakan, diabaikan, ditinggalkan, bahkan hanya sebatas untuk menghiasi timeline dengan status manis.

Cinta 24 jam. Itu yang berani ku pertaruhkan untukmu. Tiada esok tanpa hari ini. Aku tidak butuh kata cinta dalam secarik kertas yang menuliskan perasaanmu akan selamanya padaku, jelas sudah itu bohong, dan tulisan ini akan berubah menjadi '48 Jam' atau '96 Jam'.

Aku berpikir untuk jatuh cinta setiap hari, bukan menjanjikan untuk mencintaimu hari ini hingga esok bahkan sampai mati. Itu sama halnya dengan menjilat kotoran yang tidak mungkin kau atau aku kan lakukan.

Aku mau kau jatuh cinta setiap hari, aku mau aku jatuh cinta setiap hari. Rasa pertama saat menyadari kau menyukaiku, rasa pertama saat kau menyadari hatimu bergetar karena aku.

Bagai kupu-kupu dalam perut, terbang menggelitik hingga rasanya dingin hingga ke ubun-ubun.

Aku tidak mau rasa itu berubah, aku mau kau buatku jatuh cinta setiap hari, dan aku mau membuatmu rindu untuk mencintaiku setiap hari.

24 jam tanpa henti.

24 jam
24 jam
24 jam

Aku mencintaimu 24 jam. Tapi aku bukan mesin yang diciptakan bernyawa selama 24 jam, ada kalanya aku menghilang di menit ke-30 kebersamaan kita. Ada kalanya aku beristirahat di jam ke-16 kebersamaan kita.

24 jam tanpa henti mencintaimu namun penuh dengan aktivitas. 24 jam tanpa henti merindukanmu namun penuh dengan kesibukan. Itulah yang kurasa.

Ini pertanyaanku malam ini.

00.00

Aku tidak mungkin menyapamu tanpa sebab di penghujung 24 jamku, aku tidak mungkin memganggumu di penghujung 24 jammu. Tapi yakinlah, semua itu beralasan. 24 jam berikutnya akan di mulai. 24 jam berikutnya masih tanda tanya, akankah aku atau kamu masih mencintai orang yang sama?

Aku membiarkan mata ini terbuka tanpa sedikitpun memberi alasan di penghujung 24 jam ini. Aku hanya menuliskan keluhku dalam gelap di sudut kamar bersama dekstop anime. Harusnya ini menjadi hal penting ketika kau berada di penghujung rasa cintamu. Harusnya ini menjadi hal yang patut dipertanyakan.

Aku menjawabnya dengan tulisan ini, menjawab pertanyaanku sendiri dengan tulisanku.

Ada apa di pukul 00.00?

Bukankah aku mencintaimu 24 jam?
Dan kita masuk ke jam berikutnya?
Apakah kau masih mencintai orang yang sama?
Masihkah aku di sana?

Lantas kau menjawab,

"Aku mencintaimu 24 jam. Tapi aku bukan mesin yang diciptakan bernyawa selama 24 jam, ada kalanya saya menghilang di menit ke-30 kebersamaan kita. Ada kalanya aku beristirahat di jam ke-16 kebersamaan kita."

Itu tulisanku dalam gelap di sudut kamar ini.

Aku mencoba menjawabnya sendiri.

Lalu aku kini bertanya, masihkah kau bisa membuatku jatuh cinta di 24 jam selanjutnya?

Apakah 00.00 yang kulakukan tak membuatmu bertanya mengapa?

Akankah aku atau kamu siap jatuh cinta setiap hari kepada orang yang sama?