Saturday, September 19, 2015

Ruang Tanya

Tanda terbesar yang kau paparkan padaku
Mengeryitkan dahi saat kau melihat kelakuan ini
Kau senyum dalam manjanya sebuah sikap

Pada gorden di sebuah kamar ku mengusap telapak tangan ini
Berharap suatu saat dari luar jendela ku melihatmu masuk ke balik pintu

Setiap uap yang akhirnya mengepul ke udara menjadikanku sandaranmu
Ku dekap hangat hingga tak mampu kulepaskan
Kau bersandar pada dada ini
Seolah menyatu pada satu fisik saja tanpa cela

Tak mampu megukur jarak karena sudah terlalu dekat
Pada sebuah gelas di ruang kecil ini kita berbagi cairan
Pada sebuah sendok di ruang kecil ini kita saling bertukar asupan

Kita beradu pada setiap detik keresahan bila tidak bersama
Kita beradu pada kekuatan untuk menahan ketidakbersamaan

Kau dan aku bertanya pada diri masing-masing
Walau lemari kecil itu menyimpan masa lalu
Lacinya selalu terbuka untuk sebuah rasa yang baru

Berilah sedikit menit dalam darah ini
Agar tidak terhapus pada detik penyesalan

Tak Tahu Malu

Lagaknya bak peri yang keenakan
Terang bagai pancaran fajar tapi berbau amis
Dasar kau pecinta wanita!

Kau membawaku dalam gerbong nista
Bagai membiarkan jalan ini keenakan pada dosa yang kau bentuk
Kau saksi pada setiap genggaman
Tapi kau mempertanyakan dan menyinggung kesuciannya

Sudah jelas bahwa ia rela tanpa busana untuk sekedar merasakan lebih dari kecupan
Jelas sudah ia merasakan itu hampir setiap hari

Dia santai saja hingga merasa ketergantungan
Seks bagai adiktif hingga mati di ujung kamar

Kau mencintai wanita?
Kau pamerkan gaya sensualmu dengannya

Kau memang sudah bosan dengan sentuhan nista
Hingga kau menganggap wanita itu suci dan hanya di rusak bukanlah perusak

Friday, September 18, 2015

Fantasi Bukanlah Dosa

Lepaskan
Biarkan saja terkapar pasrah dalam derasnya imajinasi
Mengapa aku harus merasa bersalah atas apa yang aku khayalkan?

Bukankah otak ini sengaja diciptakan agar penuh dunia di dalamnya?
Lalu mengapa kau membatasi khayalanmu?
Biarkan saja
Lepaskan saja

Bebaskan dari aturan dan dinding
Bila tak mampu merealisasikannya
Cukup khayalkan hingga kau jadi bodoh dan mati bersama fantasi

Berdansa tanpa pakaian hingga terjatuh lalu tertawa
Membiarkan tubuh bebas tanpa benang
Berlarian hingga tenggelam

Mengapa ini salah?
Realitas terlalu pahit
Mengekang
Hingga menciptakan batasan-batasan baru yang sama saja artinya dengan aturan

Ku jatuhkan tubuh ini di awan
Ku biarkan dinginnya menjamahku
Ku biarkan udara selimutiku
Hingga kau mendekapku dan menghilangkan hiportemiaku

Thursday, September 10, 2015

Meledak Pahit

Ledakan membangunkanku
Sayang sekali mimpi panjang itu tidak berlanjut
Aku bebas berekspresi dalam mimpi
Melakukan apapun tanpa larangan dan ketakutan
Hanya sadar yang menjadi penghalang
Bangun yang jadi perusak

Ledakan membangunkanku
Saatnya aku bebas
Mencoba bermain bersama realitas
Membiarkannya menyelamiku lebih dalam
Memberikan waktu untuk bersama merasakan nikmat
Namun kenyataan itu siksaan
Aturan masih memenjara kita