Wednesday, December 31, 2014

Meriah Di Udara







Malam penuh ledakan meluap ke udara
Hanya persoalan desember yang akan berakhir karena kehadiran januari
Seolah lupa akan sejarah
Atau mungkin tak pernah mengenal sejarah
Enggan mempelajari sejarah

Harusnya kaki ini tidak terhenti melangkah
Harusnya tidak di patok pada mesin waktu yang seolah mengejar kita
Masihkah kita menapak pada titik yang sama?
Masihkah kita dengan wajah yang begitu-begitu saja?
                                 
Kalau saja mereka paham atau mungkin aku paham                                    
Dunia ini sudah runtuh karena omong kosong kita setiap tahun
Dunia ini tertawa karena kebobrokannya setiap tahun
Meniru budaya yang mendewakan pesta
Ada yang senantiasa memanjatkan doa
Ada yang melepas harga dirinya
Ada yang menganggap ini biasa saja

Aku hanya bisa merenungi langkah ini
Sejauh mana mampu bertahan
Sejauh apa aku telah berusaha
Apa yang sesungguhnya kudambakan dan orang tuaku dambakan padaku sejak ku kecil?

Apa yang sebenarnya ku kejar?

Dunia berbalik bertanya padaku
Kemajuan apa yang telah kuhasilkan


Monday, December 29, 2014

Dunia Dalam Doa

Merajut sebuah jawaban dalam benih ketidakpastian
Rambutnya tergerai lembut menyusuri awan hitam
Dia enggan berbalik walaupun iya tahu ada jawaban di belakangnya
Masih seperti dulu
Mengkhayalkan hal yang belum terjadi
Masih seperti pada masa itu
Menangis tanpa alasan

Mengetuk sebuah pintu yang tak dikunci
Jemarinya bergetar seraya berada dalam ruang hampa udara
Dia enggan bersuara walau tahu suaranya akan mengeluarkan jawaban
Masih seperti kemarin
Mengasihi diri sendiri tanpa tahu pasti arti kata kasihan
Masih seperti pagi tadi
Lupa akan secangkir susu yang dia tinggalkan

Melangkah menuju lapangan berjeruji
Kakinya terpincang-pincang seolah akan jatuh di titik yang sama
Dia enggan untuk hanya duduk walau dia paham apa yang ada di sana
Masih sama tiada beda
Sadar akan Tuhan tiada dua untuk membantunya

Friday, December 12, 2014

Rasa Abadi

Warnanya begitu menggodaku
Memaksa ragaku untuk mendekat
Kuhirup dalam aromanya
Sungguh segar dia, sungguh penuh dengan sensasi

Dagunya terangkat, menggambarkan leher jenjangnya
Rahang seperti itu yang kucari
Tajam dan tegas
Sangat memiliki jati diri

Ku raih punggungnya, lebih hebat dari guncangan semalam
Hanya sekali sentuhan aku tahu
Tahu bahwa tubuhnya begitu bugar
Dia menatap lurus kearahku, masuk hingga ke retina, terbalik lalu terjatuh

Jemarinya menyentuh pipiku
Semakin dingin
Semakin hanyut
Aku melemah dan hanya dapat menarik nafas panjang
Kedua belah bibirku merekah lalu menghembuskan nafas halus

Dia bingung menatapku
Dia bertanya-tanya akan diriku yang mengagumi jemarinya
Jentik, panjang, dan sekali lagi, begitu tegas

Kuberanikan diriku untuk menjauhkan tangannya dari pipiku
Bukannya betul-betul kujauhkan, melainkan ku genggam
Tepat saat dia memiringkan kepalanya
Semakin jelas leher itu kulihat
Alis mata tebalnya
Matanya yang tajam
Bibirnya yang sempurna
Hidungnya yang menjadi impian setiap manusia
Semua itu tidak menarik perhatianku

Yang aku tahu
Sekali lagi bau segar ini kucium
Sekali lagi aromanya sangat nyata

Kubayangkan warnanya yang pekat
Sedikit kental dan akan membuat bibir ini semakin merona

Aku sadar setelah kita semakin dekat
"Aku mau meminum darahmu!"

Sunday, December 7, 2014

Wadah Sebuah Jiwa Bernyawa

Nyawa, apa kabar kamu?
Marah rasanya ketika aku tahu kau baik-baik saja
Jiwa ini mengalun manis saat terakhir kali wadahnya hancur
Jiwa ini tidak berbicara lagi tentang tawa bahagia

Oh ya, kepala ini seperti mengalami benturan besar
Memaksa lupa akan nyawa yang menggores jiwa
Cabut saja lantas itu akan jadi solusi
Kuburkan saja agar nyawa tak lagi tersiksa
Bukankah nyawa membenarkan darah ini menetes karena nyawa selalu benar?

Jiwa akhirnya rapuh dan kembali dalam kertas kosong
Tapi saat di balik, kertas ini penuh coretan
Pantas saja jiwa ini memberontak keras seakan ingin keluar dari wadahnya
Pantas saja jiwa ini kacau akan pikiran matang tentang pertumpahan darah

Akan kuraih sehelai rambutmu, hanya untuk memastikan kau bernyawa
Bukankah kabar gembira bagiku bila kau bernyawa?
Agar wadah ini bisa kembali berdarah tepat di hadapanmu

Senangnya jiwa ini ketika tahu kakimu tak lagi suci
Kakimu yang tidak suci itu berbau setan
Apakah kau tidak sadar kita sedang bermain dengan roh-roh pemangsa?
Semestinya kau diam saja saat api mulai membakar hatimu
Semestinya kau hempaskan tubuhmu ke tanah kubur itu
Nyawa, kau begitu bodoh
Mengedepankan nafsumu di atas segalanya

Jiwa akhirnya terbang menembus masa lalu
Menabrak dinding emosi yang telah lama ia bangun, ia pendam, ia remehkan

Seandainya membunuh itu bukanlah dosa
Ku pastikan nyawamu sebagai saksi pertumpahan darah pertamaku.

Sunday, November 30, 2014

Saya "Mariesa Giswandhani" #TolakUN Lagi!!

Kali ini beralih ke tingkat SMA. Apa yang seru di tingkat SMA?

Banyak banget kan? Hal yang paling sulit dilupakan, mulai berpikir tentang masa depan, banyak godaan persoalan cinta. Hihihi

SMP juga sih banyak hal lucu soal percintaan organisasi. Haha pengalaman.

Di SMA saya jauh lebih waras, tidak seperti SMP yang nakal bingitz. Pernah bolos juga sih, tapi makin logis alasannya.

1. Tidak suka sama pelajarannya
2. Ngantuk
3, Berlama-lama solat duhur

SMA juga makin sibuk dengan organisasi dan akhirnya belajar untuk lebih bertanggung jawab.

Di SMA, sosok guru banyak sekali. Hampir semuanya baik, hampir semuanya ngajar. Saya suka sekali. Teman-temannya pun pinter-pinter makin menantang untuk belajar. Tapi kok kita tetap saling contek mencontek yah?

1. Kami tidak menyontek di semua bidang pelajaran, hanya yang kami tidak paham atau bukan diri kami.
2. Kami menyontek karena takut tidak mencapai nilai standar kelulusan
3. Kami menyontek karena kami solid! Haha

Terakhir kali saya tidak menyontek hanya saat SD, pendidikan moral yang saya dapatkan di SD itu luar biasa, organisasi saat SD pun yang mengubah makhluk penjijik ini menjadi jorok! Tidak takut kotor dan mulai mudah berbaur.

Hanya saja itu tidak bertahan lama, godaan menyontek luar biasa saat SMP. Kadang saya berpikir, memangnya belajar susah yah? Teman SMP saya ada yang menyontek dalam segala hal. Saya bingung, mau jadi apa? Kalau tidak di kasi contekan sudahlah kita dimusuhi, dibuli, dianggap sok pintar, pelit, dan lain sebagainya.

Menyontek dihalalkan sesama teman, sebagai tolak ukur berbagi. Hasilnya apa? Sama-sama sukses. Haha

Hanya saja, walaupun persoalan PR pun kita menyontek. Berarti kita dirumah memang tidak mengerjakan PR!

Eitss, tunggu dulu, saya hanya menyontek PR Fisika (selalu), Kimia (kadang), dan Matematika (Kadang). Oke FIX!!

Sistem seperti memaksa, tidak mengenali potensi kita. Mau jadi apa sih sebenanrnya kita? Mereka yang menonjol di olahraga dianggap bodoh di kelas, yang menonjol di kelas dianggap bodoh olahraga, dan yang sibuk organisasi dianggap hanya pintar ngomong. Iyakah?

Ada juga yang bisa balance.

Anggapan itu sebenanrnya potensi.

Ada pula istilah begini

"Anak IPS itu nakal!"

Jurusan di SMA di bagi dua, ada IPA dan IPS. Anak IPA adalah anak-anak pintar yang baik. Taik!

Saya anak IPA, main kartu setiap di kelas, pernah bolos, ada teman yang hobinya pacaran terus di sekolah, anak IPA!!

Tidak ada hubungannya sama jurusan, bukankah jurusan itu diciptakan untuk memfokuskan kita akan tujuan dan potensi. Saya memilih IPS. Tapi orang tua menyarankan IPA, dengan alasan lebih universal dan high class. Entah apa patokannya. Padahal beberapa sekolah di Makassar ada juga yang menonjol di IPS.

Terbukti, guru IPS jarang masuk, kalau anak IPA nakal dibanding-bandingkan dengan anak IPS.

Mungkin itu hanya potret di sekolah saya. Masalah besarnya adalah, perlakuan guru yang tidak adil dan tidak sadar potensi. Yang nakal semakin dinakalkan, yang pintar makin pintar. Belum lagi persoalan anak guru nomor satu di sekolah.

Beberapa teman ada sih, anak guru tapi woles, ada juga yang kaku -_-" Kenapa ki fren?

SMA adalah masa gejolak, masa transisi. Mau maju atau mundur, mau gagal atau keren!

Gang makin marak, aksesoris makin oke, style ke sekolah dipaksakan menjadi ciri khas ata identitas seseorang. Padahal ini hanya sekolah lho! *baru sadar setelah kini S1*

SMA jadi ajang keren-kerenan, organisasi pun makin dihargai, makin mandiri, berani dan heboh soal pacar-pacaran. Mulai dari teman yang soleha dan juga solimin *mendzalimi diri sendiri dengan cumbuan maut sang kekasih*

Sekarang kalau diingat, begok yah! Toh masih SMA ko..

Hal itu hanya dipahami beberapa guru, ada guru yang coba membimbing dan mengajar sesuai dengan psikologi anak SMA, ada juga yang menganggap kita mahasiswa yang dilepas kayak anak ayam, mau belajar silahkan tidak juga gak masalah, toh gurunya tetap di gaji.

Saat SMA, saya tidak begitu bermusuhan dengan Fisika, tapi ada musuh baru, namanya KIMIA. Entahlah, barang ini mengerikan. Sekali lagi, "Saya tidak butuh rumus ION untuk meraih cita-cita!"

Hanya saja kali ini berbeda, gurunya mengajar di kelas, dengan sabar mengajarkan. Hanya saja kalau ulangan masih saja menyontek. Kenapa?

Karena Soalnya beda mi dengan yang dipelajari di kelas -_-"

Saat masih dikelas, wuih jago. Pas sampai di rumah, tidak bisa menyelesaikan soal fisika atau kimia sendirian. Kenapa yah?

Sampai sekarang saya masih belum bisa jawab. Sudah ikut les sama Ibu Rina yang sabar menghadapi saya walaupun hampir membuat saya dan teman saya Wanty tinggal kelas karena KIMIA tetap membuat saya tidak bisa mengerjakan soal ini sendirian.

Itu yang membuat ulangan itu wajib hukumnya Menyontek!

Praktek menyontek tingkat SMA pun jauh lebih berkelas. Makin keren, luar biasaaaaaaaa!

Pada saat kelas 3, godaan yang ada bukan cuma Joki UN, tapi juga SNMPTN.

*untung saya bebas tes :p tidak harus SNMPTN

Ujian Nasional pun jadi ajang lucu-lucuan, belajar yang kau kuasai, cek kertas kunci jawaban untuk yang tidak kau kuasai.

Hal yang paling lucu adalah, guru yang setengah mati mengajar akhirnya hanya berpikir tentang rating sekolah, kalau banyak yang tidak lulus kan malu. Mending dikasi kunci jawaban saja, supaya banyak yang lulus.

Tapi parahnya, teman-teman justru banyak yang tidak lulus di Bahasa Indonesia.

Bahasa ibu kita ini memang mengecoh, sumpah demi Allah, soalnya ngaco sekali, kayaki lagi ulang tahun semua pas ujian nasional, dia kerjaiki memang ini barang. Tidak tahu apa maunya!

Jawabannya hampir sama semua, belum lagi ada soal pendapat. Katanya pendapat, tapi pendapat kita harus sesuai dengan kunci jawabannya. Tololnya bukan main, katanya pendapat tidak pernah salah? Toh kan pendapatku yang ko tanya, tapi kenapa harus disesuaikan dengan pendapatmu?

Ujian Nasional ini untuk apa?

Lahan bisnis joki dan makin membuat kita tidak jujur. Hal yang disesalkan adalah, upaya kita selama sekolah tidak dinilai, UN menjadi patokan segalanya.

Di bawah ini saya kutip dari tolakujiannasional.com

Republik ini dibangun oleh orang-orang berani dan peduli

Siapa Soekarno Hatta? Apakah orang yang dirugikan oleh sistem penjajahan? Tidak! Mereka menikmati buah manis pendidikan Belanda

Siapa Tan Malaka & Ki Hadjar Dewantara? Apakah orang yang disingkirkan oleh sistem penjajahan? Tidak! Mereka dibesarkan oleh pendidikan Belanda

Tapi mengapa mereka tidak menikmati saja kemapanan pada jamannya? Tapi mengapa mereka tidak memilih hidup mewah menikmati manisnya hidup?

---

Tersebutlah teman kita, Nurmillaty Abadiah, sekian waktu memendam keresahan melihat praktek joki yang sistematis. Keresahan itu pecah ketika menemui kualitas soal Ujian Nasional yang tidak tepat, diluar materi belajarnya. Ia pun menulis Surat Terbuka Untuk Bapak Menteri Pendidikan.

Apa jawaban Menteri Pendidikan? “Mustahil surat itu ditulis oleh pelajar SMA”. Bukannya menanggapi pesan penting dalam surat tersebut, Pak Menteri justru meragukannya! Tidak percaya pada produk sistem pendidikan yang dipimpinnya sendiri.

Apakah benar tuduhan Pak Menteri? Sama sekali keliru! Nurmillaty Abadiah adalah pelajar SMA Khadijah Surabaya dan benar dialah yang menulis surat terbuka itu.

Siapa Nurmillaty Abadiah? Apakah dia seorang pelajar yang malas belajar? Apakah dia seorang pelajar yang suka mengeluh? Apakah dia seorang pelajar yang bodoh?

Tidak! Ia bukan pelajar yang malas belajar, justru pelajar yang berprestasi. Ia bukan menuangkan keluhan di surat terbukanya, tapi gugatan yang menghujam pada sistem penilaian bernama Ujian Nasional. Bodoh? Ia adalah anggota tim Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan peraih medali perak di tingkat internasional.


---

Balik ke saya lagi, hehe

Pantas tidak sih kita lulus UN kalau jujur?

Saya "Mariesa Giswandhani" #TolakUN

Saya "Mariesa Giswandhani" #TolakUN

Saya mengaku kalau saya fresh graduate. Eyyyaaa.. haha, saya sudah menelan pahit manisnya belajar di Tingkat SD, SMP, dan juga SMA.

Saya sempat kritis ketika Hari Guru yg jatuh 25 November kemarin disanjung oleh kebanyakan penghuni sosial media. Entah apakah mereka memang bahagia dengan semua guru yang mengajarinya. Sorry to say, saya gak! Gak semua kece, gak semua asik, dan gak semua ngajar! gak semua membimbing!!!!!

Iyyalaah..
Saya merasa benar-benar mendapatkan sosok guru itu saat SD. Hampir semua di SD gurunya membimbing!

Tapi, ketika saya masuk SMP, GILAAAAA!!!!

Saya sejak SD berpikir untuk memecah konsep umum tentang siswa(i) pintar itu harus rapi, terkesan cupu, sopan, dan jadi teladan. Masak weh??

Saya saat SMP :

1. Ranking 1 di kelas selama 3 tahun
2. Pernah bolos
3. Pernah Berkelahi
4. Bajunya tidak pernah di masukkan
5. Roknya di atas lutut
6. Selalu pakai sneakers dengan tali sepatu tengkorak
7. Pakai kalung ala-ala Kikan Cokelat dan Ayu Garasi
8. Ketua OSIS
9. Berani sama KAKAK KELAS yang katanya KAKAK!!

---

Okelah, itu hanya opening.

Saya memang punya nilai yang bagus di sekolah, tapi masih banyak yang lebih pintar dan juga preman. Saya benci pelajaran FISIKA so much!

Saya punya cita-cita, saya sekolah tidak mau asal sekolah. Saya rasa fisika tidak masuk dalam kategori mata pelajaran yang akan membantu saya dalam meraih cita-cita. Kenapa saya dipaksa untuk mencetak nilai bagus lewat FISIKA?

Saya punya guru matematika (pria), beliau tepat waktu kalau datang mengajar. Saking tepat waktunya, beliau juga maunya buku itu dihabiskan tepat waktu. Beliau hanya mengejar buku itu habis di ajarkan sesuai BAB. Pernah seketika saya dan teman-teman tidak mengerti materi itu dan meminta agar beliau menjelaskan ulang. Apa jawabannya?

"Kita ini sudah ketinggalan jauh, ini sudah mau ulangan dan masih ada 3 Bab, kita langkahi saja!"

Gilaaaaaaaaaaaaaaaa!!
Etaaang banget gak jawabannya?

Kalau cuma sekedar mau menghabiskan BAB sini bukunya saya bakar!!!!!!!!

Saya benci Matematika saat itu! Padahal saya yakin, saya punya potensi di Matematika, SD pun saya gak begok.

Bersyukurlah saat kelas 2, guru Matematika kelas saya di ganti. Bukan pria itu lagi. Kali ini Ibu Hera :) Beliau ini manis, masih muda dan berjiwa muda. Asik sekali, kadang marah, dan pernah mencubit saya ketika beliau menjadi wali kelas. Wajar sih!

Saya masih ingat, saat itu pelajaran Kesenian, guru Seni saya berkata :

"Nak, kalau memang haus atau lapar gak usah bohong. Banyak sekali saya liat izin buang air kecil padahal ke kantin buat beli roti sama minum terus masuk kelas!"

Itu kata beliau, oke saya praktekkan!

Tepat saat pelajaran Kesenian minggu selanjutnya :

"Bu, izin mau beli minum sama roti!"

Ibu itu langsung kaget. Lalu senyum dan mempersilahkan saya untuk ke kantin!"

Sampainya di kantin. Dengan santai saya jajan apapun yang saya mau, eh.. mendadak Ibu Hera (guru matematika dan wali kelas saya) muncul. Tepat di perut cubitannya luar biasaaaa!!

"Kenapa orang lagi belajar kau di kantin?"

"Ibu, saya sudah izin!"

"Mana ada orang izin ke kantin?"

*Wajar sih, saya nakal di kelas dan pernah bolos. Wajar, sulit dipercaya -_-

Tapi Ibu Hera itu keren sekali, berkat beliau saya jago Matematika saat SMP. Karena beliau mengajar! Saya tekan lagi yah "MENGAJAR".

Tapi sayangnya guru Matematika kelas 1 itu menjadi guru Fisika di kelas 2

Beliau mengajar di kelas saya! Bisa bayangkan jadi apa kami ini? Tidak ada satupun yang bisa mengerjakan soal Fisika. Fakta!!

Saat pertama kali, beliau menanyakan mau beli buku fisika atau tidak. Saya jawab, "Tidak pak!"

Teman pun akhirnya bertanya, kenapa tidak beli buku.

"Percuma ji, nda saya baca ji ongol! Mending saya beli buku lain, kayak tong itu buku mau ko baca, bikin berat-berat tas saja!"

---

Entah apa yang ada di kepala Bapak ini, beliau mengadakan ujian lisan Fisika, Satu per satu di minta kedepan dan memilih soal secara acak. Lalu mengerjakannya di papan tulis.

1. Memangnya kita sudah pernah di ajar yah pak?
2. Memangnya kita sudah paham makanya di kasi ujian?
3. Bapak pernah nanya gak kita ngerti apa tidak tentang buah mangga yang jatuh jaraknya harus dihitung juga? Plis dulueeeeh!

Saya tidur selama saya belum dipanggil. Untung sesuai absen, jadi saya masih sempat tidur. Saya duduk paling depan, selama SMP haram bagi saya untuk duduk di belakang. Beliau tidak menegur saya yang tidur, tapi saat teman saya membangunkan, Bapak itu berkata :

"Teman-teman mu tegang, kamu tenang!"

Yaiyyyaaaalaaah, cincailaaaah...
Tegang atau tidak, saya tetap tidak bisa jawab apapun soalnya. Terbukti, satu kelas dihukum !

Tidak ada yang bisa jawab. Salah siapa? Salahku?

Saya pernah ranking 1 dengan nilai fisika 5 di rapor :)

---

Pertanyaan nya? Patutkah saya ikut Ujian Nasional dengan jujur?

Saya takut tidak lulus Ujian Nasional saat SMP karena saya merasa nakal. Punya prestasi di kelas dan organisasi tapi menghalalkan bolos.

Tapi itu tidak masuk dalam penilaian, asalkan nilai UNnya bagus.

Patutkah saya lulus?
Saya belajar untuk apa?
Saya dipaksa nurut untuk apa?

---

Ada juga guru Olahraga saya, yang mohon maaf saja. Celananya tergantung ala-ala ustad. Tapi beliau pernah memukul kami sampai biru kalau tidak bisa berhasil skiping sebanyak 55 lompatan.

Ada kalanya tali skiping itu terlilit, kita terjatuh, kurang konsentrasi, dll. Hampir setiap hari saya skiping di rumah agar selama 55 kali itu saya tidak berhenti. Saya berkali-kali berhasil.

Tapi sayang, saat di sekolah Kayu 1 meter itu hinggap ke betis. Teman cowok saja ada yang menangis karena itu.

Apa tujuannya?
Terus kalau sudah 55kali kenapa?
Kalau gagal terus di pukul kenapa?
Kenapa PAK?
Birunya parah lho pak, butuh berminggu-minggu supaya hilang. Hasilnya cowok/cewek ke sekolah dengan kaus kaki yang tinggi.

---

PAK, ANDA TIDAK LULUS UN DARI SEGI KELAKUKAN!

---

Itu masih mending menurut saya, Teman saya mendapat perilaku tidak mengenakkan dari Guru Biologi. Guru itu memang dikenal Lale (porno).

Beliau tidak mengajar, melirik manis seolah kami mangsa. Mau menelan kami dengan segera. Hanya saja beliau memang baik, saya diperbolehkan menyontek setiap ulangan kalau beliau yang jadi pengawasnya.

Saya justru menantang guru-guru seperti ini. Saya malah pernah maju kedepan kelas dan berkata, "Apa pak? Apa yang bapak liat dari saya? Dasar Lale!"

Saya percaya, semakin kita berani, Orang kayak gitu gak berani macam-macam. Hasilnya teman saya yang kalem malah kena -_-"

Gak masalah, dia masih perawan kok! Cuma tangannya Bapak ini gatal, pegang hal yang gak perlu.

FIX, BAPAK GAK LULUS UN!!! SAYA MASIH LEBIH TERPUJI!!

---

Patutkah mereka menguji saya di ujian nasional?
Kalau guru yang becus gak masalah!
Kan mereka sudah ngajarin, wajar memberikan kami ujian untuk tahu potensi kami.

"TIDAK SEMUA GURU MENGAJAR, MEMBIMBING, APALAGI MENJADI ORANG TUA DI SEKOLAH!"

LALU UN UNTUK APA?

RUANG UNTUK PARA JOKI UN :)

Sunday, November 2, 2014

Pelari Kelas Teri

Meja lapuk, tua, dan kusam
Bergerak sendiri tanpa nyawa mengawalnya
Kaki kecil menghampirinya, tidak heran, justru menemani meja itu bercerita

Dalam gelapnya senja, kaki kecil itu membisikkan kata nakal
Dia katakan bahwa duniaku sedang terganggu oleh ketenaran

Kaki kecil itu tertawa lalu membuang muka
Dia masih terlalu belia untuk mengatakan itu padaku

Meja lapuk itu lalu jatuh dan menimpa kakiku
Yah kakiku, yang kupikir berada jauh darinya

Inilah ulah pelari itu, saat meninggalkan jejaknya di kaki orang lain
Kaki kecil itu berbalik dan tertawa lagi

Oh ya, ini maksud kata nakalnya yang mengartikan ketenaran adalah sebuah jawaban
Ini bukan tentang "popular" tapi "unpopular post"

Dia melambai lalu berteriak

"Jangan harapkan dunia lama kembali, ciptakan yang lebih segar dari kemarin!"

Gila saja, kaki kecil ini menasihati kakiku yang tertindas luka oleh pelari itu, bodohnya ini hanya sebuah meja lapuk!

Thursday, October 9, 2014

Arzanet dan Monster Pemaksa

Bermain pada teknologi masa depan
Mengungkapkan misteri lubang hitam yang kau tempuh
Ketika sekilas kau menghampiri
Ku tahu ini adalah potongan kenangan masa lalumu

Aku
Berjalan jauh dari tahun 3086 untuk memastikan kau sakit

Saat indah itu menyimpan satu minuman kaleng yang pernah kita minum bersama, bekas bibirmu masih terasa hangat di sana. Hanya saja basi, yah itulah kau.

Ini tahun kelam di masa sulit para monster yang mencoba merebut senyum bahagiaku. Lalu alarm pun berbunyi, ku pastikan itu Arzanet, dia sudah mengajak kita bergabung pada pasukan perang hati yang hendak merenggut nyawa. Awak pesawat yang paling tampan kutemui di belakang kabin, dia tersenyum tapi tidak menarik.

Aku menyadari Arzanet tertarik padaku lalu kau mulai cemburu, katamu seleraku rendah ketika memilih Arzanet. Lalu siapakah kau? Apakah mampu menaikkan derajatku dan strata cinta yang selama ini terkubur?

Cinta memiliki strata kawan, dan kau masih merangkak untuk menghampiriku. Sedangkan Arzanet datang dengan pesawat tempur itu bersiap perang hati. Dia tidak datang sendiri, tetapi dengan awak yang menyediakan strata lebih tinggi pada manusia yang sementara mengubur diri sendiri.

Arzanet hebat karena dia seusia denganmu. Kalian terlahir di tahun yang sama namun Arzanet lebih unggul. Kesalahan terletak pada takdir atau caramu menjalaninya? Tentunya Arzanet lebih menjanjikan daripada monster yang berlalu lalang.

Ini kah namanya kegalauan masa suram di 2079?

Kau tidak menyadari kehadiranku ini. Di tahun 3086 Arzanet adalah musuh bagiku, namun di tahun ini dia mencoba mendekatiku. Kau di masa itu tak terlihat dan tak terdengar. Bukankah lebih baik bila Arzanet yang ku harapkan?

Lalu siapakah aku ini? Monster yang memaksamu menjadi robot agar bisa menemaniku di masa mendatang?

Saturday, September 13, 2014

24 Jam

Aku mencintaimu 24 jam, dalam setiap langkahku hari ini, namun tidak kujamin padamu hari esok, karena bila esok ada, tiada lagi 24 jam.

Waktu bergurau lambat saat kau mulai mendekatiku, harusnya aku lebih dulu tahu kalau ini hanya debu. Sekuat apapun usaha itu, ujung-ujungnya debu juga, terlupakan, diabaikan, ditinggalkan, bahkan hanya sebatas untuk menghiasi timeline dengan status manis.

Cinta 24 jam. Itu yang berani ku pertaruhkan untukmu. Tiada esok tanpa hari ini. Aku tidak butuh kata cinta dalam secarik kertas yang menuliskan perasaanmu akan selamanya padaku, jelas sudah itu bohong, dan tulisan ini akan berubah menjadi '48 Jam' atau '96 Jam'.

Aku berpikir untuk jatuh cinta setiap hari, bukan menjanjikan untuk mencintaimu hari ini hingga esok bahkan sampai mati. Itu sama halnya dengan menjilat kotoran yang tidak mungkin kau atau aku kan lakukan.

Aku mau kau jatuh cinta setiap hari, aku mau aku jatuh cinta setiap hari. Rasa pertama saat menyadari kau menyukaiku, rasa pertama saat kau menyadari hatimu bergetar karena aku.

Bagai kupu-kupu dalam perut, terbang menggelitik hingga rasanya dingin hingga ke ubun-ubun.

Aku tidak mau rasa itu berubah, aku mau kau buatku jatuh cinta setiap hari, dan aku mau membuatmu rindu untuk mencintaiku setiap hari.

24 jam tanpa henti.

24 jam
24 jam
24 jam

Aku mencintaimu 24 jam. Tapi aku bukan mesin yang diciptakan bernyawa selama 24 jam, ada kalanya aku menghilang di menit ke-30 kebersamaan kita. Ada kalanya aku beristirahat di jam ke-16 kebersamaan kita.

24 jam tanpa henti mencintaimu namun penuh dengan aktivitas. 24 jam tanpa henti merindukanmu namun penuh dengan kesibukan. Itulah yang kurasa.

Ini pertanyaanku malam ini.

00.00

Aku tidak mungkin menyapamu tanpa sebab di penghujung 24 jamku, aku tidak mungkin memganggumu di penghujung 24 jammu. Tapi yakinlah, semua itu beralasan. 24 jam berikutnya akan di mulai. 24 jam berikutnya masih tanda tanya, akankah aku atau kamu masih mencintai orang yang sama?

Aku membiarkan mata ini terbuka tanpa sedikitpun memberi alasan di penghujung 24 jam ini. Aku hanya menuliskan keluhku dalam gelap di sudut kamar bersama dekstop anime. Harusnya ini menjadi hal penting ketika kau berada di penghujung rasa cintamu. Harusnya ini menjadi hal yang patut dipertanyakan.

Aku menjawabnya dengan tulisan ini, menjawab pertanyaanku sendiri dengan tulisanku.

Ada apa di pukul 00.00?

Bukankah aku mencintaimu 24 jam?
Dan kita masuk ke jam berikutnya?
Apakah kau masih mencintai orang yang sama?
Masihkah aku di sana?

Lantas kau menjawab,

"Aku mencintaimu 24 jam. Tapi aku bukan mesin yang diciptakan bernyawa selama 24 jam, ada kalanya saya menghilang di menit ke-30 kebersamaan kita. Ada kalanya aku beristirahat di jam ke-16 kebersamaan kita."

Itu tulisanku dalam gelap di sudut kamar ini.

Aku mencoba menjawabnya sendiri.

Lalu aku kini bertanya, masihkah kau bisa membuatku jatuh cinta di 24 jam selanjutnya?

Apakah 00.00 yang kulakukan tak membuatmu bertanya mengapa?

Akankah aku atau kamu siap jatuh cinta setiap hari kepada orang yang sama?

Saturday, August 16, 2014

Kalau Dia Itu Diam

Kemarin botolnya pecah dihadapanku, aku kaget lalu terdiam di bawah pohon gugur itu. Ternyata tidak menjadi alasan untuk tenang. Jelas sudah kalau ini jawaban persolan hari ini. Tapi dia mencakar matanya sendiri dengan jarum. Oh tidak, bukan jarum tapi kuku. Dia menghitung seberapa banyak dia mampu mencakar, semakin banyak luka yang dia hasilkan maka semakin tinggi derajatnya.

*Lalu aku terbangun

Ternyata botol, pohon, dan jarum itu hanyalah sebuah mimpi. Kuku itu menyadarkanku ini mimpi. Amat sangat tidak masuk akal dan tiada mungkin kau peroleh di dunia nyata. Jalannya sih singkat, tapi lelahnya terasa hingga pingsan.

Saat mereka mencoba membangun karakterku dengan menerka apa yang sedang kupikirkan aku lalu mengambil jalan pintas. Pola pikirku mungkin berbeda dari kebanyakan orang yang berusaha menyelaraskan buku bacaannya dengan kehidupan nyata. Kali ini aku mencoba menjadi nyata, keluar dari buku yang menjanjikan jalan hidup lurus tanpa kelok yang meneduhkan. Akhirnya aku mencari jalan lain yang instan. Ternyata lebih parah. Ini justru melahirkan buah pikir yang makin merasuk hingga ke nadi. Hal yang belum dipikirkan sudah dipikirkan jauh-jauh hari. Bukan visioner tapi takut akan masa depan buruk tanpa mencari solusi.

Jadilah dia air yang hanya mengalir ke bawah, kuulangi "KE BAWAH!"

Kini aku asal menjalani duri yang menusukku hangat. Iya, memang dia segalanya di atas segalanya hingga aku sadar bahwa aku bukan siapa-siapa. Pertanyaanya! DIA itu siapa yang dimaksud dalam tulisan ini?

Dia memaksaku melakukan hal-hal yang tidak perlu. Terkadang caranya hangat dan membenarkan, tapi kadang pula membunuh logika. Jadilah logika keliru yang menyelimuti sepi. Oh..tidak, ternyata ini mimpi lagi.

Aku lalu berdiri dan beranjak menuju jendela, mentari masih senyum seperti biasa, tananhnya pun aromanya tidak berganti. Lalu apa ini? Impian semu? Jalan buntu?

Tiada keberanian memastikan dunia. Akhirnya aku kembali ke dalam selimut itu, lalu aku tidur kembali, berharap mimpiku berlanjut.

Ini tentang aku dan dia (otak)

Dunia ini bukan fantasi, tapi penuh fantasi.
semenit saja berimajinasi tentang fairy tale, jadilah dia lima tahun mendekam dalam doa.

Monday, August 4, 2014

Musim Kelabu

Mentari masih saja menyapa dengan ramah
Berharap angin yang berhembus pagi ini kabarkan senyuman
Sejenak dedaunan kering terbang ke arahku
Mataku lalu terurai senyap seperti senja

Pagi ini seperti ada ombak di teras rumah
Seperti ada gambaran dunia dalam botol plastik di samping dinding pintu
Bagai kemarau panjang namun dingin
Beku dalam tanya besar dalam sebuah impian

Ini langkah penuh tanya yang paling kutakutkan
Meraih segenggam harapan dalam senyumannya

Pelukan ini masih kosong
Dan hanya akan diisi oleh seseorang yang pantas
Bagai bunga di pojok meja di ujung sana
Yang enggan melirik akan masa depan yang masih diam di sampingnya

Seraya mengusap keringat di kening ini
Lelah rasanya melewati pendulum yang tak berhenti berdetak
Kalau saja ini mimpi, nyatakanlah
Namun ini kenyataan, utarakanlah

Aku masih bingung dengan otakku yang sibuk menerka sikap
Takut akan benang merah yang mempertemukan kita yang bisa jadi menghancurkan kita
Harusnya ku biarkan saja agar bel itu jatuh dan tak bunyi lagi
Harusnya ku hancurkan saja pintunya agar tiada lagi yang datang mengetuknya
Biar jadi satu alasan untuk menjauh dalam hidupmu

Musim kelabu, samar-samar tapi nyata
Andaikan mereka bertanya tentang impian, sudah pasti akan kujawab
Tapi mereka bertanya tentang kekinian
Di saat kita sedang menari bersama dan tak tahu akan mengakhiri tarian ini seperti apa

Aku tidak mau jadi malaikat yang tersenyum lalu menjauh
Aku pun tak mau kau begitu
Kita tidak banyak menghabiskan minuman di hadapan kita
Tapi kita tak jua berbicara akan masa depan
Kita hanya tertawa lalu pulang dengan harapan
Kita tidak tahu pasti kapan kita akan duduk berdua

Gerobak Dagang

Saya punya satu keinginan berbeda dari ribuan keinginan. Mungkin ada yang sama dengan saya. Hanya saja tidak sepenuhnya sama. Itulah saya, maunya beda terus tapi sebenarnya tetap sama. Saya pernah menulis satu puisi tentang kekecewaan hati akan impian. Mimpi itu hal besar yang harus dipertanggung jawabkan. Saya pernah menulis tulisan berjudul "A Dream". Itu tulisan yang sudah cukup lama saya posting di blog ini.

Entah mengapa saya merasa terhalangi untuk membuat hal saya inginkan itu pasca kuliah S1. Tuntunan untuk menjadi lebih besar sekali dari orang tua. Saya merasa tidak pernah salah langkah. Selama kuliah hampir 4 tahun, saya tidak pernah jadi pengangguran. Justru sekarang ini saya malah menganggur, padahal jelas sudah kalau saya ini S1.

Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin, yang fokus pada bidang broadcasting. Awalnya saya memilih broadcasting karena saya tidak mau kuliah itu terkesan gampang. Jujur saja, saya tidak pernah merasa sibuk karena kuliah, makanya saya tetap berorganisasi bahkan bekerja. Saya pernah menjadi Jurnalis KeKeR di Harian Fajar. Banyak yang saya peroleh di sana, termasuk persoalan jurnalistik. Hal itu yang membuat saya tidak ingin fokus di jurnalistik saat kuliah. Akhirnya saya memilih broadcasting, jadilah saya TUKANG selama 2 tahun.

Saya mau kursus menjahit pasca kuliah S1. Pertanyaannya, nyambungnya dimana dari broadcasting? Gak ada bro.. gak ada..

Mama sering buat baju sendiri, saya mau punya karya baju sendiri. Alasannya simpel, karena saya mau beda dari yang lain.Lagi-lagi maunya beda. Saya pun sering dikecewakan sama penjahit, hasilnya beda sama yang saya gambar dan bayangkan. Sering kali saya sudah berangan-angan jainya seperti Princess, ternyata ngenesss...

Hal itu yang mendorong saya mau belajar menjahit, tapi sampai detik ini selama saya nganggur, saya cuma menghamburkan tabungan saya untuk bersenang-senang. Sah-sah saja, Toh selama 4 tahun saya lelah banting tulang ngumpulin duit buat kesenangan saya sendiri. Haha..

Keinginan saya untuk menjahit itu maunya bisa terwujud dengan bersekolah S2 di Prancis. Paris masih menjadi tempat tujuan utama dan yang dipercaya untuk Fhasion dan juga film. Nah, galau sudah saya karena mau di film juga.

Uang saya sudah tipis sekarang, padahal nganggurnya sebulanan. No job, no project, just happy. Haha but NO MONEY NO LOVE!!

Yah, itu yang saya rasa sekarang.

Saya akhirnya memberanikan diri, saya hanya meminta GEROBAK sama papa.

"Papa, belikan saya gerobak. Itu saja, saya nda punya modal beli gerobak, saya cuma mau jualan!"

Itu yang saya mau akhirnya. Saya selain pernah jadi jurnalis, pernah juga jadi marketing di Vedit, dan pernah MLM di oriflame tapi tingkatannya gak naik-naik. Oriflame produk kecantikan yang memang saya pakai, So gak masalah kalau saya mau gabung bisnisnya, tapi gak ada hasilnya. Susah banget buat rekrut orang. Lebih enak marketing di Vedit, lebih gampang ngomongnya. Hal itu yang buat saya mandek di Oriflame. Gak bisa dengan sistem downline itu. Susah buat saya.

Saya pun pernah jualan jilbab, milih kain sendiri, plus jahit sendiri. Ada juga yang beli dalam jumlah banyak dan saya jual kembali. Saya jualnya sistem online. Sampai-sampai grup organisasi saya Liga Film Mahasiswa, saya pakai buat promo produk. Hahahaha..

Rasanya enak jualan, nama akun online saya saat itu Fash Merakyat. Kenapa merakyat? Soalnya barang saya murah, tujuannya simpel. Banyak mereka yang mau tampil cantik dan modis tapi mahal. Makanya saya mau buat yang less price tapi kualitasnya bagus. Terbukti kok, jualanku laku. Paling mahal 50 ribu untuk jilbab, paling murah 15 ribu.

Untungnya lumayan, bisa habis di buat beli sepatu dan tas. Haha, belanjaku masih jauh lebih over dibanding jualanku.

Tapi keinginanku memiliki gerobak tidak terwujud, Papa sama mama bukannya tidak mendukung keinginan saya berjualan, terjun di fashion, ataupun film, ataupun jadi dosen. Tapi mereka mau kalau saya punya pekerjaan tetap. Saya sempat berpikir untuk bekerja di media lagi. Tapi selain karena sulitnya buat independen, Papa sama Mama pasti gak setuju lagi. Pengalaman pas masih di Fajar. Hari libur gak libur, hari raya ngeliput. Luaaaar biasa.

Makanya saya maunya jadi pedagang yang bisa bikin film kapan aja saya mau dan mengajar di salah satu Universitas di Indonesia (dosen).

Tapi mesti punya pekerjaan tetap. Like BUMN dan CPNS. Soalnya kalau sekarang mau jadi dosen gak bisa, mesti S2 dulu. Sekarang mungkin saat yang tepat buat cari pekerjaan tetap sesuai dengan bidang studi saya selama kuliah. Semua bidang dalam Ilmu Komunikasi lah pokoknya. Next gajinya buat modal dagang, terus kursus bahasa Inggris sama Prancis. Terus cari beasiswa ke Prancis, terus pulang bawa karya, besarkan nama Indonesia. HUAHAHAHAHAH

Entahlah.. jadi apa saya kelak.
Gerobak dagang. Sesungguhnya kau yang kuinginkan saat ini.

Karena Sejak Itu Kamu!

Bayangkan jalan yang kau tempuh di sana sama persis dengan apa yang ku lalui
Ingatlah satu tempat kembali yang letaknya tak jauh dari dirimu
Sayang sekali ketika kesadaran ini menjadi tempat untuk menangis

Yah,
Aku tahu mereka makin menggila mempertanyakan tentang ini
Kadang tingkat rasional dalam diri ini menjadi buta untuk menjawab
Sering kali hanya sebatas batu yang diam namun menyakitkan

Kerasnya tidak terhalangkan
Kamu tahu kan saat kita duduk berdua di tangga kecil itu, ada sebuah tanya menghantui yang membuatku merona
Seiring waktu aku akan menjawabnya dengan serius
Aku hanya sedang tidak baik-baik saja
Manakala bintang pun enggan memberikan kerlipnya pada senyum yang kutorehkan
Senyumku boleh jadi kau tolak

Kadang mereka melebih-lebihkan sesuatu yang tidak akan kulebihkan
Kadang pula aku malah tampil berlebihan untuk menjadi nomor satu
Sejak saat itu aku sadar kalau kamu ada
Kamu menapaki waktu kosong itu bersamaku
Yang jelas kunilai hanya sebagai titik perkenalan

Sesaat aku terdiam ketika memulai percakapan serius
Masih saja bergulat dengan masa lalu
Aku tak langsung menatapmu yang ada di hadapanku
Hanya saja aku menjadi optimis

Karena sejak itu aku sadar
Kamu sudah hadir lebih awal
Memang sengaja menjaga perasaan
Dan kamu ada

Karena sejak saat itu
Kamu!

Belajar Mengenal dan Menghargai (Pencari Tuhan)

Ini terjadi ketika saya duduk di bangku SD. Bukan hal baru bagi saya terhadap pertengkaran di lingkungan teman. Sering kali saya menjadi objek untuk tingkah jahil dan ejekan seputar kisah cinta anak SD. Saya pernah amat membenci teman saya, kerjanya hanya mengganggu dan gemar menyontek. Saat itu menyontek adalah perbuatan tercela di masa SD. Berbeda ketika jenjang pendidikan semakin tinggi. Kita semakin lupa akan pengawasan Tuhan pada kita. Justru, ketika kita tidak menyontek akan di anggap terlalu serius dalam belajar, dan ketika tidak memberi contekan, kita adalah makhluk pelit sejagad raya yang harus siap di buli di belakang layar dan di benci teman sekelas.

Saya pernah meminta untuk dipindahkan dari sekolah karena muak dengan sikap teman saya yang nakal. Teman perempuan pun banyak yang suka mengejek saya NORAK. Saya tidak mengerti kenapa, hanya karena saya suka warna "MERAH". Bagi mereka warna ini terlalu menyala dan terkesan norak. Sekarang baru saya paham, tidak semua orang cocok menggunakan warna merah, dan warna itu ternyata menjadi simbol kepribadian, bahkan diartikan berbeda-beda oleh banyak orang.

Saat itu saya sakit hati, tapi saya ada dalam bagian mereka. Saya pun bukan tokoh protagonis di hidup ini, saya bisa mencela apapun yang saya mau. Bahkan mengatakan kalau teman saya itu dari keluarga miskin yang tidak bisa merawat diri. Hal itu pernah saya lakukan di usia SD. Saya tidak merasa bersalah, karena saya pun punya teman yang sering menceritakan keanehan saya di belakang layar. Entah itukah yang dilakukan anak SD? Hanya saja saya adalah tokoh frontal yang berani mengkritik siapa saja depan umum.

Perlahan keinginan saya untuk pindah sekolah itu pudar dan lenyap seketika. Saya masih ingat percakapan Mariesa si anak SD angkuh itu kepada ayahnya.

Saya : Pa, saya mau pindah sekolah!
Papa : Kenapa?
Saya : Saya sering diejek, terus digangguin sama teman cowok, saya biasanya balas tapi mending saya pindah saja. Ada juga temanku yang nakal sekali pa, saya mau pindah saja.

Saat itu papa menjawab dengan bijak.

Papa : Di semua sekolah ada anak nakalnya, dalam satu kelas, ada yang paling cantik, ada yang cakep, ada yang biasa-biasa saja, ada yang paling pintar, ada yang bodoh atau sulit menangkap pelajaran, ada juga yang nakal dan suka diejek dalam kelas. Berteman saja sama siapa saja.

FIX!

Jawaban yang mudah kucerna di usia SD, dan saya menulis ini sambil meneteskan air mata. Akhirnya saya paham.

"Dunia ini diisi dengan berbagai masalah, berbagai tokoh, sikap, dan juga strata sosial. Tujuan satu, untuk belajar menghargai, menguji kita untuk sabar, dan senantiasa bersyukur."

Saya tidak lahir di keluarga kaya, tapi saya mampu tampil dengan berbeda-beda sepatu setiap jalan, saya tidak suka meminta-minta barang atau apapun kepada Papa, karena beliau mengajarkan saya menabung.

Katanya, "kalau kamu mau sesuatu, kamu nabung, bukannya papa gak mau belikan. Tapi kamu harus belajar usaha, kalau target yang kamu mau beli tercapai, rasanya lega dan pasti bangga ke diri sendiri!"

Saya menyesal pernah mengeluarkan kata "miskin" kehadapan teman saya yang juga pernah ikut mengejek saya. Saya kadang merasa, apa dia tidak bercermin sebelum menghina? Tapi pertanyaan itu pertama kali harus ditujukan ke diri sendiri yang sampai detik ini pun belum juga menjadi pribadi yang bijak.

Saya tidak jarang menjadi tokoh yang membuat teman-teman saya tertawa. Saya humoris, saya berani tampil gila. Saya pun adalah perempuan yang senang sekali dengan puisi. Saya berkali-kali tampil membacakan puisi saat SD, dan menjuarai lomba puisi. Saya pun bahagia dengan yang saya jalani dengan ikut menari dan bermain drama saat SD. Kadang pula tampil bernyanyi dalam paduan suara. Saya pun aktif di organisasi pramuka SD. Saya sering ranking 2 dan sulit menggeser teman saya yang hobinya ranking 1.

Saya tidak pernah dimarahi karena nilai jelek.

Saya : Papa, saya dapat nilai 2 pelajaran agama.

Papa saya kaget ketika saya mendapat nilai 2 saat SD. Mungkin beliau berpikir, kurangkah buku yang beliau belikan untuk saya? Bukankah saya sudah di masukkan di TPA?

Jangankan buku tentang agama, saya muntah2 baca buku banyak waktu SD. Saya juga langganan majalah Bobo sampai SMP.

Papa : Kok bisa? Coba papa liat kertas ulangannya! Sudah di bagikan kan?
Saya : Ini pa, saya tidak tahu jawabannya. Banyak pertanyaan tentang hadist.
Papa : Kamu tidak pernah baca buku? Tidak belajar sebelum ulangan?
Saya : belajar
Papa : Coba bawa bukumu kesini!

Awalnya saya takut untuk mengatakan hal jujur persoalan nilai ulangan. Tapi saya paling takut bohong sama orang tua. Semua temanku mungkin pernah saya bohongi, bahkan guru. Itu di usia SD. Tapi tidak pada orang tua. Tepat saat itu juga saya sama papa membahas soal dan isi buku pelajaran agama.

Rasanya lega, dan saya cuma disuruh belajar dan perbaiki nilai di ulangan berikutnya. Teman saya ada yang dimarahi. Tapi tidak dengan saya. Dari kecil mama juga sudah menerapkan sistem diskusi dalam rumah. "Yuk, curhat tentang apapun!" kasarnya kayak gitu.

Saya akhirnya berani cerita apapun, bahkan persoalan di hukum di sekolah.

Saya punya banyak teman akrab yang berbeda keyakinan. Dulu saya bilang ke mereka. Tuhan itu satu, agamanya yang banyak. Tuhan itu satu, tapi nama panggilannya beda-beda.

Saya terlahir di keluarga muslim, jelas sudah saya muslim. Seorang muslim yang banyak tanya. Di TPA, saya pun tidak jarang pulang dalam keadaan menangis, entah karena sendal di curi ataupun berkelahi. Yah, saya pulang dalam keadaan kalah. Tapi saya tetap punya banyak teman di TPA. Tetap punya gang.

Saya benci dengan perkelahian yang diisi dengan sumpah.

"Saya sumpahi ko masuk neraka!"
"Jangko nakal mariesa, masuk neraka ko itu!"
"Di tunggu ko di neraka jahanam kalau ko gangguka!"

Itu mamanya yang ajarin kayak gitu yah?
Terus saya harus ikut-ikutan?

Alhasil..

"Kau itu yang masuk neraka, karena duluan ko gangguka!"
"Biarmi, kayak tong bisako masuk surga!"
"Neraka jahanam kau nah!"

Saya tidak habis pikir dengan kata-kata itu. Yang saya tahu, saya gila karena ikut-ikutan seperti itu.

Tuhan itu seperti ancaman.

Seolah-olah kita ini makhluk yang sengaja diciptakan untuk berdosa. Supaya neraka ada isinya. Sekali lagi saya cuma mengadu.

Saya : Mama, kenapa saya disumpahi masuk neraka? Kalau kita nakal masuk neraka kah?
Mama : Makanya jangan nakal. Sholat. Begitu memang anaknya 'tiiiit' tidak usah di dengar.

Kata SHOLAT!
Ini kata yang mengantarkan pada buku kesekian yang saya baca. Saya membaca hadist dan buku tentang baligh. Intinya, saya baru bisa berdosa kalau saya sudah mulai haid. Itu syarat baligh perempuan. Jadilah senjata baru dalam pertengkaran dunia.

"We Mariesa, masuk neraka ko nah!"

"Tidak nah, karena belum paki baligh, jadi tidak berdosa paki!"

"Iyo?"

Musuhku langsung lumpuh seketika.

Mama selalu mengajarkan saya sholat dan puasa. Saya memang sholat. Tapi puasa saya selalu setengah hari, rasanya menahan lapar itu susah. Dan saya belum baligh, saya baru memulai puasa sehari penuh itu ketika saya duduk di bangku SMP kelas 2, saat saya mulai haid.

Pemahaman saya tentang baligh saat haid membuat saya tidak mau puasa dengan penuh.

Mama sama papa tidak pernah memaksa, dan tidak pernah mengiming-imingi saya kado ketika puasa atau sholat saya full!

Saya belajar untuk mengenal Tuhan dengan ikhlas.

Saya pernah bertengkar hebat seusai pelajaran agama saat SD. Kalau belajar agama otomatis kelas di bagi, yang non-muslim ke kelas lain, yang muslim tetap dalam kelas. Saya bisa mengaji dengan lancar, dan saya berani mengejek teman saya yang belum bisa mengaji.

"Ko ndak di kasi mengaji di mesjid sama mama mu kah?"

Itu ejekan atau pertanyaan?

Seusai pelajaran agama, saya membaca buku teman saya yang non-muslim. Awalnya saya bertanya dengan baik dan sepaham. Semuanya sama, kita sama-sama punya nabi Adam sampai nabi Isa. Di sinilah pertengkarannya. Mereka tegas memperkenalkan Tuhannya, dan saya dengan tegas

"Tuhanmu itu manusia, yang ciptakan dia itu Tuhanku!"

Alhasil saya dimusuhi.Lagi-lagi yah...

Mereka bilang, Tuhanku tidak kelihatan, tidak tahu ada apa tidak.

Sosok Tuhan pertama kali dikirimkan dalam wujud orang tua. Dari yang saya tuliskan, orang tua saya diciptakan untuk pelan-pelan memperkenalkan saya pada sikap Tuhan.

Kita diciptakan beda-beda, dibebaskan mencari langkahnya dan memperoleh kasihnya dengan cara apapun yang Halal dan syar'i.

Tuhanku tidak kelihatan yah?
Kentutmu kelihatan?
Nafasmu kelihatan?
Rasa cinta kelihatan apa dirasakan?

Kenapa kamu tidak bisa melihat darahmu sendiri kecuali ketika kamu berdarah karena luka?
Saking dekatnya darah itu melekat pada tubuh, maka kita tidak bisa lihat.

Begitu pula Tuhan, terlalu dekat. Letaknya di hati, makanya saya tidak lihat, tapi saya rasa. Dan saya takut melukai hati ini, karena di sana ada Tuhan, di sini, di hati kecil.

Saya diciptakan bukan untuk langsung menyembah, tapi memahami. Dengan cara mempertemukan saya dengan orang tua dan teman-teman seperti kalian.

Tuhan saya tidak saya ukir dalam kayu lalu saya sembah, tidak saya buatkan kerangka bunga lalu saya sembah. Dia lebih hebat dari apapun, buat apa di ukir, buat apa di bawakan buah maupun bunga? Toh dia yang ciptakan. Dia tidak meminta saya membayar nafas dan darah. Dia hati kecilku.. Allah SWT.

Perlahan saya paham dan mulai menghargai mereka. Semua butuh proses, kami tetap bersahabat. Semua ada jalannya, Semua agama pun sebenarnya mengajarkan pada kebaikan. Namun ada hal yang lebih indah saya dapatkan di sini. Pelan tapi pasti akan hadir di tulisan saya selanjutnya.

:))

Tuesday, July 29, 2014

Tentang Jatuh Cinta

Hati memang satu. Cuma satu, tapi bisa diisi dengan ribuan orang, rasa, dan masalah.

Lebih dari lidah.
Lidah hanya merasakan empat rasa pasti.
Tapi hati merasakan lebih dari itu, kadang pula bergetar sendiri tidak menentu, hingga pemiliknya pun bingung, rasa apa ini?

Sesekali ku bertanya pada cermin tentang rasa ini.
Dia tertawa menatapku
Dia senyum-senyum sendiri
Dia mengecek wajahnya mulai dari jidat hingga bentuk bibir saat tersenyum
Tak sedikit pun mau menunjukkan keburukan
Dia itu aku dalam cermin.

Itukah jatuh cinta?
Selalu ingin terlihat sempurna?

Salah

Kesalahan besar

Jatuh cinta itu rasa yang tidak bisa digambarkan.

Aku tidak pernah menilai jatuh cinta sebagai hal mematikan untuk diriku, hanya saja ketika harus kutunjukkan kepada orang yang kucintai, cinta itu akan ku takar. Mengapa? Karena aku tidak mau rasa cinta ini habis lalu berubah menjadi perih dan kecewa

Aku lebih bahagia mana kala memendam rasa ini.
Hanya menuangkannya lewat tulisan dan senyuman yang biarlah di nilai dan dirasakan sendiri oleh orang yang kucintai.

Aku tidak pernah memaksakan cinta pada orang yang kucintai.

Aku mencintai seseorang bukan karena dia sudah punya pacar atau belum, tapi karena memang tulus mencintainya.

Aku mencintai seseorang bukan karena dia mencintaiku juga atau tidak. Tapi karena memang aku mencintainya.

Tapi tidak berlaku untuk seseorang yang telah berkeluarga. FIX!

Kadang mereka merasa rugi ketika cintanya harus terpendam dan tak terungkapkan.
Kadang mereka merasa sakit ketika hanya memendam rasa ini sendirian.
Kadang mereka gelisah ketika cintanya tidak terlampiaskan.

Aneh, padahal ini rasa yang indah.
Tiada sedikit pun rugi maupun sakitnya untuk disimpan dan di jaga.

Aku menyimpannya dalam kotak emas yang akan terbongkar isinya kelak pada waktu yang tepat.

Aku akan membuka kotak emas ini bersama orang kucintai.

Isinya lebih dari sekedar harapan, lebih dari sekedar mimpi, semua sudah terpendam lama, dan hanya akan terlampiaskan kepada seseorang yang pantas menerimanya karena sudah terlahir tulus untuk turut menjaga hatinya untukku pula.

Amin.

Friday, July 25, 2014

Pemuja Galau #2

Sering kali banyak yang mengeluh dan curhat persoalan hati. Bertanya seputar pria ataupun wanita yang ia sukai. Sebenarnya hal ini bukanlah masalah besar ketika ia sadar apa yang ia rasa. Hanya saja, ia hanya menyimak sakitnya saja.

"Larut
Bagai sebuah cahaya yang tak sengaja muncul saat malam
Mengajak kita menari di atas gelapnya malam
Cahaya hanya sebagai tanda bahwa kita ada
Menerka hati satu sama lain lalu meninggalkannya,"

Yah, itu yang terjadi. Dan ketika kau diam saja saat ada yang memadamkan cahaya itu lalu menangis, kau adalah pemuja galau. Kalau kau sadar itu adalah angin lalu, pastilah kau akan tenang saja dan tidak akan galau.

"Menyapa ribuan sengatan lebah
Menyelimuti kalbu dengan tusukan pisau
Menyapu air mata lalu tertawa dalam cumbuan,"

Itu lagi yang terjadi. Ketika kau biarkan hatimu luka dan hanya dengan mudah diobati dengan rayuan. Sungguh kau nyata pemuja galau. Tidak mampu menilai dengan otak.

"Masih saja berayun dengan sepi
Mengukir makna di sebuah nisan
Lalu menyapa diary di pojokan kamar,"

Sekali lagi ia menangis lalu curhat ke delapan ratus dua puluh lima orang untuk mendengar pendapatnya satu per satu. Apakah lima saja tidak cukup? Parah, kau pemuja galau yang bangga dengan kegalauan.

"Menyimak hati demi hati
Melewati lorong demi lorong
Sesekali berbalik lalu menyesal,"

Sumpah, kau pemuja galau

Hanya mampu menangis, curhat, biarkan dirimu terluka karena terlalu sering berbalik belakang dan mengingat segudang masalah cintamu yang gagal.

Dasar pemuja galau.

Dihadapanmu sedang ada lilin menyala yang menunggu tuk di padamkan. Setelah padam, berjalanlah dengan lurus

Lilin itu mengantarkanmu pada ruangan gelap yang tidak hanya diisi satu cahaya, namun ribuan cahaya yang siap memberikan semua yang kau mau.

Berhentilah bermain dengan darah.

Jadilah Pemuja Cinta

Tuesday, July 22, 2014

Pemuja Galau #1

Masih saja dipenuhi dengan curhatan dari hati manusia yang tidak sadar akan langkahnya dan telah melakukan apa. Bagiku sampah. Ia bisa jadi sampah.

"Sesaat terdiam di tengah malam
Menangis sendiri lalu tertawa
Menatap langit-langit kosong yang berdarah
Iya, dia adalah luka yang membusuk dan mencoba merayu,"

Ketika kau diam dan terus meratapinya dengan bodoh. Kau adalah satu-satunya pemuja galau yang sedang meratapi masa surammu.

"Langkah itu pernah terluka oleh seseorang
Dia yang mengaku membawa mutiara dalam kegelapan
Masih lapar akan cumbuan manis di pucuk duri,"

Lalu, ketika kau menangisi itu tanpa bangkit. Kau adalah pemuja galau yang sesungguhnya. Yang hanya tahunya curhat lalu menangis lagi dan merasa sendiri.

"Sepi menyelimuti rembulan
Kala angin pun enggan berhembus nyata sudah ia telah pergi
Dihidupnya terpajang poster keabadian akan pencarian. Bukan pencapaian,"

Dan ketika kau masih berharap pada kenyataan palsu yang ia ciptakan. Jelas sudah kau PEMUJA GALAU

Tuesday, June 3, 2014

Orang Sakit

Kamu hadir biasa saja. Tanpa menyimak alur cerita.
Kamu tokoh baru dalam sebuah puisi penuh luka.
LUKA DALAM.

Kamu ketawa saja dihadapanku, kamu berusaha memuji dan mendekat.
Tanpa tahu orang yang kau dekati ini adalah orang sakit.
Orang yang pernah jatuh menghadap ke tanah dan tidak lagi mau tersenyum hangat pada lawan jenis. Kecuali sekedar merayu.
Tidak mau serius dan benci serius.
Tak lagi berpikir untuk menjadi seorang perempuan milik laki-laki.
Hanya mau bermain.

Orang sakit ini sempat menyukai seseorang diujung pulau tanpa sadar kalau kamu sudah ada lebih dulu.

Ujung-ujungnya ke kamu. Dia di ujung pulau hanya membuatkan bahagia satu bulan. Setidaknya, orang sakit ini mulai terobati. Namun dia tak merasa itu spesial.

Hingga kamu yang membuat orang sakit ini spesial hanya karena kamu suka dengan orang sakit ini.
Kamu menilai positif orang sakit ini.
Kamu memuji bahkan berani mendekati orang sakit ini.

Sampai kau tahu dia sakit karena apa, kau tetap ada.

Doa Siang Hari

Menyamar jadi orang lain, bermain bersama ribuan kata hingga jenuh tak menentu. Aku tahu aku salah. Hanya memberikan petunjuk tanpa hendak turut bermain. Tapi aku sudah bermain!! Pada bintang yang menggoreskan luka pada setiap pelukan. Hendaknya aku pergi saja dan menangis di atas bantal tanpa diketahui makhluk lain.

Iya, dia memang begitu, sering membuatku menangis. Sering marah padaku, sering membentak, dan tak tahu salahku dimana. Mereka bilang aku berubah, dan dia membunuh karakterku dengan sikapnya. Dia hanya mampu mencaci tindakanku. Sikapku pun salah. Bukankah ini biasa? Sikapnya lebih parah, membentak hingga merobek dan akhirnya aku berlari dengan darah dari kedua belah bibirku. Aku masih ingat saat terjatuh tepat di hadapannya dengan kakinya. Dijatuhkan dengan kakinya. Diinjak bukan terinjak.

Aku hanya menangis lalu memeluk. Ini hanya persoalan pesan yang berbeda cara tangkapnya. Aku sudah minta maaf. Setiap hari aku datang, menunggunya bangun, dan saat dia bangun, dia marah padaku, lalu tidur lagi.

Begitu setiap hari. Hingga akhirnya aku sibuk. Aku punya urusan mendadak. Tepat siang itu, aku terus berdoa. Agar aku baik-baik saja saat dia datang atau aku mendatanginya. Dia katakan padaku Tuhan tidak menolongku saat dia memukulku. Itu salah. Tuhan menolongku dengan keras, tidak lagi dengan cara halus. Bila Tuhan menegurku dengan halus, aku akan bertahan di sampingnya. Tapi Tuhan membentakku agar aku tidak terus menerus sakit.

Dokter itu membujukku untuk curhat, tanpa berkata aku menangis.
Dokter itu bilang.

"Kasihan kamu, kasihan badanmu, kamu cantik!"

Detik itu, aku merasa tidak cantik lagi.

Sederhana Sekali

Sederhana Sekali

Selalu saja kita membayangkan tentang bunga yang berwarna cerah dan bermekaran disekitar kita. Dengan aromanya yang lembut dan menenangkan. Bukankah berlebihan?

Terkadang kita meminta hujan untuk membasahi tanah yang kita injak, namun bukan hujan biasa, namun hujan dengan pelangi yang tidak terlalu deras. Bukankah berlebihan?

Rasanya seperti tidak tahu diri ketika membayangkan dan meminta hal yang mungkin saja tidak pantas hadir untuk kita detik itu, lalu memaksakan rumput untuk menumbuhkan bunga, dan memaksakan awan untuk saling berbenturan agar hujan turun.

Tidak, tidak lagi.

Harusnya kita sabar menanti yang kita mau. Bunga tidak bisa mekar dalam hitungan detik, wanginya pun tidak langsung terasa dalam kedipan mata. Begitu pula dengan hujan, ada di musim tertentu, lokasi tertentu, dan butuh proses.

Mereka memintanya, akupun demikian. Kita mungkin memintanya. Kita tidak sadar akan mentari yang juga menyinari dengan indah. Kita tidak sadar bahwa aroma rumput pedesaan pun menenangkan. Mengapa meminta yang ada tapi belum waktunya?

Indah bukan, saat kita menjalani proses menuju yang kita mau. Jujurlah, kau tetap tersenyum, setidaknya kau tersenyum. Lalu buat apa kau meminta hal yang membuatmu tertawa hingga menitihkan air mata yang tak jelas tetesannya?

Berlebihan.

Sederhana sekali.

Saat kau mau mencoba jadi bagian dari mimpinya. Cobalah dulu, mungkin kau memang telah hadir di mimpinya. Tapi apakah kau mencoba memimpikannya?

Begitu egois ketika terus meminta dan berharap lebih dari apa yang ada sekarang. Lihatlah, ada kelebihan yang kau tak nilai.

Misalkan, senyuman, sapaan, candaan, dan langkahnya untuk menuju tepat dihadapanmu hingga berjalan disampingmu.

Bahagia sekali, sederna sekali.

Mungkin sangat sederhana, genggaman pun tidak ada, apalagi pandangan berarti. Kami hanya melangkah bersama, tidak mau tahu terlalu jauh. Namun kami tersenyum saat bersama maupun tidak.

Friday, May 16, 2014

Berburu Darah

Pemburu..
Yah truslah berburu,mencari mati dengan sesuap nasi. Memaksa seseorang diam lalu mencoba menciptakan keheningan dengan luka. Jelas saja akan hening karena terluka.

Pucat pasih lalu mati.
Mati dipelukan kekasih yang memang berniat membunuhnya sejak awal. Hanya saja dia terlalu baik untuk diam dan menerima kekalahan yang ada. Pasrah lalu membiarkan getah menyetubuhinya. Rasanya enak dan sedikit terlena hingga menangis darah dan jatuh bercumbu oleh tanah.

Kadang harus merasa bahagia.
Lalu merubah kondisinya yang rusak itu seolah-olah bahagia. Penipu!

Jauh lebih hebat dari aktor manapun. Hingga berlagak layaknya teater. Sekali lagi jatuh, lalu menagis sendiri dan memeluk lutut. Kenanglah hati. Kenang saja hati muliamu!!

Mari saling menyakiti, namun menikmati rekahan dan sobekan tubuh. Menyelinap masuk perlahan. Iya, diijinkan untuk masuk dan menyelinap. Namun jangan hingga pelupuk mata mulai tertutup lalu bosan dan menampar.

Iya, bisa jadi bosan. Bisa saja bosan.
Namun faktanya, terus-menerus diulangi.

Buka saja, indah terlihat hingga rambutmu memutih.

Sadarlah akan yang kita perbuat ini.

Berlarilah kasih, berburu darah segar hingga kembali padanya yang kau busukkan dengan sikap kasarmu. Kau paksa dia menuruti maumu. Hinggapi dia, dia pasrah karena merasa nyaman dan telanjur berlumur dosa denganmu.

Itu yang membuatnya berlari padamu. Bukan karena hati tapi tubuh!!

TV di Utara Indonesia = Predator

Televisi di Ujung Pulau

Hal miris paling gokil saya temukan di Utara Indonesia. Pulau yang menurut saya terdampar di ujung Indonesia ini ternyata di luar ekspektasi saya.

Awalnya, saya berpikir, untuk mandi di Pulau ini pun susah, maklumlah, Pulaauuu katanya. Kebanyakan pulau di Indonesia ataupun tempat wisata pulau, tingkat air asinnya lebih tinggi, alias mandi pun airnya asin. Tapi berbeda dengan Pulau Miangas. Di tulisan saya sebelumnya, saya berceloteh tentang keindahan alam dengan bahasa puitis, di sini saya main frontal saja.

Saya sedih, di sana saya mengajarkan mereka mading. Menghias mading dan menulis cerita pendek. Banyak yang belum bisa membaca, dan sulit menangkap pelajaran yang di sampaikan. Selain itu, di sana minim guru. Tapi alat elektronik ada cuy..

1. Kita mandi di Kamar Mandi pake keran, gak sumur-sumuran.
2. Gak usah takut persoalan buang air besar, ada jamban bersih standar gak gali lobang.
3. Mau makan es? Butuh es batu? Ada kulkas.
4. Mau nelpon? Sinyal mantap !! LDR dari Utara Indonesia yang jaraknya cuma 2 jam dari Filipina? Aman cuy komunikasinya.
5. Mau internetan? Di sana ada PLN. Tersedia kabel LAN.
6. LISTRIK? Jelas adalaaaaaah.
7. TV???? ADA!!

Ini dia yang jadi masalah, anak kecil di sana membaca masih susah tapi hafalin dialog sinetron bisa. Adik saya yang namanya Tania. Saya di sana tinggal di rumah pendeta dengan SATU istri dan dua anak. Yang pertama namanya Demi (cowok) yang bungsu masih TK Tania (cewek).

Tania kalo di suruh nyanyi lagu rohani lancar, membaca terbata-bata. Tapi begitu meniru akting dan dialog sinetron, TANIA JAGONYA!

Sedih rasanya, mereka kesulitan untuk memperoleh bahan pangan langsung dari negara sendiri. Buku ataupun majalah di sana seperti impian. Ada internet tapi mereka gak tahu ngelola. Masih dasar dalam belajar komputer. Parahnya TV terang gak bersemut tapi gak ada edukasi buat mereka. Mereka mau belajar pake apa? Buku aja susah! Guru minim! Dokter ogah-ogahan! Puskesmas bersarang laba-laba! BBM 25rb/liter.

Mereka mau demo? Gak mungkin!! Pemerintah jaraknya jauh, paling banter lempar batu ke lautan.

Ini tentang TV yang gaulnya sampe ke pelosok, tapi Tuhan, isinya sampah! Alasannya memang untuk segmentasi menengah ke bawah. Yah, apanya menengah ke bawah? Ekonomi apa Pendidikan? Sudah tau menengah bawah, di suguhin sampah malah buat mereka makin begok. Diiming-imingi iklan citra buat kulit putih, bodoh amat, MIANGAS BROOO SUNBLOCK AJA GAK MEMPAN!!! Itu baru soal lotion!!

Gimana dengan mainan robot-robotan dan kemewahan yang gak jelas penyajiannya? Belum lagi sinetron yang kampretnya bukan main gak ada habisnya. Episode sampe ribuan! Biayanya sudah bisa buat IRON MAN.

Tania bicara seperti robot. Yah karena sinetron itu tuh! Lupa judulnya. Tania malam malas belajar, karena sinetron. Padahal punya bakat yang oke. Gak ada program acara anak-anak.

Yah, anak-anak masa kini, bukan lagi ngefans sama Cikita Meidy ataupun Trio Kwek-kwek. Tapi ARIEL NOAAAH BROOO, katanya tampan. KATANYAAA...

Nari-nari bukan ngikutin dance trio kwek-kwek atau tarian daerah. Tapi niru SMASH WE!! 'gilaka!'

TV di utara Indonesia cukup menghibur dan merusak generasi yang akses untuk dikunjungi saja susah. PREDATOR ANAK SESUNGGUHNYA ITU = TAYANGAN TV YANG GAK MENDIDIK!!

OKE SIPP!!!!

Wednesday, March 19, 2014

A Dirty Life

Bukan suatu hal yang baru kalau aku harus dikucilkan karena sikapku. Wajarlah, aku cuma seorang anak kecil yang bodoh. Gilanya, aku mampu melakukan apa pun termasuk membunuh.

Bukan sebuah cerita horor tentangku. Melainkan sebuah hiburan yang mampu merenggut nyawa orang yang menyinggung perasaanku.

Sudah berapa kali harus kukatakan, aku ini bukan cewek bodoh yang lemah, bukan salahku bila ku terus mengancam dan memberimu pukulan maut. Tak perlu ditanyakan mengapa aku begini.

Ayahku seorang mavia, dia selalu saja bertingkah seenaknya. Seakan dia Tuhan, entah ajaran baru apa yang dia terapkan. Gilanya, dia harus tercipta sebagai ayahku. Bodohnya ibuku sempat tidur dengannya.

Trauma sempat hadir dalam diriku saat kulihat ibuku terbujur kaku dihadapanku. Apa salahnya sehingga harus mati dengan cara seperti itu. Ayahku tersenyum lebar melihat hal itu. Saat itu ku masih berusia 4 tahun.

Ketika sang dewa maut mencabut nyawa ibuku, aku menangis. Seketika ayahku menggendongku, ku berlindung di bahunya. Bila saat itu ku sudah bisa membunuh, akan kubunuh ayahku.

Bukannya aku gila, tapi ini semua karena keterbiasaanku melihat kematian, yang disebabkan oleh ayahku sendiri. Agh.. aku bingung, kapan waktu yang tepat untukku membunuhnya.

"Shelli.." Teriakan bodoh sang mavia saat memanggilku, ku belum mau membunuhnya, karena tanpanya ku tidak akan punya uang. Ku hanyalah siswi sekolah swasta yang sudah 3 kali keluar masuk panti rehab. Wajar, mabuk-mabukan itu hobiku, ngedrugs sudah kutekuni selama 4 tahun, tapi sekarang ku bisa lepas dari barang haram itu. "Shelli.. Papa sudah bilang, jangan pernah berlaku kasar lagi," "anjing, kenapa papa melarangku?? Aku juga lebih hebat darimu! Uangmu terlalu banyak untuk membayar pengacara, sehingga aku tidak takut berurusan dengan hukum!" Kataku detik itu saat dia mencoba menjadi seorang ayah yang bijak. Ku hanya mendorong temanku saat di sekolah, dia terus menggangguku. Agh.. Aku tidak suka diganggu. Sempat kutabrak temanku saat pulang dari cafe, untungnya dewa kematian sedang tidur, sehingga dia tidak mencabut nyawa temanku itu. Sudah ku bilang. Aku ini pembunuh!

Bola Mata



Selalu tampak bahagia. Hidupku serasa lengkap bersamanya. Bersama dia yang begitu kucintai. Usiaku memang terbilang muda, aku baru menginjakkan kaki pada jejak tahun ke 24ku di dunia ini. Masih muda namun aku merasa hidupku begitu lengkap.

Mereka yang seumuran denganku, banyak yang belum terikat dalam satu tali amanah tuk menjaga hati selamanya. Namun tidak denganku, aku telah menikah. Menikah dengan keadaan terhormat dengan lelaki yang usianya empat tahun lebih tua dariku. Aku sudah menyandang status sebagai seorang istri. Aku sudah punya tanggung jawab berbeda dari sahabat-sahabatku yang belum menikah.

Rasanya sangat bahagia. Takjub, karena kini kumiliknya seutuhnya. Tak ada batasan, tak perlu takut dengan aturan tuk mendekati bahkan berdekatan dengan lebih bahkan sangat lebih. Tak lagi memikirkan resiko bahkan salahkah apa yang kita lakukan. Bagiku ini indah, lebih dari sekedar keindahan remaja yang telah ku lewati.

Kami telah lama pacaran, yah cukup lama bagiku. Tiga tahun. Waktu tiga tahun itu kuhabiskan dengan bersenda gurau, berbagi tentang sikap, kesukaan, bahkan hobi dan juga angan kami ke depan. Semua yang kami utarakan terwujud. Kami berada dalam satu atap, satu pintu, dan satu ranjang.

Seluruh tamu yang hadir saat resepsi kami tersenyum lebar dan tertawa bahagia, semua turut mendukung. Dia lelaki hangat dan santun yang pernah kutemui. Masa pacaran terindah kudapatkan darinya, dan kini pernikan harus menjadi hal yang jauh lebih indah.

Usia pernikahan yang masih dini ini tentu saja perlu dibangun untuk menjadi rumah tangga yang sempurna. Di bangun dengan kasih sayang dan kesetiaan. Aku mendambakan kehadiran seorang anak, namun mungkin belum saatnya. Lagi pula kami bahagia berdua. Menikmati segalanya berdua, serasa pacaran tahap kedua.

"Sayang baunya harum sekali," kata suamiku, Farlan.
"Ini spesial buat kamu, masakanku gak ada duanya," kataku seraya menggoda.
"Luna-ku sayang, dalam hal apapun kamu spesial. Gak ada duanya," mendekap dan mengecup keningku.

Isi rumah ini serasa damai. Aku yakin untuk menikah dengannya, selain karena kita sudah lama kenal, dia mandiri dan juga mapan. Rumah ini dicicilnya jauh sebelum kami menikah. Syukurlah, hanya butuh setahun lagi rumah ini lunas. Dia penuh dengan persiapan. Dia pernah berkata, membahagiakanku bukan hal mudah, butuh proses panjang, dan dia ingin membahagiakanku dengan total, tanpa ada pikiran untuk menyusahkanku. Dia ingin aku sisa duduk manis dalam dekapannya.

Aku tidak berkata dia kaya raya, aku pun tidak menganggap pernikahan kami ini mewah dan kami pasangan kaya. Setidaknya kami bisa saling berbagi. Yah, dia pun mendukung pekerjaanku. Dia senang melihatku berkarir.

Hari-hariku bersamanya terasa begitu hangat. Entahlah, mungkin sindrom pengantin baru. Aku ingin kami begini terus hingga tua. Merasakan bahagia bersama.

***

"Cieh, sobatku," sapa Dina dengan menggoda.
"Kenapa?"
"Gimana nih sama Farlan? Wah, langgeng yah," urainya bahagia.
"Yah, kamu doakan sajalah. Kamu gimana? Kapan mau nyusul?"
"Nantilah, belum dapat yang pas luar dalam," jawabnya dengan nakal.
"Kamu!"

Dina itu sahabatku sejak SMA. Kami sudah lama bersama, dia pun kenal akrab dengan Farlan. Dia sahabatku yang sangat mendukungku dengan Farlan. Dia pun pernah sedikit menggoda, kalau Farlan memang idaman dan buat hatinya pun tergugah tuk diberi pada Farlan.

Yah, bagiku tidak salah. Postur tubuh yang tinggi, alis mata tebal, tatapan tajam, kulitnya yang tidak putih namun tak juga gelap, pesonanya, kuakui dia menarik. Yah, suamiku. Sempurna.

Tiada yang lain. Mata ini hanya tertuju pada Farlan. Hanya dia seorang, aku terus memikul di pundakku, bahwa aku adalah istrinya. Aku punya kewajiban untuknya. Kewajiban untuk selalu menjaga diriku.
Aku dan Dina kini berada dalam satu atap pula, kantor yang sama. Setiap hari bersama berbagi cerita. Sejak SMA kami sama-sama punya ketertarikan dengan fashion hingga memutuskan untuk bekerja di salah satu majalah fashion ternama di kota ini.

Kami selalu berinovasi bersama untuk menciptakan fashion terbaru. Desain yang kami ciptakan pastinya sesuai karakter masing-masing. Tidak jarang aku dan Dina berkeliling untuk mencari referensi gaya terbaru, mengkritisinya, dan mencari solusi untuk menciptakan yang lebih baik dan nyaman.
Menciptakan suatu gaya tentunya butuh riset. Apa yang kami ciptakan bukan semata-mata untuk kami, tetapi untuk orang lain.

Gaya kami memang oke. Saat SMA hingga kuliah, kami terkadang jadi pusat perhatian ketika berdandan saat ke kampus maupun saat SMA. Lengkap dengan aksesoris keluaran terbaru dan tas kami yang gonta-ganti. Bukan berarti kami selebriti kampus yang hanya numpang nge-hedon di area kampus. Sama sekali tidak seperti itu, tapi kami memang di akui cukup fashionable.

***

Malam ini ku terdiam di atas ranjang. Sesekali aku tersenyum sesekali menunduk. Farlan menghampiriku, memelukku, dan kami berciuman.

Ciuman itu begitu hangat, lidahnya terasa menyelami setiap bagian yang ada dalam mulutku, aku merasakan getaran yang luar biasa. Tangannya membelaiku. Ku seka dirinya.

"Kamu kenapa sayang?" tanyanya padaku.
"Aku mau pandangin wajah kamu. Kamu tiap hari makin indah, makin buatku melayang," kataku.
"Sayang, gimana kerjaannya? Baju yang lagi tren untuk sekarang konsepnya gimana sih?"
"Sekarang tuh yah sayang. Majalahku lagi fokus untuk sasaran anak SMA. Pokoknya remaja, jadi konsepnya lebih feminin dengan warna yang soft," kataku.
"Sukses deh mom. Ngomong-ngomong, lama nih kita gak ke bioskop. Nonton yuk!"
"Dengan senang hati cinta."

***

Tiada hari tanpa kata sayang, tiada hari tanpa cumbuan. Semua berjalan begitu indah. Semua kami lewati dengan tawa bahagia. Cinta ini terasa makin besar.

"Tuhan, terima kasih Kau telah kirimkan Farlan untukku."

Laptop dihadapanku terus menyala. Namun ku hanya diam. Khayalan tentang bentuk dan warna sudah tergambar. Namun tak sedikit pun tertoreh di laptop maupun secarik kertas dihadapanku.
Aku merasa membutuhkan Dina. Dia selalu bisa membantuku di saat terjepit tanpa inspirasi dan ide cemerlang. Dia sahabatku yang kreatif. Selalu mampu membantuku. Punya banyak ide dan cara tuk bertahan, bahkan sangat cerdas.

Dia cantik. Senyumnya ramah. Aku menilainya sebagai perempuan manis nan cantik yang terkesan imut.

Aku menang dibentuk tubuh. Aku tinggi, rambutku hitam tergerai panjang dan lembut. Kulitku kuning langsat, mataku sedikit sipit, bibirku tipis, selebihnya biasa saja. Namun banyak yang bilang kalau aku cantik, dan Dina manis.

Dina memang tidak tinggi sepertiku. Tapi dia menarik. Sahabatku.

Kuraih ponsel di dalam tas. Cukup menekan tombol panggilan keluar. Hanya ada tiga nama disana yang selalu menjadi peringkat teratas. Farlan, Mama, dan juga Dina. Dengan segera kuhubungi Dina. Yah, seperti dugaanku. Dia sangat cepat mengangkat telpon. Dia menyuruhku untuk menunggu. Tidak lama lagi dia akan tiba di kantor. Dina sedang berada di optik. Tentunya untuk membeli soft-lense.

Soft-lense memang selalu menghiasi kedua bola matanya. Kerap kali Dina berganti-ganti warna soft-lense. Coklat, abu-abu, hijau, dan juga ungu. Entahlah, sekarang Dina akan membeli warna apa. Apapun itu pastinya sangat cocok dengannya. Warna apapun pas untuknya. Tak lama Dina pun datang. Dengan high-heels pink lembut dia melangkah.

"Kenapa Lun?"
"Bingung nih soal konsepnya, beberapa baju sudah kupasang-pasangkan. Yah, dimatching-matchingin lah untuk pemotretan model nanti. Tapi selebihnya bingung," keluhku.
"Tinggalin aja, nanti biar aku yang kerjain. Kamu pasti capek mikir. Mending istirahat deh,"

Itulah Dina. Rasanya tenang punya sahabat sepertinya. Aku pun beranjak dari kursi. Dina menggantikan posisiku. Dia duduk. Mengibaskan rambut, dan membuka matanya dengan lebar menatap laptop. Spontan.

"Biru yah Din?"
"Hah? Kenapa Lun?"
"Mata kamu?"
"Oh, iya nih. Sekarang pakai warna biru. Keren kan?"
"Iya, birunya bagus. Terang. Pas buat kamu,"
"Biar gelap, mata aku tetap jelas kelihatan. Jadi, kalau kamu nyari aku gelap-gelap. Pasti bakal ketemu kalau aku melek," katanya berusaha ngelawak.
"Kamu, ada-ada aja!"
"Haha, glow in the dark!"

***

Dina kutinggalkan sendiri. Kukatakan padanya aku berjanji pada Farlan tuk cepat pulang. Yah, aku sangat rindu ingin segera pulang. Aku mau jadi yang pertama tiba di rumah. Menyambut kedatangan Farlan dengan senyumanku. Berharap bisa mengobati rasa lelah Farlan.

Jemariku menyentuh gagang pintu. Saat pintu terbuka, sontak aku hampir terjatuh. Farlan mengagetkanku lalu meraih tangan dan tubuhku yang nyaris menyentuh tanah.

"Sayang, hati-hati," katanya.
"Kamu sudah di rumah duluan?"
"Hehe, iya sayang. Tadi pulang cepat. Tahu gak buat apa?"
"Apa coba?"
"Masak buat kamu," jawabnya.

Bibirku merekah tersenyum lebar. Bahagianya, bagiku ini adalah kado. Perasaan ini tak mampu kugambarkan. Aku langsung memeluknya. Ku pikir dia akan marah karena tiba lebih dulu di rumah sebelum aku.

Namun, sama sekali gak ada alasan untuk dia memarahiku. Sebab, aku sudah pulang lebih awal sesuai perjanjian istri setia baginya. Dia pun mendukung kerjaanku, kalau aku lelah dia akan menyuruhku beristirahat dan tidak bekerja. Bila aku harus pulang larut, dia bersedia menjemputku bahkan menemaniku bekerja. Begitupun sebaliknya. Dunia masih milik kita berdua.

"I love you Farlan," kataku.

Senyumnya begitu lembut. Dia menuntunku ke meja makan. Sama sekali tak terbayangkan. Hidangan telah tertata rapi, namun dapur terlihat cukup berantakan. Aku yakin itu karena ulahnya. Mencoba menuangkan ide masakan hingga membuat dapur terlihat tak terurus. Tapi aku suka upayanya. Aku sayang padanya. Padanya yang menaruh bunga di atas ranjang dan senantiasa mengecupku.

Dia memintaku untuk duduk, dia mengambil tas dari tanganku. Farlan meletakkan ta situ di atas sofa. Dia menunduk dan membuka sepatuku, sepertinya dia berencana pulang lebih awal untuk melayaniku, memperlakukanku layaknya Ratu. Dia membantuku membuka jas yang ku kenakan. Dia menyuruhku mencuci tangan dan menarik kursi lalu mempersilahkanku duduk. Manis sekali pernikahan ini.

***

Efek bahagia setelah mencicipi masakan Farlan kemarin. Aku datang ke kantor sambil senyum-senyum sendiri, tidak peduli dengan pandangan sekitar yang akan menganggapku orang gila. Mereka tidak merasakan apa yang kurasa.

Saat langkahku tiba dihadapan laptopku di kantor, Dina sudah duduk manis di sana. Lalu dia berbalik saat melihat aku datang, dia tersenyum lalu memamerkan apa yang sudah dia kerjakan. Aku tidak percaya, semua kerjaanku di selesaikan olehnya. Sahabat yang sangat membantu dan mengerti diriku.
Sepertinya hari ini aku akan lembur, karena besok adalah jadwalku presentasi.

Satu lagi, karena Dina sudah membantuku, hari ini dia harus pulang lebih awal, aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Dia butuh istirahat. Tidak hanya itu, mempersiapkan presentasi besok itu tidak mudah, haruslah sempurna.

Aku mulai menyuruh Dina pindah dari tempatku, aku pun mengucapkan banyak terima kasih padanya.

“Dina, hari ini kamu pulang lebih awal saja. Kamu butuh istirahat ekstra. Biar semuanya saya yang kerjakan sama teman-teman lain,” kataku.
“Lun, gak masalah kalau aku tetap di kantor temani kamu,” katanya dengan begitu baik.

Aku terus membujuknya agar dia pulang lebih awal. Aku tidak enak kalau harus menahannya lagi di kantor dengan begitu lama. Kini giliranku untuk menyelesaikan tanggung jawabku.

Detik demi detik kulewati di kantor bersama teman-temanku yang lain. Satu per satu pekerjaan kuselesaikan. Jas abu-abu yang tadi kukenakan, kini telah kuletakkan rapi di balik kursiku. Lengan tanganku semakin kugulung ke atas mendekati siku. Hal ini kulakukan karena aku merasa semakin gerah mempersiapkan presentasi.

Waktu menunjukkan pukul 23.00, hamper mendekati tengah malam. Aku harus semakin lincah dalam menyelesaikan pekerjaan ini, tidak boleh membuat suami menunggu terlalu lama di rumah walaupun dia begitu mengerti dengan pekerjaanku ini dan telah mengizinkanku pulang larut malam.

Kali ini dia tidak menjemputku. Sudah kukatakan padanya untuk menungguku saja di rumah. Aku tidak ingin membuatnya ikut-ikutan sibuk di tengah kesibukanku, karena dia pun perlu istirahat. Tadi dia membujukku agar aku mau dijemput, namun aku balik membujuk agar dia istirahat. Ku katakan padanya bahwa aku akan pulang sekitar jam 02.00 malam. Tapi keadaan berkata lain, sekarang baru 23.30, pekerjaanku sudah selesai. Dia pasti sedang melihatku tiba lebih awal dari yang kukatakan.

***

Tanpa perlu menghitung hingga ratusan detik, aku sudah tiba di rumah. Entah mengapa keadaan rumah kali ini begitu mistis. Mungkin karena sudah larut. Hanya lampu teras depan yang menyala. Begitu gagang pintu ku pegang, anehnya Farlan tidak mengunci pintu, entah dia lupa atau sengaja agar aku tidak perlu membangunkannya untuk sekedar membukakanku pintu.

Ada satu sepatu yang begitu kukenali di depan sofa ruang tamu, anehnya sepatu ini tidak rapi terletak di rak. Mengapa harus berada di ruang tamu, parahnya itu bukan sepatuku namun begitu kukenali. Hak tipis menghiasi bagian belakang sepatu tersebut.

Kulangkahkan kakiku tepat menuju kamar tidur. Satu hal pasti yang kulihat dari luar, Farlan tidak sendiri dalam kamar. Aku tidak mau menyalakan lampu. Aku tidak mau mengetahui siapa yang menemaninya, bagiku itu sangat sakit. Seperti melukai diri sendiri, menyobek hati sendiri. Lebih baik aku masuk perlahan dan tidak membangunkan mereka.

Rasa tidak percaya menggeluti diriku, rasa marah, ingin menangis, namun di sisi lain, tentang apa semua ini? Apa ini? Mengapa harus seprti ini? Di tengah kuselalu membanggakan dan menyanjungmu dalam setiap paragraf hidup dan hari-hariku.

Kusentuh lengan Farlan, ku tarik tuk benar-benar memastikan bahwa itu dirinya. Yah, tepat sekali, aku tidak salah, dari awal kukatakan ini Farlan dan dia tidak sendiri. Anehnya, begitu Farlan kutarik, perempuan itu lebih dulu terbangun dan terkejut langsung melihat ke arahku. Satu yang pasti. Bola matanya, “BIRU!!”