Sunday, June 28, 2015

Pelantun Lagu Sedih

Merdu tapi sendu
Melayangkan kata berbisik hujan
Kala dia menanyakan kabar
Resah sudah lantunannya

Baitnya berkata mesra
Bibirnya membeku memerah
Kabarnya dia menyerah
Namun kakinya tak henti berpindah

Perpindahannya menjadikannya luka
Menangis hingga meraung seperti singa
Konon hatinya juga bimbang
Kala lantunannya tidak pasti dan menekan

Gaya bicaranya
Tanyakan kabar
Gaya bicaranya
Seperti nyanyian

Berkaca-kaca namun tetap maju
Dia sedih akan langkah yang dia pilih
Dia takut kala semua akan menghilang

Terlalu sedih untuk di dalami
Rangkul lah dia hingga menapaki jalan nyatanya

Wednesday, June 3, 2015

Terik Menyengat

Dalam suatu kaleng yang ia tendang
Ada bunyian nyaring menyentil lorong
Sesaat ia menepis basah yang ada di dahinya
Ia masih bergelut pada lelah dua hari yang lalu

Kaleng yang ia tendang menanyakan keberadaannya
Bukan kalengnya, ternyata isinya
Sentilan pada lorong itu membangunkan manusia yang bergelut dalam keributan
Sesekali ia menatap kaleng yang ia tendang

Bunyi-bunyian itu masih menganggu
Manusia ribut sekitar seolah sangat terganggu
Bunyi-bunyian itu melebarkan ceritanya
Bunyi-bunyian bukan sekedar "ting tong"
Bunyi-bunyian itu memaksa ia berjalan

Tapi ia tetap menendang kaleng itu
Pupus
Lepas hingga kaleng itu rusak

Ia menangis
Tanpa mampu di bedakan keringat dan air matanya
Ia lelah mengekang mimpinya
Hingga ia berbalik menangis
Ia sadar terlalu sering menendang harapannya
Berharap yang ia lalui lebih aman

Matahari sangat terik
Tapi gedung teduh itu tidak ia pilih
Matahari sangat terik
Ia menyesal telah menendang kaleng itu